Breaking News! Harga Minyak Dunia Jatuh Terburuk 3 Tahun Terakhir

18 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia ambles hingga 6%. Ini terjadi baik ke minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent.

Penurunan harga kedua minyak berjangka itu bahkan menjadi penurunan tertajam dalam tiga tahun terakhir. Hal ini akibat tarif terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hingga resiko peningkatan pasokan minyak mentah dunia oleh OPEC+.

Pada perdagangan hari ini Jumat (4/4/2025) pukul 07.00 WIB misalnya, harga minyak mentah WTI kembali melemah 0,25% di level US$66,78 per barel. Berbeda dengan harga minyak mentah Brent yang justru menguat 0,27% di level US$70,05 per barel.

Sementara pada perdagangan sebelumnya, harga minyak mentah WTI jatuh 6,64% di level US$66,95 per barel. Begitu juga dengan harga minyak mentah Brent yang terperosok 6,42% di level US$70,14 per barel.

Pada Kamis, harga minyak anjlok dan ditutup dengan persentase penurunan tertajam sejak tahun 2022. Ini setelah OPEC+ menyetujui peningkatan produksi, untuk memajukan rencana mereka untuk menaikkan produksi minyak guna mengembalikan 411.000 barel per hari ke pasar pada bulan Mei atau naik dari 135.000 barel per hari yang direncanakan sebelumnya, sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor baru yang menyeluruh.

Secara rinci, Brent berada di jalur penurunan persentase terbesarnya sejak 1 Agustus 2022. Sementara WTI mengalami penurunan terbesar sejak 11 Juli 2022.

"Ekonomi dan permintaan minyak saling terkait erat," ujar Angie Gildea, pemimpin energi KPMG AS.

"Pasar masih mencerna tarif, tetapi kombinasi dari peningkatan produksi minyak dan prospek ekonomi global yang lebih lemah memberikan tekanan ke bawah pada harga minyak, berpotensi menandai babak baru di pasar yang bergejolak," ujarnya lagi.

Trump pada hari Rabu mengumumkan tarif minimum 10% untuk sebagian besar barang yang diimpor ke AS, konsumen minyak terbesar di dunia, dengan bea yang jauh lebih tinggi untuk produk dari puluhan negara. Impor minyak, gas, dan produk olahan dibebaskan dari tarif baru, menurut Gedung Putih pada hari Rabu.

Analis UBS pada hari Rabu memangkas perkiraan harga minyak mereka sebesar US$3 per barel selama 2025-2026 menjadi US$72 per barel. Para pelaku pasar dan analis sekarang memperkirakan lebih banyak volatilitas harga dalam waktu dekat, mengingat tarif dapat berubah karena negara-negara mencoba menegosiasikan tarif yang lebih rendah atau mengenakan pungutan balasan.

"Tindakan balasan sudah dekat dan dilihat dari reaksi pasar awal, resesi dan stagflasi telah menjadi kemungkinan yang mengerikan," menurut analis PVM Tamas Varga.

"Karena tarif pada akhirnya dibayarkan oleh konsumen dan bisnis dalam negeri, biayanya pasti akan meningkat, yang menghambat peningkatan kekayaan ekonomi," ujar Varga.

Data Badan Informasi Energi AS pada hari Rabu menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat secara mengejutkan sebesar 6,2 juta barel minggu lalu. Ini bertentangan dengan perkiraan analis yang memperkirakan penurunan sebesar 2,1 juta barel.


CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
| | | |