Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
04 September 2026 13:06
Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah di banyak negara, khususnya negara maju, tentu memiliki dampak ataupun konsekuensi bagi banyak pihak.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh investor obligasi, tetapi juga pemerintah, perusahaan, konsumen, hingga investor saham.
Dalam beberapa hari terakhir, yield obligasi pemerintah negara maju tenor 10 tahun kompak mengalami kenaikan signifikan. Yield obligasi Jepang, misalnya, sempat menembus 3,001%, level tertinggi dalam sekitar 30 tahun terakhir.
Obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) juga mengalami tekanan. Yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023 di kisaran 4,8%, sedangkan yield obligasi Inggris menyentuh 5,23%, tertinggi sejak krisis keuangan 2008.
Kenaikan terbaru salah satunya dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global setelah konflik AS dan Iran kembali memanas pada awal September 2026. Eskalasi konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko tekanan harga.
Dalam kondisi tersebut, pasar menilai sejumlah bank sentral berpeluang mempertahankan kebijakan higher for longer, yakni menjaga suku bunga tetap tinggi dan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Robin Brooks, seorang peneliri senior dari Brookings Institution, menilai kenaikan imbal hasil bukan cuman gejolak singkat.
"Ini merupakan kelanjutan dari tren jangka menengah yang kemungkinan akan berlangsung selama bertahun-tahun," ujarnya, dikutip dari CNBC International.
Lantas, di tengah tingginya imbal hasil obligasi, siapa yang harus menanggung dampaknya dan adakah pihak yang justru meraih keuntungan?
1. Pemerintah
Pemerintah akan menjadi pihak pertama yang harus menanggung dampak dari kenaikan imbal hasil obligasi.
Ketika utang jauh tempo, pemerintah harus menerbitkan obligasi baru dengan bunga yang jauh lebih tinggi untuk melunasi utang lamanya.
Adapun, pemerintah negara yang memiliki defisit fiskal yang besar, serta outstanding utang yang tinggi, dan ketergantungan terhadap modal investor asing akan menjadi pihak yang paling rentan terhadap tekanan.
Menurut Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist State Street Investment Management, menilai Prancis termasuk yang paling berisiko diantara negara-negara maju.
Sementara diantara negara berkembang, tekanan yang lebih besar akan dihadapi oleh negara yang tengah mengalami defisit anggaran sekaligus defisit neraca transaksi berjalan.
"Ketika utang, defisit, dan kebutuhan pembiayaan eksternal bertemu, pasar cenderung menjadi jauh lebih tidak toleran," kata Loo, dikutip dari CNBC International.
Jepang menjadi contoh paling jelas. Utang pemerintahnya telah melampaui 200% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan pembayaran pokok dan bunga utang diperkirakan menyerap lebih dari 25% pengeluaran pemerintah pada tahun fiskal 2026.
Pemerintah Jepang mungkin dapat menahan kenaikan yield melalui program pembelian kembali obligasi atau mengubah tenor penerbitan utang. Namun, langkah tersebut tidak akan dapat menyelesaikan masalah utama berupa besarnya kebutuhan utang dibandingkan permintaan investor.
2. Perusahaan
Selain besarnya dampak yang dapat dirasakan oleh pemerintah di banyak negara, perusahaan juga menjadi pihak yang akan merasakan dampak negatif dari kenaikan bond yield ini.
Perusahaan harus membayar lebih mahal ketika mencari pinjaman baru atau untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo. Tekanan paling hebat akan dirasakan oleh perusahaan dengan total utang yang besar, neraca keuangan yang lemah, dan juga kepemilikan pinjaman yang berbunga floating.
Sementara, perusahaan yang berkapitalisasi kecil cenderung memiliki lebih banyak pinjaman floating rate dibandingkan perusahaan besar. Beban bunga mereka dapat meningkat lebih cepat ketika suku bunga dan yield obligasi naik.
Menurut Loo, sektor properti komersial, perusahaan milik private equity, portofolio pinjaman langsung, dan perusahaan perangkat lunak berkualitas rendah menjadi kelompok yang paling rentan. Banyak perusahaan tersebut sebelumnya mencari pendanaan dengan asumsi bahwa modal akan selalu murah dan mudah diperoleh.
Belum lagi, booming investasi di industri kecerdasan buatan (AI) ikut menambah persaingan modal.
Perusahaan teknologi menerbitkan utang dalam jumlah besar untuk membangun pusat data dan infrastruktur pendukung AI.
Besarnya penerbitan obligasi membuat perusahaan harus bersaing dengan pemerintah untuk mendapatkan dana dari investor. Akibatnya, biaya pendanaan dapat naik bahkan bagi perusahaan dengan kondisi keuangan yang sehat.
Jika biaya pinjaman terlalu mahal, pembangunan pabrik, pusat data, akuisisi, dan rencana ekspansi lainnya dapat ditunda karena tidak lagi menguntungkan secara ekonomi.
3. Konsumen
Kenaikan yield obligasi jangka panjang akan merembet ke bunga kredit perumahan, kendaraan, dan pinjaman rumah tangga lainnya.
Larry Holzenthaler, Senior Portfolio Manager Catalyst Funds, mengatakan yield jangka panjang sangat penting karena menentukan biaya pendanaan perusahaan sekaligus bunga kredit perumahan.
Namun, dampaknya tidak dirasakan secara merata. Konsumen berpendapatan rendah akan lebih tertekan karena porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan dan membeli kebutuhan pokok lebih besar.
Sebaliknya, rumah tangga berpendapatan tinggi umumnya lebih mampu menghadapi kenaikan cicilan. Mereka juga dapat menikmati keuntungan dari meningkatnya bunga tabungan dan imbal hasil obligasi.
Dampaknya akan muncul secara bertahap karena banyak pinjaman memiliki bunga tetap. Tekanan baru terasa ketika masa bunga tetap berakhir dan konsumen harus melakukan pembiayaan kembali dengan bunga lebih tinggi.
4. Investor Saham
Pergerakan harga di pasar saham juga dapat mengalami koreksi akibat dari tingginya imbal hasil obligasi, sehingga para investor di saham bisa menjadi salah satu pihak yang dirugikan.
Kondisi ini terjadi karena, ketika obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko yang relatif lebih rendah maka instrumen saham menjadi kurang menarik.
Selainitu, Kenaikan yield juga menurunkan nilai sekarang dari keuntungan perusahaan pada masa depan. Tekanan biasanya lebih besar terhadap saham perusahaan teknologi dan saham pertumbuhan yang valuasinya sangat bergantung pada proyeksi keuntungan jangka panjang.
"Pada titik tertentu, yield yang lebih tinggi akan menjadi pengalaman menyakitkan bagi pasar saham," ujar Natalia Lojevsky, Managing Director CIFC Asset Management.
Pasar saham sejauh ini masih ditopang kinerja perusahaan dan optimisme terhadap AI. Namun, kenaikan imbal hasil yang terus berlanjut dapat menekan valuasi dan mendorong investor memindahkan dana ke obligasi.
5. Pembeli Obligasi Baru Justru Diuntungkan
Namun demikian, tidak semua pihak akan dirugikan dari tingginya imbal hasil di obligasi pemerintah. Investor yang membeli obligasi baru justru akan memperoleh kupon dan imbal hasil yang lebih tinggi.
Kondisi ini berbeda dengan investor lama yang mengalami penurunan nilai investasi karena harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan yield.
Deutsche Bank memperkirakan yield US Treasury tenor 10 tahun harus naik hingga sekitar 5,5% dalam satu tahun agar kerugian akibat penurunan harga obligasi melampaui pendapatan kupon investor.
Dalam jangka waktu dua tahun, yield diperkirakan harus naik hingga sekitar 6,4% sebelum total keuntungan investor berubah menjadi negatif.
Dengan demikian, pihak yang paling dirugikan adalah pemerintah, perusahaan, dan konsumen yang membutuhkan pinjaman baru. Sementara investor dengan dana tunai dan membeli obligasi pada tingkat yield tinggi justru dapat menikmati keuntungan lebih besar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5302683/original/090005400_1754032598-Latihan_Persija_Jakarta-15.jpg)

