Coltan: Harta Karun di Perut Bumi Venezuela, Berakhir di China

1 day ago 6

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

06 January 2026 19:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Di selatan Venezuela, di wilayah yang bahkan nyaris tak muncul di peta ekonomi resmi, ada pasir hitam yang nilainya mengalahkan emas.

Pasir itu bernama coltan. Ia tidak berkilau, tidak diperdagangkan di bursa, dan tidak masuk laporan ekspor.

Di persembunyiannya, ternyata tanpa mineral ini, ponsel, data center, jet tempur, satelit, dan mobil listrik dunia modern berhenti berfungsi.

Coltan adalah singkatan dari columbite-tantalite, bijih yang menjadi sumber tantalum. Logam ini dipakai dalam kapasitor mikro komponen kecil yang menjaga aliran listrik tetap stabil di perangkat elektronik. Industri pertahanan juga membutuhkannya karena tahan panas dan radiasi.

Ketika dunia masuk era perang teknologi dan transisi energi, coltan berubah dari komoditas geologi menjadi aset strategis.

Tantalum memiliki titik leleh sangat tinggi, tahan korosi, dan stabil di kondisi ekstrem. Ia dipakai di kapasitor ponsel dan server, turbin angin, baterai kendaraan listrik, hingga sistem kendali roket dan jet tempur.

Dalam laporan The Guardian terkait "critical minerals", kebutuhan global untuk tantalum dan logam transisi melonjak seiring ekspansi energi bersih dan belanja pertahanan di AS, Uni Eropa, dan China .

Rantai pasok tantalum bersifat sempit. Banyak negara punya konsumsi, sedikit yang punya bijih ekonomis. China selama ini mendominasi pemurnian dan perdagangan hilir. Saat Beijing mengetatkan kontrol ekspor rare earth sebagai respons tarif AS pada 2025, pembeli global mencari sumber alternatif. Amazon dengan cadangan yang belum dipetakan tuntas menjadi sasaran.

Harga dan premi risiko naik. Pasar bersedia menerima bijih dari wilayah berisiko selama pasokan mengalir. Di titik ini, lokasi yang lemah regulasi justru mendapat pembeli paling agresif.

Venezuela dan Coltannya

Pada 2009, Presiden Hugo Chávez mengumumkan Venezuela memiliki "great reserve" coltan dan mengerahkan 15.000 Garda Nasional ke perbatasan Kolombia dengan alasan mineral itu strategis untuk roket jarak jauh dan pernah memicu perang di Afrika.

Tujuh tahun kemudian, Presiden Nicolás Maduro menerbitkan Dekret Arc Tambang Orinoco (2016), membuka 112.000 km² untuk pertambangan, termasuk zona coltan.
Dekret membuka peta, bukan modal. Investasi korporasi tak datang. Kekosongan diisi kelompok bersenjata. Di Amazonas dan Bolívar barat laut, wilayah dan tambang dibagi antara ELN dan faksi FARC Segunda Marquetalia, yang juga menguasai rute narkotika lintas Orinoco .

Produksi berjalan di bawah rezim koersif. Pemimpin adat ditekan atau dibeli. Penambang yang menolak dipaksa bekerja malam hari di titik tersembunyi. Aliran bijih keluar negeri tetap ada, namun nilai tambah dan pajak nyaris nol bagi negara.

Uji laboratorium atas pasir hitam kebiruan yang diambil komunitas Puinave di kedua sisi perbatasan Kolombia Venezuela menunjukkan kadar tinggi coltan, cassiterite (bijih timah), dan rare earths.

Wawancara yang dilakukan The Guardian dengan penambang, pedagang, dan aparat mengaitkan bijih ini ke pelabuhan Karibia Kolombia dan Venezuela, lalu ke China.

Bijih ditambang dari hulu Amazon, diseberangkan malam hari dengan kano atau helikopter kecil, lalu dicampur dan diberi dokumen asal palsu sebelum diekspor. Skema ini mengaburkan jejak Venezuela dan memotong bea.

Pasar menerima volume yang "tak terlihat" dalam statistik resmi. Ini menjelaskan mengapa angka cadangan Venezuela sulit diverifikasi sementara arus fisik terasa di pelabuhan Karibia.

Implikasinya Bagi Sosial dan Lingkungan

Ketika Nicolás Maduro menandatangani Dekret Arc Tambang Orinoco pada 2016 membuka 112.000 km² hutan dan sabana untuk pertambangan-investor global yang dijanjikan Chávez tak pernah datang. Yang datang justru ELN dan faksi FARC. Mereka masuk dengan senjata.

Melansir dari The Guardian, negara bagian Amazonas dan Bolívar, dua kelompok bersenjata ini membagi wilayah tambang sekaligus rute penyelundupan narkotika. Coltan, timah, dan emas mengalir lewat sungai Orinoco, lalu menyeberang ke Kolombia, disamarkan sebagai produksi lokal, dan berakhir di pelabuhan Karibia sebelum dikirim ke Asia-terutama China .

Di lapangan, pertambangan coltan beroperasi sebagai ekonomi komando. Komunitas adat dipaksa bekerja, perempuan dijual di kamp tambang, dan penambang yang menolak masuk jaringan ELN dipenjara di hutan.

Deforestasi masif terjadi karena alat berat dan landasan udara darurat dibangun langsung di tengah Amazon. Seorang penambang menggambarkan kondisi itu secara sederhana sungai akan tercemar total dalam dua atau tiga tahun karena semua sudah digali dan dikeruk .

Sementara itu, pasar global justru memperkuat insentif ilegal itu. Ketika China pada 2025 memperketat ekspor rare earth sebagai balasan terhadap tarif Amerika, pembeli internasional mulai berburu pasokan dari wilayah yang tak terikat aturan. Amazon Kolombia-Venezuela menjadi salah satu sumber yang paling fleksibel. Bijih dari sana tidak perlu sertifikasi, tidak perlu audit, dan tidak perlu transparansi.

Inilah titik di mana Venezuela kehilangan kendali atas kekayaannya sendiri.

Bandingkan dengan Brasil. Negara itu memetakan geologi sejak era militer 1970-an. Kini Brasil menguasai cadangan niobium terbesar dunia dan rare earth terbesar kedua. Presiden Lula menyebut mineral kritis sebagai urusan kedaulatan nasional, sambil tetap membuka kemitraan internasional. Negara mengatur aliran modal, bukan sebaliknya.

Venezuela memilih jalur sebaliknya. Coltan tidak pernah masuk neraca negara. Ia hidup sebagai komoditas gelap yang membiayai senjata, bukan sekolah atau industri.

Itulah mengapa coltan disebut "kekayaan tersembunyi" Venezuela. Bukan karena cadangannya kecil, tetapi karena nilainya mengalir keluar lewat jalur bayangan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
| | | |