Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
18 January 2026 10:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta investasi global mengalami pergeseran signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dilihat dalam jangka panjang, aset berisiko tinggi memang mendominasi keuntungan.
Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020, justru aset "safe haven" atau pelindung nilai seperti emas yang mencatatkan kinerja paling gemilang, mengalahkan saham dan properti.
Berdasarkan data terbaru riset Goldman Sachs per September 2025, terlihat jelas perbedaan tren imbal hasil antar kelas aset dalam tiga periode berbeda, yakni jangka panjang (1990-2025), pasca krisis finansial (2010-2025), dan siklus terbaru pasca pandemi (2020-2025).
Data ini memberikan gambaran penting bagi investor untuk mengatur strategi portofolio mereka di tengah ketidakpastian ekonomi.
Emas Jadi Juara Sejak Pandemi
Sejak tahun 2020 hingga 2025, emas menempati peringkat pertama sebagai aset dengan kinerja terbaik. Logam mulia ini memberikan imbal hasil tahunan rata-rata (annualized return) sebesar 18,4%.
Kenaikan harga emas didorong oleh tingginya inflasi global, risiko geopolitik, dan kecenderungan investor mencari aset aman di tengah gejolak pasar. Angka ini melampaui kinerja saham global yang berada di posisi kedua dengan imbal hasil 12,5% per tahun.
Sebaliknya, periode ini menjadi masa yang sulit bagi pasar surat utang atau obligasi. Kenaikan suku bunga yang agresif oleh bank sentral di seluruh dunia membuat harga obligasi pemerintah tertekan hingga mencatat kinerja negatif minus 1,1%.
Sektor properti juga tumbuh sangat lambat, hanya memberikan imbal hasil 1,9% per tahun, akibat tingginya bunga hipotek yang menahan permintaan perumahan di pasar utama dunia.
Dominasi Pasar Privat di Jangka Panjang
Jika ditarik dalam rentang waktu yang lebih luas selama 35 tahun terakhir (1990-2025), pemenangnya berbeda. Pasar privat (private markets)-investasi pada perusahaan yang tidak melantai di bursa publik-mencatatkan kinerja terkuat dengan rata-rata keuntungan tahunan 10,5%.
Saham global menyusul di posisi kedua dengan rata-rata imbal hasil 8,1% per tahun dalam periode yang sama.
Namun, tingginya keuntungan di pasar privat dibarengi dengan risiko yang besar. Data menunjukkan bahwa pasar privat memiliki tingkat volatilitas atau fluktuasi harga tertinggi dibandingkan aset lainnya, mencapai lebih dari 21%.
Ini menegaskan prinsip investasi bahwa potensi keuntungan tinggi selalu berbanding lurus dengan risiko ketidakstabilan harga yang harus dihadapi investor.
Tantangan Bagi Obligasi dan Properti
Data tersebut juga menyoroti bagaimana kondisi makroekonomi sangat mempengaruhi kinerja aset pendapatan tetap. Dalam lima tahun terakhir, kombinasi inflasi tinggi dan utang negara yang menumpuk memberikan tekanan berat pada harga obligasi pemerintah. Meskipun obligasi korporasi masih memberikan hasil positif tipis sebesar 1,3%, angka tersebut jauh di bawah rata-rata historisnya.
Sementara itu, real estate atau properti yang biasanya menjadi andalan investasi jangka panjang, kini terlihat tertinggal dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Dengan imbal hasil yang jauh di bawah emas dan saham dalam siklus pasca pandemi, investor properti dihadapkan pada tantangan biaya pinjaman yang mahal. Secara keseluruhan, diversifikasi atau memecah dana ke berbagai instrumen tetap menjadi kunci untuk menghadapi perubahan siklus ekonomi yang dinamis.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5248785/original/070439600_1749619357-000_49TH2TP.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5144845/original/022421200_1740645722-Timnas_Indonesia_-_Trio_Calon_Pemain_Naturalisasi_Timnas_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362971/original/078040500_1758878372-Persita_Tangerang_Vs_Persib_Bandung.jpg)