Brasil Sukses, RI Belum: Bukan Tidak Mungkin, Tapi Perlu Konsistensi

3 hours ago 2

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Jika ingin melihat contoh keberhasilan pengembangan bioetanol, cukup lihat Brasil. Negara di Amerika Selatan itu telah konsisten memproduksi bioetanol selama lebih dari 30 tahun, dan hasilnya tidak perlu diragukan lagi.

Pada tahun 2023, Brasil menghasilkan 32 miliar liter bioetanol dari tebu dan 6 miliar liter dari jagung. Total 38 miliar liter dalam satu tahun. Angka ini merupakan buah hasil dari kebijakan yang konsisten, teknologi yang terus diperbarui, dan integrasi yang solid antara pertanian, industri gula, dan pabrik bioetanol.

Bagaimana dengan Indonesia? Tebu juga tumbuh di sini, lahan juga tersedia, dan Indonesia bahkan pernah menjadi salah satu produsen gula terbesar dunia. Namun produksi bioetanol nasional baru mencapai 40 juta liter per tahun. Dengan kata lain, Brasil memproduksi 950 kali lipat dari Indonesia.

Konsistensi: Perbedaan Utama Brasil dan Indonesia
Mengapa Brasil bisa, sementara Indonesia belum? Jawabannya sederhana: konsistensi. Brasil memulai program bioetanol mereka pada tahun 1975, dan sejak saat itu mereka tidak pernah berhenti, berganti haluan, atau mengurangi komitmen. Setiap pergantian presiden dan perubahan pemerintahan, program ini terus berjalan.

Di Indonesia, situasinya berbeda. Kebijakan energi sering berubah mengikuti pergantian menteri atau kabinet. Setiap kali pemerintahan baru hadir, program lama sering ditinggalkan dan diganti dengan program baru yang dimulai dari nol lagi, tanpa pernah ada keberlanjutan yang membangun.

Tiga Faktor Kunci Keberhasilan Brasil
Tiga faktor kunci keberhasilan Brasil layak dicatat. Pertama, pemerintah Brasil menjamin pembelian bioetanol melalui Petrobras, badan usaha milik negara Brasil. Produsen tidak perlu khawatir tentang pasar. Mereka tahu bahwa apapun yang mereka produksi akan dibeli.

Kedua, industri bioetanol mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah dari bank-bank pembangunan. Ketiga, pemerintah menentukan harga bensin dan etanol yang dijual di pasaran, menciptakan kepastian bagi konsumen dan produsen sekaligus.

Indonesia sebenarnya sudah mulai mengikuti jejak ini dengan adanya Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol yang ditetapkan Kementerian ESDM. Namun satu kebijakan tanpa dua pilar lainnya belum cukup, karena jaminan pembelian masih belum jelas kepastiannya, sementara pinjaman dengan bunga rendah untuk industri bioetanol juga belum tersedia secara luas.

Indonesia tidak perlu meniru Brasil secara membabi buta, karena kondisi geografis, struktur industri, dan budaya politik kita berbeda. Namun tentu prinsip-prinsip dasarnya tetap bisa diadaptasi. Tiga prinsip itu adalah kepastian pasar, akses pembiayaan murah, dan mekanisme harga yang adil. Yang selama ini paling kurang adalah kepastian pasar.

Efisiensi Lahan: Pelajaran dari Brasil
Pada tahun 1975, produktivitas lahan tebu di Brazil hanya 2.029 liter bioetanol per hektare. Pada tahun 2004 meningkat menjadi 5.917 liter per hektare. Dan pada tahun 2023, mencapai 8.000 hingga 9.000 liter per hektare. Perkembangan ini didorong oleh pengembangan bioteknologi yang menghasilkan lebih dari 500 varietas tebu yang lebih tahan terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim.

Di Indonesia, produktivitas lahan tebu masih jauh di bawah itu. Indonesia perlu segera membangun lembaga riset tebu nasional yang fokus pada pengembangan varietas unggul yang sesuai dengan iklim dan tanah Indonesia. Libatkan perguruan tinggi dan lembaga riset yang sudah ada, seperti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) di Pasuruan. Berikan mereka anggaran yang memadai dan target yang jelas.

Skema Pembiayaan dan Wilayah Percontohan
Hal penting lainnya adalah membangun skema pembiayaan khusus bagi petani dan koperasi yang ingin beralih ke tebu untuk bioetanol, karena petani seharusnya tidak menanggung risiko sendirian. Pemerintah bisa menjembatani dengan skema bagi hasil atau kredit lunak berbunga rendah, bank BUMN seperti BRI dan Mandiri bisa dilibatkan untuk memberikan pembiayaan dengan persyaratan yang ramah petani.

Langkah krusial berikutnya adalah memulai dari satu wilayah percontohan. Pilih satu kabupaten di Jawa Timur atau Lampung yang sudah memiliki pabrik gula dan potensi tebu besar, jadikan wilayah ini sebagai model untuk membuktikan bahwa program bioetanol bisa berjalan di Indonesia.

Setelah berhasil, replikasi ke wilayah lain secara bertahap. Selain itu, perkebunan tebu perlu dikembangkan secara terintegrasi dengan industri gula, bioetanol, dan pembangkit listrik biomassa, serta melibatkan kolaborasi antara BUMN, swasta, dan masyarakat setempat.

Keberhasilan Brasil tidak datang dalam semalam. Butuh tiga dekade konsistensi. Tapi pertanyaannya: kapan Indonesia akan mulai? Apakah kita akan terus menjadi penonton yang kagum pada keberhasilan negara lain, atau akhirnya ikut bermain dan menang?


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |