Susi Setiawati, CNBC Indonesia
07 January 2026 08:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi saling caplok mencaplok sampai menyatukan diri antar perusahaan makin ramai pada awal 2026.
Sejumlah emiten tercatat mulai membuka rencana, menjalankan proses, hingga menjajaki aksi korporasi yang berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Bentuknya beragam, mulai dari pengambilalihan saham, akuisisi aset strategis, hingga ekspansi ke lini usaha baru.
Isu aksi caplok-mencaplok ini datang dari berbagai sektor, seperti pelayaran, energi, dan pertambangan. Meski sebagian masih berada pada tahap negosiasi awal, pemenuhan persyaratan, hingga sekadar berkembang sebagai rumor pasar, perhatian investor terhadap potensi transaksi tersebut cukup tinggi. CNBC Indonesia pun merangkum sejumlah emiten yang ramai dikaitkan dengan aktivitas merger dan akuisisi di awal 2026.
PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY)
PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY) menjadi salah satu saham yang mencuri perhatian menyusul kabar rencana pengambilalihan oleh perusahaan lain yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pelaku pasar, calon pengakuisisi disebut merupakan emiten BEI. Nilai transaksi dikabarkan setara dengan valuasi kapitalisasi pasar sekitar Rp2 triliun, lebih tinggi dibandingkan market cap NELY saat ini yang berada di kisaran Rp1,09 triliun. Penyelesaian transaksi disebut ditargetkan pada kuartal I/2026. Apabila akuisisi dilakukan atas saham mayoritas, aksi ini berpotensi memicu perubahan pengendali serta kewajiban pelaksanaan tender offer.
PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA)
Selanjutnya, PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) tengah menyiapkan rencana akuisisi saham PT Trimata Coal Perkasa. Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian bersyarat antara pemegang saham pengendali MEJA, PT Triple Berkah Bersama, dan pemegang saham pengendali Trimata Coal Perkasa pada 22 Desember 2025.
Dalam kesepakatan itu, disepakati pengambilalihan 45% saham pengendali dengan nilai transaksi mencapai Rp1,6 triliun, yang akan direalisasikan secara bertahap sesuai ketentuan pasar modal.
Trimata Coal Perkasa memiliki konsesi tambang batubara seluas sekitar 11.640 hektare di Sumatera Selatan, dengan estimasi sumber daya tertambang sekitar 693,7 juta ton, serta izin produksi periode 2024-2026 dengan total volume 2,6 juta ton.
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
Sementara itu, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) masih melanjutkan proses rencana transaksi akuisisi yang sebelumnya ditargetkan rampung pada 23 Desember 2025.
Mengacu pada ketentuan perjanjian jual beli bersyarat, para pihak sepakat memperpanjang batas waktu penyelesaian transaksi selama tiga bulan hingga paling lambat 23 Maret 2026. Perpanjangan ini dilakukan seiring masih berlangsungnya pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan.
Aksi korporasi tersebut melibatkan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi 99,99% saham PT Arafura Surya Alam (ASA) dari grup PSAB, dengan nilai transaksi yang mencakup enterprise value sebesar US$540 juta.
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga mengungkapkan tengah menyelesaikan proses negosiasi serta uji tuntas atas sejumlah proyek strategis. Rencana tersebut mencakup akuisisi dua perusahaan pelayaran yang memiliki aset operasional berupa dua unit Liquefied Natural Gas Carrier (LNGC) dan satu unit Very Large Gas Carrier (VLGC), serta penjajakan investasi infrastruktur hilir migas di kawasan Indonesia Timur.
Selain itu, perseroan tengah menyelesaikan studi kelayakan pembangunan LNG Terminal di Banten dan LNG Plant di Kalimantan. RAJA juga berencana melakukan uji tuntas atas rencana akuisisi pembangkit listrik tenaga air dan biomassa sebagai bagian dari pengembangan portofolio energi bersih.
Manajemen menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut sejalan dengan visi jangka panjang perseroan untuk menjadi perusahaan energi terintegrasi yang mendukung transisi energi berkelanjutan.
PT Agung Menjangan Mas Tbk. (AMMS)
PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS) juga mengumumkan update terkait akuisisi dan terkini telah resmi memiliki pengendali baru.
Dalam keterbukaan informasi, emiten budidaya ikan dan tambak udang itu menyampaikan bahwa kini pemiliknya adalah Radiant Ruby Company Ltd. asal British Virgin Island.
Hal ini resmi usai Radiant menyelesaikan transaksi pengambilalihan atas 599.563.869 saham AMMS milik PT Mandara Mas Semesta dan 30.437.500 saham AMMS milik Hartono Limmantoro pada 24 Desember 2025 lalu.
Pengambilalihan tersebut mengakibatkan Radiant menjadi pengendali baru AMMS dengan kepemilikan sebesar 630.001.369 saham yang pada tanggal pemberitahuan ini mewakili sekitar 51,00% dari total saham.
Harga pengambilalihan per saham adalah sebesar Rp30,00, dengan jumlah total nilai pengambilalihan sebesar Rp18.900.041.070.
Direktur Radiant, Brian Limiardi mengatakan tujuan dari aksi akuisisi ini adalah untuk mendorong pertumbuhan eksponensial kinerja dan bisnis, di mana AMMS akan mengambil peran di industri aset keuangan digital melalui pengembangan produk teknologi berbasis aset digital.
"Termasuk skema digitalisasi atau representasi aset (antara lain instrumen berbasis token) sesuai regulasi yang berlaku serta program edukasi terkait produk dan keuangan digital secara business to business bagi pelaku usaha dan calon investor," kata Brian dalam keterbukaan informasi yang dikutip Selasa (6/1/2026).
Adapun Radiant Ruby merupakan perusahaan investasi yang baru berdiri pada September 2025 lalu. Perusahaan itu beralamat di Craigmuir Chambers, Road Town Tortola, VG 1110, British Virgin Island.
Radiant dikendalikan oleh Brian dengan kepemilikan saham mayoritas, yakni sebesar 52,6%. Sisa 47,4% dipegang oleh David Wiratama Batubara. Keduanya tercatat sebagai pengendali dan pemilik manfaat akhir yang sebelum transaksi tidak memiliki hubungan afiliasi dengan AMMS.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







