Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 January 2026 11:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia bersama sejumlah negara ASEAN masih berada dalam kondisi relatif solid pada Desember 2025. Hal tersebut tercermin dari data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang seluruhnya masih bertahan di zona ekspansif.
Menurut Laporan PMI manufkatur yang diterbitkan oleh S&P Global untuk periode Desember 2025, hasilnya menunjukkan PMI Manufaktur ASEAN berada di zona ekspansi dengan sedikit mengalami penurunan dari 53 di November menjadi 52,7 di Desember 2025.
PMI Manufaktur merupakan indikator yang mencerminkan tingkat aktivitas industri suatu negara. Ketika aktivitas manufaktur tetap kuat, kondisi tersebut umumnya mengindikasikan permintaan yang masih terjaga sehingga memberikan sinyal positif bagi prospek perekonomian.
Data PMI kerap dijadikan acuan untuk membaca arah pergerakan ekonomi dan pasar, sekaligus mengidentifikasi peluang ke depan. Negara dengan PMI Manufaktur di atas level 50 dinilai memiliki sektor industri atau manufaktur yang berjalan dengan baik.
Sebaliknya, apabila PMI Manufaktur berada di bawah level 50, kondisi tersebut menandakan aktivitas manufaktur tengah melemah atau berada dalam fase kontraksi.
Maryam Baluch, Ekonom di S&P Global Market Intelligence, menyampaikan bahwa data terbaru menunjukkan sektor manufaktur ASEAN menutup tahun 2025 dengan kinerja yang sangat kuat. Kinerja yang terjaga sepanjang Desember turut mendorong capaian kuartalan terbaik dalam empat tahun terakhir.
Namun, Maryam juga menyoroti adanya tanda-tanda perlambatan momentum.
"Pertumbuhan output dan pesanan baru masih berlanjut, meski dengan laju yang sedikit lebih lunak. Kendati demikian, pertumbuhan secara keseluruhan tetap solid, sehingga mendorong perusahaan untuk meningkatkan aktivitas pembelian serta ekspansi tenaga kerja," ujarnya dikutip dari S&P Global.
Thailand Pimpin Ekspansi Manufaktur Di ASEAN
Thailand kembali menjadi negara dengan kinerja manufaktur paling kuat di antara negara-negara ASEAN. Pada Desember 2025, PMI Manufaktur Thailand naik dari 56,8 pada November menjadi 57,4, sekaligus menjadi level tertinggi di kawasan dan menegaskan ekspansi industri yang masih sangat solid.
Singapura menyusul di posisi berikutnya meski mengalami sedikit perlambatan. PMI Manufaktur Singapura turun dari 55,4 pada November menjadi 54,1 pada Desember, namun tetap bertahan di zona ekspansif dengan aktivitas industri yang relatif kuat.
Sementara itu, PMI Manufaktur Vietnam tercatat melemah dari 53,8 menjadi 53,0 di Desember lalu.
PMI Manufaktur Myanmar turun dari 51,4 menjadi 50,6 di Desember yang sekaligus menjadi level terendah nya dalam empat bulan terakhir. Sedangkan Malaysia stagnan di level 50,1 pada Desember, mencerminkan aktivitas manufaktur yang nyaris datar.
Di sisi lain, Filipina menjadi negara dengan PMI Manufaktur terendah di ASEAN pada Desember 2025. Meski berhasil keluar dari zona kontraksi, PMI Filipina hanya naik ke 50,2 dari 47,4 pada November.
Bagaimana dengan Indonesia?
Aktivitas manufaktur Indonesia pada Desember 2025 masih berada di zona ekspansi, meski menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. PMI Manufaktur Indonesia tercatat turun dari 53,3 pada November menjadi 51,2 pada Desember 2025.
Capaian tersebut menempatkan posisi aktivitas manufaktur Indonesia berada di level menengah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya atau masih berada di bawah Thailand, Singapura, serta Vietnam.
Meski melambat, sektor manufaktur nasional masih mencatatkan ekspansi yang berkelanjutan pada Desember, dengan pertumbuhan terutama ditopang oleh perbaikan pesanan baru.
Dari sisi produksi, perusahaan masih mencatatkan ekspansi secara berlanjut, namun dengan laju pertumbuhan yang lebih lambat. Pendorong utama membaiknya kondisi operasional berasal dari peningkatan pesanan baru yang terus berdatangan.
Perusahaan juga meluncurkan produk baru serta mencatat peningkatan jumlah pelanggan, yang menjadi faktor utama kenaikan penjualan. Data menunjukkan bahwa perbaikan kinerja terutama didorong oleh permintaan pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru kembali menurun untuk bulan keempat berturut-turut.
Kenaikan total pesanan baru tersebut mendorong peningkatan produksi lanjutan, yang menjadi kenaikan kedua secara beruntun. Namun demikian, kelangkaan bahan baku membatasi laju pertumbuhan, sehingga ekspansi output tercatat masih bersifat marginal.
"Perusahaan mencatat ekspansi moderat lanjutan pada pesanan baru, ketenagakerjaan, dan pembelian, meskipun produksi hanya meningkat secara marginal karena sebagian perusahaan merasakan dampak kelangkaan bahan baku," jelas Usamah Bhatti, Ekonom di S&P Global Market Intelligence, dikutip dari situs resmi S&P.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







