Jakarta, CNBC Indonesia - Laurent Simons, peneliti berusia 15 tahun, meraih gelar PhD dalam fisika kuantum dari University of Antwerp. Gelar ini ia pandang bukan sebagai puncak, melainkan langkah awal menuju ambisi yang jauh lebih besar, yakni memperpanjang usia sehat manusia melalui peningkatan biologi.
Catatan universitas mencantumkan bahwa ia menjalani ujian terbuka dan mempertahankan disertasinya pada 17 November 2025.
Media lokal menempatkannya sebagai penerima gelar doktor termuda di negara tersebut.
Meski perbandingan umur antarnegara kerap menimbulkan bias akibat perbedaan struktur pendidikan, linimasa akademik Simons dinilai jelas dan terdokumentasi. Ia menyelesaikan pendidikan menengah pada usia 8 tahun dan menuntaskan program sarjana tiga tahun hanya dalam delapan belas bulan.
Dalam disertasinya, Simons meneliti Bose polarons pada sistem supersolid dan superfluid. Risetnya membahas perilaku ketidakmurnian dalam supersolid dipolar satu dimensi menggunakan pendekatan variational untuk memetakan energi, ukuran, dan dinamika partikel pada kondisi ultra-dingin.
Fenomena supersolid sendiri merupakan fase materi langka yang menggabungkan keteraturan kristal dengan aliran superfluid. Eksperimen fisika kuantum telah mengamati fase ini dalam gas dipolar, sehingga riset Simons tidak hanya bersifat teoretis, tetapi memiliki landasan eksperimen.
Simons mengatakan bahwa langkah berikutnya adalah riset tentang perpanjangan usia sehat manusia.
"Setelah ini, saya akan mulai bekerja mengejar tujuan saya: menciptakan 'manusia super'," ujar Simons, dikutip dari Earth.co, Kamis (8/1/2026).
Keluarga Simons menolak tawaran perusahaan teknologi dari AS dan China, dan menempatkan fokus pada penelitian medis ketimbang dunia komersial. Ia sebelumnya menjalani magang di Munich, mempelajari optik kuantum, dan mulai menautkan fisika dengan aplikasi klinis.
Setelah meraih PhD fisika, ia langsung memulai program doktor kedua di Munich dalam sains medis dengan kecerdasan buatan. Bidang tersebut memanfaatkan AI untuk membaca sinyal biologis, membuka peluang deteksi dini penyakit hingga personalisasi terapi.
Pengembangan teknologi longevity diperkirakan tidak instan. Inovasi harus melewati uji klinis ketat, validasi eksternal, dan prosedur keamanan sebelum diterapkan.
Simons sempat menjadi viral sebagai "doktor termuda", namun para akademisi mengingatkan bahwa gelar tidak dapat dibandingkan secara linier antarnegara. Yang dapat diverifikasi adalah catatan universitas dan publikasi ilmiahnya.
Selain itu, ambisi Simons tidak lepas dari tantangan etis. Peningkatan biologi memunculkan pertanyaan tentang akses, kesetaraan, dan distribusi manfaat medis. Komunitas sains menilai bahwa kemajuan hanya mungkin terjadi melalui kolaborasi lintas universitas, replikasi eksperimen, dan transparansi rise
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











