Benarkah Warga RI Doyan Mobil Listrik Sampai Tak Peduli SPKLU Kurang?

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Penggunaan mobil listrik di Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan dari sisi harga dan baterai. Kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar bepergian jauh juga menjadi tantangan tersendiri, terutama terhadap kesiapan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik.

Pengamat otomotif Bebin Djuana mengatakan jarak tempuh sebenarnya bukan persoalan besar untuk penggunaan mobil listrik sehari-hari. Sebab, kebutuhan perjalanan harian konsumen umumnya masih berada pada jarak yang relatif pendek.

"Untuk jarak tempuh, ini sedikit berbeda bagi konsumen Indonesia. Karena untuk penggunaan sehari-hari mungkin 50 sampai 100 kilometer," kata Bebin kepada CNBC Indonesia, Senin (21/9/26). Sebagai gambaran, 100 km setidaknya jarak tempuh dari Jakarta ke Bandung. 

Namun, konsumen Indonesia memiliki kebiasaan bepergian atau jalan-jalan menggunakan mobil, terutama ketika mendapatkan waktu libur.

"Tetapi konsumen Indonesia suka bepergian. Ketika hari Jumat libur" ujarnya.

Bebin kemudian menggambarkan kondisi jalan tol ketika masyarakat bepergian secara bersamaan pada masa liburan. Kepadatan kendaraan dapat berlangsung sangat lama.

"Lalu Anda akan mendengar dari media sosial bahwa gerbang tol penuh, mobil ada di mana-mana, selama 24 jam," kata Bebin.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan fasilitas pengisian daya publik apabila jumlah mobil listrik yang melakukan perjalanan jauh meningkat.

"Apakah fasilitas pengisian daya publik siap untuk melayani begitu banyak mobil?" ujarnya.

Adapun karakter konsumen Indonesia yang tetap ingin bepergian membuat persoalan ketersediaan fasilitas pengisian daya menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Sehingga pertumbuhan kendaraan listrik tidak hanya membutuhkan peningkatan jumlah kendaraan, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung, khususnya infrastruktur pengisian daya untuk perjalanan jarak jauh.

"Tetapi mereka tidak peduli. Mereka tetap berangkat. Ya, itulah konsumen Indonesia," kata Bebin.

Bahkan, konsumen Indonesia dapat menerima konsekuensi harus menunggu cukup lama untuk mengisi baterai kendaraan mereka.

"Dan mereka bahkan rela menginap satu malam hanya untuk mengisi daya mobilnya sampai penuh," ujarnya.

Seperti diketahui, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales kelompok mobil berbahan bakar bensin yang terdiri dari LCGC, mobil penumpang ICE non-LCGC, dan kendaraan komersial mencapai 54.683 unit pada Agustus 2026. Angka ini turun 4,34% dibandingkan Juli yang mencapai 57.166 unit.

Pada periode yang sama, penjualan mobil listrik murni justru mencatat lonjakan. Distribusi BEV dari pabrik ke dealer meningkat dari 13.972 unit pada Juli menjadi 17.413 unit pada Agustus 2026, atau tumbuh 24,63% hanya dalam satu bulan.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |