Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan diplomatik antara Eropa dan Amerika Serikat (AS) mencapai titik nadir. Pemimpin dua kekuatan besar NATO di Eropa, Prancis dan Jerman, melontarkan kritik pedas yang luar biasa keras terhadap kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, yang dituding mulai mengabaikan aturan hukum internasional.
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier memberikan peringatan mengerikan mengenai runtuhnya tatanan dunia pasca-Perang Dunia II. Dalam simposium di Berlin, mantan Menteri Luar Negeri Jerman itu menyebut perilaku AS saat ini sebagai "pecahnya zaman" yang kedua setelah invasi Rusia ke Ukraina.
"Ini adalah tentang mencegah dunia berubah menjadi sarang penyamun, di mana pihak yang paling tidak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan," tegas Steinmeier, dilansir The Guardian, Jumat (9/1/2026).
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai telah runtuh di tangan mitra terpenting mereka sendiri, yakni Amerika Serikat. Steinmeier khawatir negara-negara kecil dan lemah akan menjadi "sama sekali tidak berdaya" dan seluruh wilayah hanya akan dianggap sebagai properti milik beberapa kekuatan besar.
Di Paris, Presiden Emmanuel Macron menyampaikan kegelisahan serupa di hadapan korps diplomatik Prancis di Istana Élysée. Macron menilai Washington sedang berupaya membebaskan diri dari aturan internasional yang justru dulunya dipromosikan oleh mereka sendiri.
"Prancis menolak kolonialisme baru dan imperialisme baru-tetapi juga menolak sikap tunduk dan kekalahan. Kita butuh otonomi strategis yang lebih besar, serta mengurangi ketergantungan pada AS dan China," ujar Macron.
Selain masalah militer, Macron juga menekankan pentingnya mempertahankan kedaulatan digital Eropa, terutama terkait Digital Markets Act (DMA) dan Digital Services Act (DSA). Aturan ini sebelumnya dikecam oleh pihak AS sebagai upaya untuk "memaksa" perusahaan teknologi mereka melakukan sensor. Macron menegaskan bahwa ruang informasi harus dikendalikan secara bebas tanpa diatur oleh algoritma segelintir perusahaan raksasa.
Kritik tajam kedua pemimpin ini diyakini merujuk pada aksi militer AS di Caracas untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro akhir pekan lalu, serta ambisi Trump yang berulang kali menyatakan ingin mengambil alih Greenland dari Denmark.
Kekhawatiran Eropa semakin nyata setelah Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menyatakan bahwa blok tersebut sedang menimbang respons jika rencana AS untuk mengakuisisi Greenland benar-benar terwujud. Ia menyebut pesan-pesan yang datang dari Washington "sangat mengkhawatirkan."
Di Brussel, para duta besar NATO pun telah mengadakan diskusi khusus mengenai keamanan wilayah Arktik. Meski diplomat senior menyebut "tidak ada drama," mereka sepakat bahwa NATO perlu mempercepat pengembangan kehadiran pertahanan yang lebih kuat di wilayah tersebut untuk menghadapi ketidakpastian ini.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)












