Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
17 September 2026 13:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan dunia untuk segera keluar dari era suku bunga tinggi tampaknya semakin sulit terwujud.
Harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$100 per barel setelah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS terhadap kapal tanker miliknya. Ketegangan juga meluas ke Arab Saudi, salah satu negara penghasil minyak terbesar dunia.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran kembali melancarkan serangan besar-besaran. Serangan tersebut berdampak pada jaringan pipa East-West milik Arab Saudi yang sempat ditutup sementara oleh otoritas setempat.
Kenaikan harga minyak pada akhirnya akan mengerek biaya bahan bakar, transportasi, hingga produksi. Jika berlangsung lama, kenaikan biaya tersebut dapat merambat ke harga barang dan jasa yang harus dibayar konsumen.
Tekanan inflasi pun sulit dihindari. Kondisi ini menempatkan bank sentral pada pilihan yang tidak mudah.
Menahan atau menurunkan suku bunga berisiko membuat inflasi semakin sulit dikendalikan. Sebaliknya, menaikkan bunga akan membuat biaya pinjaman lebih mahal dan dapat menekan pertumbuhan ekonomi.
Pilihan kedua kini mulai diambil oleh semakin banyak bank sentral dunia.
Bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.
Kenaikan tersebut membawa Fed Funds Rate ke kisaran 3,75%-4,00%. Ini menjadi kenaikan pertama The Fed sejak Juli 2023 sekaligus mengakhiri siklus penurunan bunga yang berlangsung sepanjang 2024 dan 2025.
Keputusan The Fed semakin menegaskan bahwa arah kebijakan moneter dunia kini mulai berbalik.
Bahkan sebelum The Fed bergerak, sejumlah bank sentral di negara maju dan Asia telah lebih dahulu menaikkan suku bunga sejak awal semester II-2026.
Setelah keputusan The Fed, Hong Kong serta sejumlah negara di kawasan Teluk langsung mengambil langkah serupa. Sedikitnya 11 bank sentral kini telah menaikkan suku bunga sejak awal semester kedua tahun ini.
Selandia Baru
Selandia Baru menjadi negara pertama yang menaikkan suku bunga setelah semester II-2026 dimulai.
Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) menaikkan Official Cash Rate sebesar 25 basis poin dari 2,25% menjadi 2,50% pada 8 Juli 2026.
Langkah RBNZ tidak berhenti sampai di sana. Kurang dari dua bulan kemudian, suku bunga kembali dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%.
Total kenaikannya mencapai 50 basis poin sejak awal Juli. Hal ini menjadikan Selandia Baru sebagai salah satu negara yang paling agresif memperketat kebijakan moneter pada semester II tahun ini.
RBNZ menaikkan bunga setelah inflasi Selandia Baru mencapai 4,1% secara tahunan pada kuartal II-2026. Angka tersebut jauh di atas sasaran inflasi bank sentral yang berada di kisaran 1%-3%.
Korea Selatan
Tidak lama setelah Selandia Baru, Korea Selatan mengambil langkah serupa.
Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dari 2,50% menjadi 2,75% pada 16 Juli 2026. Keputusan tersebut menjadi kenaikan pertama yang dilakukan bank sentral Korea Selatan dalam sekitar tiga setengah tahun.
Satu kali kenaikan belum dianggap cukup. BOK kembali mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin pada 27 Agustus menjadi 3,00%.
Dalam waktu sekitar enam pekan, Korea Selatan telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.
Ekonomi Korea Selatan memang berada dalam kondisi yang berbeda dibandingkan banyak negara lain. Ketika sejumlah negara menghadapi perlambatan, pertumbuhan ekonomi Korea Selatan justru berjalan lebih kuat dari perkiraan.
Ekspor dan investasi tumbuh pesat berkat tingginya permintaan semikonduktor serta pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan. Konsumsi rumah tangga juga mulai pulih dan memberikan tambahan tenaga bagi perekonomian.
Namun, pertumbuhan yang lebih kuat juga membawa risiko baru. BOK memperkirakan inflasi akan bertahan di atas sasaran dalam waktu yang cukup lama.
Islandia
Tekanan inflasi juga memaksa Islandia menghentikan langkah pelonggaran moneternya.
Central Bank of Iceland menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 19 Agustus 2026. Suku bunga deposito berjangka tujuh hari yang menjadi acuan kebijakan moneter naik dari 7,75% menjadi 8,00%.
Keputusan tersebut tidak diambil dengan suara bulat. Empat anggota komite kebijakan moneter mendukung kenaikan, sedangkan satu anggota memilih mempertahankan suku bunga.
Kenaikan dilakukan setelah inflasi Islandia bertahan di atas 5% sepanjang 2026 dan mencapai 5,3% pada Juli.
Bank Sentral Eropa
Tekanan serupa juga terjadi di Eropa. European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis (10/9/2026).
Suku bunga deposit facility dinaikkan dari 2,25% menjadi 2,50%. Suku bunga main refinancing operations naik menjadi 2,65%, sedangkan marginal lending facility mencapai 2,90%. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 16 September.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu perhatian utama ECB. Bank sentral khawatir lonjakan harga bahan bakar tidak berhenti di sektor energi, tetapi merambat ke ongkos produksi, harga jual, dan tuntutan kenaikan upah.
Inflasi kawasan Eropa diperkirakan mencapai rata-rata 3,0% pada 2026, masih lebih tinggi dibandingkan sasaran ECB sebesar 2%.
Kenaikan September menjadi yang kedua dilakukan ECB sepanjang 2026. Sebelumnya, bank sentral telah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada Juni. Total kenaikan ECB tahun ini mencapai 50 basis poin.
Denmark
Hanya beberapa jam setelah keputusan ECB, Danmarks Nationalbank mengumumkan kenaikan suku bunga dengan besaran yang sama.
Suku bunga current account dan certificates of deposit dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 2,10%. Lending rate meningkat menjadi 2,25%, sedangkan discount rate menjadi 2,10%.
Kenaikan tersebut merupakan dampak langsung dari langkah ECB.
Denmark menjalankan kebijakan nilai tukar tetap dengan menjaga pergerakan krone tetap stabil terhadap euro. Untuk mempertahankan sistem tersebut, suku bunga Denmark biasanya bergerak mengikuti arah kebijakan ECB.
Filipina
Gelombang kenaikan suku bunga juga sampai ke Asia Tenggara.
Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menaikkan Target Reverse Repurchase Rate sebesar 25 basis poin dari 4,75% menjadi 5,00% pada 27 Agustus 2026.
Kenaikan tersebut menjadi langkah pengetatan pertama Filipina sejak semester II dimulai. Namun, jika dihitung sejak awal tahun, keputusan Agustus merupakan kenaikan ketiga yang dilakukan BSP sepanjang 2026.
Filipina menghadapi tekanan inflasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sasaran bank sentral. Inflasi sempat melonjak menjadi 7,2% pada April sebelum turun menjadi 6,2% pada Juli dan 6,1% pada Agustus.
Kenaikan suku bunga juga ditujukan untuk meredam tekanan terhadap peso Filipina.
Berdasarkan data Refinitiv, peso kembali menyentuh posisi terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan intraday Senin (14/9/2026). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga belum langsung mampu mengeluarkan peso dari tekanan.
Hong Kong dan Negara Teluk Ikuti The Fed
Hong Kong, Uni Emirat Arab (UAE), Arab Saudi, dan Bahrain langsung menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah keputusan The Fed.
Hong Kong Monetary Authority menaikkan base rate menjadi 4,25%. Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023.
Central Bank of the UAE menaikkan Base Rate dari 3,65% menjadi 3,90%. Sementara Saudi Central Bank menaikkan repo rate dari 4,25% menjadi 4,50% dan reverse repo rate dari 3,75% menjadi 4,00%.
Central Bank of Bahrain juga menaikkan suku bunga fasilitas deposito satu pekan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%.
Keempatnya mengikuti The Fed karena mata uang mereka dipatok terhadap dolar AS. Kebijakan suku bunga perlu bergerak searah untuk menjaga kestabilan nilai tukar dan mencegah selisih bunga dengan AS melebar terlalu jauh.
Secara keseluruhan, gelombang kenaikan tersebut menunjukkan bahwa era suku bunga tinggi belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Selama tekanan inflasi dan harga energi masih tinggi, bank sentral dunia tetap memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan kembali menaikkan bunga.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)