Demo "No Kings" Meluas ke Seluruh Penjuru AS, Awal Kejatuhan Trump?

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi unjuk rasa bertajuk "No Kings" kembali mengguncang Amerika Serikat (AS) dengan skala yang kian meluas. Dalam putaran ketiga akhir pekan lalu, lebih dari 3.200 aksi digelar di seluruh 50 negara bagian.

Ini menandai peningkatan signifikan partisipasi, termasuk dari komunitas kecil di luar kota besar. Melansir Reuters, demonstrasi besar tercatat di New York, Dallas, Philadelphia, hingga Washington.

Penyelenggara menyebut sekitar dua pertiga aksi kini berlangsung di wilayah nonmetropolitan, naik hampir 40% dibanding mobilisasi perdana pada Juni tahun lalu. Aksi ini dipicu kritik terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk deportasi imigran secara agresif serta keterlibatan militer AS dalam konflik Iran.

Di Saint Paul, ribuan massa berkumpul di depan gedung DPR negara bagian Minnesota. Gubernur Minnesota Tim Walz menegaskan bahwa gerakan ini didorong oleh nilai demokrasi dan kemanusiaan.

"Mereka menyebut kita radikal. Benar, kita diradikalisasi oleh belas kasih, kesopanan, dan demokrasi untuk melawan otoritarianisme," ujarnya, dikutip Selasa (31/3/2026).

Senator Bernie Sanders turut berpidato dengan nada serupa. "Kita tidak akan membiarkan negara ini jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki. Rakyat yang akan berkuasa," tegasnya.

Sementara itu di New York, aktor Robert De Niro menyebut Trump sebagai ancaman serius bagi negara. Di hadapan puluhan ribu demonstran yang memenuhi Manhattan, ia mengatakan "tidak ada presiden sebelumnya yang menimbulkan ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan kita".

Aksi juga diwarnai ketegangan di sejumlah titik. Di Dallas, bentrokan terjadi antara demonstran dan kelompok tandingan yang dipimpin Enrique Tarrio. Polisi setempat melakukan sejumlah penangkapan setelah terjadi perkelahian dan pemblokiran jalan.

Di Los Angeles, aparat menahan beberapa demonstran setelah bentrokan di sekitar gedung federal. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyebut dua petugas terluka akibat lemparan benda keras.

Sejumlah peserta aksi menilai kebijakan Trump telah memicu gelombang perlawanan luas. "Saya tidak bisa lagi diam demi masa depan anak-anak saya," ujar salah satu demonstran di Dallas.

Gelombang protes ini terjadi menjelang pemilu paruh waktu AS pada November, yang akan menentukan komposisi Kongres. Penyelenggara mengklaim partisipasi meningkat pesat, bahkan di negara bagian basis Partai Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah.

Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan Trump kini turun ke 36%, terendah sejak kembali menjabat.

Gerakan "No Kings" sendiri terus membesar sejak pertama kali digelar pada 14 Juni 2025 lalu, dengan jutaan peserta dalam tiap gelombang aksi. Aksi terbaru juga dipicu oleh kemarahan terhadap operasi militer AS terkait konflik Iran yang telah berlangsung selama empat minggu.

"Tidak ada yang menyerang kita. Kita tidak perlu berada di sana," ujar seorang demonstran di Washington, mencerminkan sentimen anti-perang yang turut mewarnai aksi kali ini.

(sef/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |