Amerika Kecolongan, Pria 34 Tahun Berhasil Obrak-abrik Dunia

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Peter Williams (39) seorang pimpinan perusahaan pembuat alat peretasan dan pengawasan Amerika Serikat (AS) Trenchant diketahui menjual delapan alat ke Rusia. Setidaknya delapan alat dijual dan menghasilkan lebih dari US$1,3 juta (Rp 21,9 miliar) dalam bentuk kripto antara 2022-2025.

Alat tersebut dicurinya dari Trenchat yang merupakan divisi kontraktor pertahanan AS L3Harris. Jaksa penuntut mengatakan delapan alat yang dijual itu dapat melakukan pengawasan pemerintah, kejahatan siber, dan serangan ransomware di seluruh dunia.

Departemen Kehakiman setempat juga mengatakan eksploitasi yang dijual ke Rusia dan pelanggannya bisa membuka akses jutaan komputer dan perangkat termasuk di AS, dikutip dari Tech Crunch, Jumat (13/2/2026).

Dalam isi momerandum, Williams dituntut sembilan tahun penjara dengan tiga tahun masa percobaan. Selain itu juga ganti rugi wajib US$35 juta (Rp 589,5 miliar) dan denda maksimal US$250 ribu (Rp 4,2 miliar).

Diperkirakan Williams yang berwarga negara Australia juga akan dideportasi kembali ke kampung halamannya.

Terkait momerandum itu, Williams mengatakan menyesalkan perbuatannya. Dia juga menyebut tindakannya melanggar nilai yang diyakini dan kepercayaan yang diberikan dari keluarga, kolega dan teman-temannya.

"Saya sadar bahwa telah membiarkan diri saya mengabaikan kewajiban dan pelatihan, dan saya gagal mencari bantuan atau bimbingan saat tahu saya bergerak ke arah salah," ucapnya.

Sementara John P. Rowley yang bertindak sebagai pengacara Williams mengatakan tidak satupun dari alat peretasan itu diklasifikasikan sebagai rahasia. Dia juga mengatakan tidak ada bukti kliennya tahu alat yang dijual untuk pemerintah Rusia atau negara lain.

"Williams tidak bermaksud merugikan AS dan negara asalnya, Australia, meski sekarang dia menyadari itu adalah konsekuensi dari tindakannya," jelas Rowley.

Kabarnya broker Rusia yang dimaksud adalah Operation Zero. Kelompok itu menawar alat peretasan perangkat Android dan iPhone hingga US$20 juta (Rp 336,8 miliar).

Mereka juga mengatakan secara eksplisit hanya menjual kepada pemerintah Rusia dan organisasi lokal saja. Namun pihak Operation Zero tak menanggapi permintaan untuk berkomentar.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |