Asbes Jadi Sumber Petaka, 4.000 Orang Mati di Kota Beracun Ini

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Wittenoom, sekitar 1.600 kilometer di utara Perth, dikenal sebagai lokasi salah satu bencana industri terbesar di Australia. Tambang asbes di kawasan itu dikaitkan dengan sekitar 4.000 kematian akibat penyakit terkait paparan serat berbahaya tersebut.

Pemerintah Australia Barat telah menutup kota itu dan merobohkan bangunan-bangunan yang tersisa karena tingginya risiko kesehatan. Akses ke lokasi dilarang dan pelanggar bisa dikenakan denda hingga 500 dolar Australia.

Kepala eksekutif Asbestos Disease Society of Australia, Melita Markey, menyatakan paparan asbes tidak bisa ditarik kembali.

Anehnya, meski tahu kota tersebut beracun, seorang travel blogger asal Queensland justru mengunjungi bekas kota tambang asbes Wittenoom di Australia Barat bersama putrinya yang masih berusia empat tahun. Kunjungan tersebut direkam dan diunggah ke media sosial serta kanal YouTube miliknya yang memicu kecaman dari pegiat kesehatan akibat risiko paparan asbes mematikan.

"Sebagai orang tua, sebagai ibu, pemandangan ini sangat menyedihkan," ujarnya menanggapi kunjungan tersebut, dikutip dari ABC News, Jumat (13/2/2026).

Ia menegaskan, seseorang tidak perlu lama berada di lokasi untuk menghirup serat crocidolite, jenis asbes biru yang sangat berbahaya dan tak terlihat oleh mata telanjang. Bahkan, sejumlah joki yang hanya beberapa kali menghadiri balapan di Wittenoom dilaporkan kemudian meninggal akibat penyakit terkait asbes, dengan lokasi itu menjadi satu-satunya sumber paparan yang diketahui.

Tambang asbes di sana memang ditutup pada 1966, tetapi kota tersebut tetap beroperasi selama beberapa dekade setelahnya. Sekolah baru ditutup pada 1985 dan balapan kuda masih digelar hingga 1991.

Markey juga mengingatkan, di Australia terdapat remaja yang menderita mesothelioma, kanker langka yang berkaitan langsung dengan paparan asbes. Meski masih ada wisatawan yang nekat datang, pemerintah Australia Barat menyatakan tidak berencana menambah patroli atau pengamanan.

Departemen Perencanaan, Pertanahan, dan Warisan setempat menegaskan, akses tetap dilarang dan masyarakat diminta mematuhi rambu peringatan demi keselamatan. Polisi Australia Barat juga menyampaikan kekhawatiran, promosi di media sosial dapat mendorong lebih banyak orang untuk berkunjung.

Mereka menegaskan Wittenoom bukan destinasi wisata dan risiko kesehatannya signifikan serta bersifat permanen. "Melakukan hal itu akan membuat individu terpapar risiko kesehatan serius yang terkait dengan kontaminasi kontaminasi asbes," kata mereka.

"Kontaminasi di Wittenoom bersifat permanen, dan risikonya terhadap kesehatan sangat signifikan," tambahnya.

Risiko yang Diperhitungkan

Sang blogger, Ronelle Fotinis, mengaku tertarik mengunjungi tempat yang dianggap tidak biasa dan membandingkan Wittenoom dengan versi Australia dari Chernobyl. Ia bilang, telah mengambil langkah pencegahan, seperti tidak keluar dari mobil, menutup jendela, serta mengatur pendingin udara dalam mode sirkulasi ulang.

"Saya tidak pernah keluar dari mobil. Kami tidak menyentuh tanah atau apa pun di sana," katanya.

Namun ia juga mengakui, dalam penyesalan, seharusnya tidak membawa putrinya ke lokasi tersebut. Fotinis menyebut akses ke area terlarang relatif mudah dilewati dan saat itu ada kendaraan lain yang juga masuk. Ia mengaku tidak menyesal berkunjung, tetapi memastikan tidak akan kembali.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |