Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekspor China melesat tajam pada bulan lalu berkat tingginya selera pasar luar negeri terhadap produk berteknologi tinggi dan kecerdasan buatan (AI). Lonjakan ini memberikan dukungan vital bagi perekonomian Negeri Tirai Bambu yang kini tengah terbebani oleh lesunya permintaan domestik.
Mengutip Reuters, Selasa (8/9/2026), data bea cukai menunjukkan bahwa ekspor melonjak 25% secara tahunan (year-on-year) pada bulan Agustus menjadi titik puncaknya. Angka ini sesuai dengan perkiraan pasar dan berakselerasi tajam dari pertumbuhan 23,9% pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, laju impor juga terbang 28,2%, berbanding dengan kenaikan 27,5% pada bulan Juli, meski sedikit di bawah proyeksi awal yang mematok kenaikan 30%.
Kesenjangan yang mencolok antara ketahanan ekspor dan lemahnya aktivitas di dalam negeri ini menyoroti ketergantungan akut Beijing pada permintaan asing, terlebih saat para pembuat kebijakan sedang bersusah payah menghidupkan kembali konsumsi dan investasi demi mencapai target pertumbuhan 4,5% hingga 5% tahun ini.
Strategi Senior China ANZ, Zhaopeng Xing, menyoroti bahwa masifnya permintaan untuk produk AI, kendaraan listrik (EV), sel surya, dan baterai lithium-ion berhasil menutupi dampak buruk dari cuaca ekstrem yang melanda. Ia juga mencatat bahwa perusahaan-perusahaan di China masih bergegas mempercepat pengiriman barang ke Amerika Serikat (AS) akibat bayang-bayang ketidakpastian tarif.
Ancaman Pembatasan & Gencatan Senjata
Menggantungkan nasib pada pengiriman luar negeri guna menyerap kapasitas industri nyatanya mengekspos China pada risiko pembatasan dari para mitra dagangnya. AS dan Uni Eropa secara kompak telah mendesak Beijing untuk segera memangkas surplus perdagangannya yang raksasa.
Tercatat, surplus perdagangan China membengkak menjadi US$119,09 miliar (Rp2.107,8 triliun) pada bulan Agustus, mengembang dari US$112,5 miliar (Rp1.991,2 triliun) pada bulan sebelumnya. Selama delapan bulan pertama, surplus tersebut telah menembus US$805,51 miliar (Rp14.257,5 triliun), menempatkan angka tahunan ini di jalur yang tepat untuk kembali melampaui angka US$ 1 triliun (Rp17.700 triliun) untuk tahun kedua berturut-turut. Secara spesifik, surplus perdagangan dengan AS ikut merangkak naik menjadi US$29,18 miliar (Rp516,4 triliun) dari posisi bulan Juli yang sebesar US$28 miliar (Rp495,6 triliun).
Meski gesekan kerap terjadi, gencatan senjata perdagangan antara Beijing dan Washington yang disepakati akhir tahun lalu tetap bertahan. Kedua pemerintahan saat ini bahkan sedang menjajaki pemotongan tarif timbal balik atas barang-barang bernilai US$30 miliar (Rp531 triliun) dari masing-masing belah pihak menjelang pertemuan puncak lanjutan akhir bulan ini.
Presiden sekaligus Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, mengamini bahwa ketergantungan pada pasar luar masih menjadi motor utama penggerak ekonomi.
"China terus mengandalkan para eksportir untuk mendukung perekonomian," paparnya.
Problem Domestik & Injeksi Triliunan
Berbeda dari sektor ekspor yang berpesta pora berkat booming AI, industri yang mengandalkan pasar domestik justru harus bergulat dengan inflasi harga produsen dan permintaan yang lesu. Setelah pertumbuhan mendingin menjadi 4,3% pada kuartal kedua, data ekonomi bulan lalu menunjukkan bahwa produksi industri dan penjualan ritel kompak melambat. Di sisi lain, pasar properti yang dulunya menjadi tulang punggung ekonomi kini masih terjebak dalam fase kemerosotan menahun.
Perdana Menteri Li Qiang pada bulan Agustus telah menyerukan upaya stabilisasi permintaan eksternal dan perluasan kerja sama perdagangan internasional, sembari secara terbuka mengakui penderitaan yang dihadapi berbagai industri dan perusahaan akibat minimnya permintaan domestik.
Sebagai respons perlawanan, pemerintah telah mempertebal dukungan fiskal untuk perekonomian, termasuk dengan menggelontorkan alat pembiayaan raksasa senilai 800 miliar yuan (Rp 2.110 triliun) guna menopang investasi infrastruktur. Analis Guotai Haitong Securities di Hong Kong, Hao Zhou, menilai bahwa kuatnya performa ekspor ini untuk sementara waktu membebaskan Beijing dari tekanan untuk segera merilis tindakan skala besar guna menyelamatkan pasar properti dan tenaga kerja.
"Data perdagangan terbaru tidak secara material memperkuat alasan untuk pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Meskipun dukungan kebijakan lebih lanjut tidak dapat dikesampingkan, kombinasi dari ketahanan permintaan eksternal, momentum industri yang stabil, dan langkah-langkah fiskal yang semakin terarah menyiratkan bahwa waktu dan perlunya pelonggaran moneter tambahan akan memerlukan observasi lebih lanjut," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)


