Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
31 March 2026 13:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Rantai panjang bisnis berlian global mulai retak dari hulu.
Melansir dari rilis resmi Rio Tinto, tambang Diavik milik Rio Tinto di Kanada menghentikan produksi setelah 23 tahun beroperasi dan menghasilkan lebih dari 150 juta karat. Penutupan penuh masih berlanjut hingga 2029, tetapi produksi sudah berakhir pada 2026. Keputusan ini datang saat industri menghadapi tekanan harga, perubahan perilaku konsumen, dan masuknya pesaing berbasis teknologi.
Tambang Diavik pernah menjadi simbol kemampuan industri menaklukkan kondisi ekstrem. Lokasinya berada di bawah danau beku di wilayah Northwest Territories, sekitar 200 kilometer dari Lingkar Arktik. Produksi dimulai pada 2003 setelah penemuan pada 1991.
Berlian yang dihasilkan didominasi kualitas tinggi dengan sebagian kecil batu kuning langka. Setelah cadangan ekonomis menipis, operasi dihentikan. Rio Tinto sebelumnya juga menutup tambang Argyle di Australia pada 2020 setelah menghasilkan lebih dari 865 juta karat.
Selain Rio Tinto, gelombang penutupan tambang juga terjadi di pemain besar lain dalam industri berlian global.
De Beers, yang selama puluhan tahun menjadi simbol dominasi berlian dunia, telah lebih dulu menutup sejumlah tambang penting. Tambang Snap Lake di Kanada dihentikan pada 2015 karena tidak lagi ekonomis, disusul Victor Mine pada 2019, serta Voorspoed di Afrika Selatan pada 2018 setelah gagal dijual.
Langkah ini menunjukkan bahwa bahkan pemain terbesar pun tidak kebal terhadap tekanan industri, mulai dari melemahnya harga hingga perubahan permintaan.
Tekanan tersebut juga tercermin pada induk usaha De Beers, Anglo American. Perusahaan ini tidak secara langsung menutup tambang, namun mulai mengurangi eksposur terhadap sektor berlian dan bahkan sempat mempertimbangkan untuk melepas bisnis De Beers.
Sinyal ini cukup jelas: dibandingkan komoditas lain seperti tembaga yang dibutuhkan untuk transisi energi, berlian dinilai semakin kurang menarik dari sisi investasi.
Di luar pemain besar, tekanan juga dirasakan oleh operator tambang yang lebih kecil. Banyak proyek dihentikan atau masuk fase care and maintenance, seiring kombinasi tiga faktor utama: harga berlian yang terus melemah, meningkatnya persaingan dari berlian sintetis, serta cadangan yang semakin menipis.
Penurunan bisnis berlian tidak berdiri sendiri, pasar berlian alami mengalami kelebihan pasokan dalam beberapa tahun terakhir. Harga melemah sejak puncak 2022. Di Amerika Serikat, harga berlian alami satu karat turun sekitar sepertiga. Di sisi lain, penjualan tidak lagi tumbuh seperti sebelumnya, terutama pada segmen menengah.
Tersaingi Buatan Manusia
Perubahan paling terasa datang dari sisi permintaan. Konsumen mulai beralih ke berlian sintetis. Sekitar setengah cincin pertunangan di Amerika Serikat kini menggunakan batu hasil laboratorium. Pergeseran ini mengubah struktur pasar yang selama puluhan tahun dibangun di atas narasi kelangkaan.
Secara teknis, berlian sintetis memiliki komposisi yang sama dengan berlian alami. Proses pembuatannya menggunakan metode High Pressure High Temperature (HPHT) atau Chemical Vapor Deposition (CVD). Waktu produksi hanya beberapa minggu hingga bulan. Berlian alami terbentuk miliaran tahun di dalam mantel bumi dan naik ke permukaan melalui aktivitas vulkanik.
Sisi biaya dan skala produks i merupakan pembeda utama. Berlian sintetis dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan harga jauh lebih rendah. Sebagai gambaran, sebuah berlian lab 2,5 karat dijual sekitar £1.880, sementara berlian alami dengan ukuran sedikit lebih kecil bisa mencapai £26.255. Selisih harga ini mengubah cara konsumen menilai produk.
Tekanan harga semakin dalam karena suplai berlian sintetis terus meningkat. Produksi global didominasi China, diikuti India dan Amerika Serikat.
Dengan kapasitas produksi yang bisa ditingkatkan, tidak ada batasan pasokan seperti pada tambang alami. Harga berlian sintetis bahkan turun sekitar 75% dalam periode 2020-2025.
Dampaknya merambat ke negara produsen. Botswana, yang bergantung pada berlian untuk sekitar sepertiga pendapatan negara dan devisa, mulai merasakan tekanan fiskal. Penurunan harga memukul anggaran dan memicu penyesuaian kebijakan. Industri yang sebelumnya menopang pembangunan kini menghadapi ketidakpastian.
Mengapa Emas Masih Lebih Bertahan
Berbeda dengan berlian, emas menunjukkan daya tahan yang lebih kuat. Struktur pasarnya berbeda. Emas memiliki fungsi sebagai aset lindung nilai dan bagian dari cadangan bank sentral.
Permintaan datang dari investor, industri, hingga sektor moneter. Berlian tidak memiliki fungsi moneter dan sangat bergantung pada persepsi nilai serta permintaan perhiasan. Saat persepsi berubah, harga ikut terkoreksi.
Perubahan ini menempatkan industri berlian dalam fase transisi. Dari sistem berbasis kelangkaan alam menuju produksi berbasis teknologi. Tambang seperti Diavik menjadi penanda bahwa pasokan fisik bukan lagi faktor dominan. Harga kini bergerak mengikuti efisiensi produksi dan preferensi konsumen.
Dalam struktur baru ini, berlian kehilangan satu fondasi utamanya- keterbatasan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)

