Bukan Iran, Trump Umumkan Serangan Skala Besar ke Negara Arab ini

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump justru resmi mengumumkan dimulainya operasi serangan militer skala besar di wilayah Suriah. Serangan udara masif ini diluncurkan sebagai balasan mematikan atas tewasnya personel militer AS beberapa waktu lalu.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan AS bersama sekutu koalisi telah membombardir berbagai titik di Suriah pada hari Sabtu waktu setempat. Operasi yang diberi sandi "Operation Hawkeye Strike" ini diklaim bertujuan untuk melumpuhkan sel-sel kelompok militan yang kembali menggeliat di negara Arab tersebut.

"Serangan hari ini menargetkan ISIS di seluruh wilayah Suriah. Ini adalah respons langsung terhadap serangan mematikan kelompok tersebut terhadap pasukan AS dan Suriah di Palmyra," bunyi pernyataan resmi CENTCOM dikutip Guardian, Minggu (11/1/2026).

Langkah militer drastis ini dipicu oleh serangan berdarah pada 13 Desember lalu di Palmyra, wilayah bersejarah yang terdaftar di UNESCO. Dalam insiden tersebut, seorang pria bersenjata dari kelompok militan menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil Amerika.

Palmyra, yang pernah menjadi basis kekuatan jihadis, kembali menjadi zona merah setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024. Serangan balasan ini juga melibatkan kekuatan regional, di mana militer Yordania mengonfirmasi partisipasi mereka dalam serangan udara tersebut di bawah kerangka koalisi internasional untuk mencegah kelompok teror mengatur ulang kekuatan mereka.

Di saat AS menggempur dari udara, situasi di darat Suriah kian mencekam. Pasukan pemerintah Suriah yang baru di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa terlibat bentrokan hebat dengan kelompok Kurdi (SDF) di Aleppo.

Kementerian Dalam Negeri Suriah melaporkan telah menahan sedikitnya 300 warga Kurdi dan mengevakuasi lebih dari 400 pejuang Kurdi setelah pertempuran sengit pecah di kota terbesar kedua di Suriah tersebut.

Selain itu, ketegangan ini memicu krisis kemanusiaan baru. Sedikitnya 21 warga sipil tewas dalam baku tembak. Di sisi lain, Gubernur Aleppo melaporkan 155.000 orang terpaksa melarikan diri dari rumah mereka.

Konflik domestik Suriah ini kini mengancam kestabilan kawasan. Turki, sebagai sekutu dekat otoritas baru di Damaskus, menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi militer. Di sisi lain, Israel dilaporkan memihak pasukan Kurdi, menciptakan garis konfrontasi baru yang melibatkan banyak negara.

Utusan AS, Tom Barrack, dilaporkan telah bertemu dengan Presiden al-Sharaa di Damaskus untuk meredam situasi. Barrack mendesak semua pihak melakukan menahan diri dan kembali ke jalur dialog politik.

"Tim Sekretaris Negara Marco Rubio siap untuk melakukan mediasi guna menghentikan permusuhan segera," tegas pihak AS.

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |