Breaking News! Dolar AS Naik ke Rp17.950 Pagi Ini

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (25/6/2026).

Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka melemah 0,14% ke level Rp17.950/US$ pada perdagangan pagi ini. Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah sehari sebelumnya jatuh cukup dalam. Pada Rabu (24/6/2026), rupiah ditutup terkoreksi 0,50% ke posisi Rp17.925/US$.

Adapun indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,0,5% ke level 101,558. Namun, posisi tersebut masih cukup tinggi setelah DXY sempat menembus level terkuat dalam 13 bulan terakhir di penutupan perdagangan sebelumnya. 

Meski melemah pagi ini, posisi indeks dolar AS masih berada di level yang cukup tinggi. Sebelumnya, pada perdagangan Rabu, DXY kembali menguat hingga menembus level tertingginya dalam 13 bulan terakhir.

Kuatnya posisi dolar AS menunjukkan permintaan terhadap aset berdenominasi greenback masih besar. Kondisi ini pada akhirnya dapat membatasi ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan rupiah sembari mendukung langkah pemerintah menjaga ekonomi Indonesia agar tetap tumbuh kuat. BI juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kestabilan rupiah dengan menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama di dalam negeri.

Hal ini disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026.

"Rupiah itu kan mata uang kita bersama, jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu enggak bisa hanya BI sendiri, tentu saya juga ingin mengajak semua masyarakat, semua bangsa Indonesia untuk kita bersama-sama menjaga rupiah," kata Destry, dikutip Kamis (25/6/2026).

Untuk menjaga stabilitas kurs, BI telah mengeluarkan sejumlah kebijakan baru. Salah satunya adalah menurunkan ambang batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung atau underlying menjadi maksimal US$10.000 per pelaku per bulan.

Namun, Destry menegaskan kebijakan tersebut dilakukan untuk memperbaiki tata kelola, bukan untuk melarang penggunaan dolar AS di dalam negeri.

"Bagaimana kami menata ulang permintaan terhadap rupiah. Kami tidak bermaksud untuk membatasi penggunaan dolar AS, tapi harus ada underlying-nya, kalau tidak ada underlying-nya, itu nanti kan menjadi spekulatif," jelasnya.

Destry juga mengajak masyarakat untuk terus menggunakan rupiah di dalam negeri sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas mata uang Garuda.

"Jadi kami memperbaiki tata kelola yang ada untuk yang ritel dan sebagainya, bahwa ayo kalau gak ada kebutuhan dolar AS, ya kita pakai rupiah. Kan kita di domestik bayar apapun juga pakai rupiah," imbuhnya.

"Saya ingin mengimbau teman-teman semua, tugas menjaga rupiah itu adalah tugas kita bersama," pungkasnya.

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |