Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
18 June 2026 09:42
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung beragam pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Tekanan kembali datang setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), mulai lebih hawkish.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.25 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak lima mata uang melemah, sementara lima lainnya menguat terhadap dolar AS.
Tekanan paling berat pagi ini menimpa rupiah. Mata uang Garuda melemah 0,73% ke posisi Rp17.860/US$, sekaligus menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di Asia. Posisi tersebut membuat rupiah kembali menembus level Rp17.800/US$.
Di bawah rupiah, ringgit Malaysia ikut tertekan cukup dalam dengan pelemahan 0,49% ke posisi MYR 4,085/US$. Peso Filipina juga masuk zona merah setelah terkoreksi 0,23% ke PHP 60,531/US$.
Pelemahan turut dialami dong Vietnam yang turun 0,21% ke posisi VND 26.319/US$. Sementara itu, tekanan pada yuan China relatif lebih terbatas dengan koreksi 0,08% ke CNY 6,7632/US$.
Namun, tidak semua mata uang Asia melemah. Won Korea Selatan justru menjadi yang paling kuat pada pagi ini setelah menguat 0,22% ke posisi KRW 1.523,82/US$.
Dolar Taiwan juga bergerak positif dengan kenaikan 0,20% ke TWD 31,56/US$. Penguatan lebih tipis terlihat pada dolar Singapura yang naik 0,10% ke SGD 1,286/US$, disusul baht Thailand yang menguat 0,09% ke THB 32,64/US$.
Yen Jepang turut bertahan di zona hijau, meski hanya menguat tipis 0,01% ke posisi JPY 160,62/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,21% ke posisi 100,299 pada waktu yang sama. Penguatan ini melanjutkan tekanan dari perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (17/6/2026), DXY ditutup melesat 0,55% setelah hasil FOMC memberi sinyal The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga.
The Fed memang mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat Rabu waktu setempat. Namun, sikap bank sentral AS terlihat lebih hawkish karena pembuat kebijakan mulai melihat peluang kenaikan Fed Fund Rate pada tahun ini.
Proyeksi kuartalan terbaru menunjukkan sembilan pejabat The Fed kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga hingga akhir 2026. Selain itu, pernyataan kebijakan terbaru juga menghapus bahasa yang sebelumnya memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga lanjutan pada 2026.
Sikap tersebut muncul ketika data ekonomi AS masih menunjukkan kondisi yang cukup kuat. Pasar tenaga kerja AS masih solid, tingkat pengangguran bertahan rendah di 4,3%, sementara inflasi masih berada jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, dalam konferensi pers perdananya juga menyinggung perubahan cara komunikasi bank sentral kepada publik, termasuk soal dot plot atau proyeksi suku bunga para pejabat The Fed. Warsh menyebut proyeksi tersebut ditulis dengan pensil yang memiliki penghapus besar. Dia menambahkan para pembuat kebijakan tidak merasa terikat sepenuhnya dengan proyeksi masing-masing.
Sinyal The Fed yang lebih hawkish membuat imbal hasil obligasi AS naik, terutama tenor dua tahun yang sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari setahun. Kondisi ini ikut memperkuat dolar AS dan menekan ruang gerak mata uang negara lain, termasuk Asia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)

















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506324/original/047698600_1771428617-1000366559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)