Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
15 January 2026 13:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Instrumen investasi Exchange-Traded Funds (ETF) telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pilar utama dalam sistem keuangan Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar terbaru, total aset yang dikelola dalam pasar ETF AS kini telah mencapai angka US$ 13,4 triliun.
Pertumbuhan aset yang signifikan ini mencerminkan pergeseran perilaku investor, baik ritel maupun institusi, yang semakin mengandalkan ETF sebagai kendaraan investasi utama.
Instrumen ini dinilai mampu memberikan efisiensi biaya serta akses yang lebih mudah ke berbagai sektor pasar global, mulai dari pasar saham konvensional hingga instrumen keuangan yang lebih kompleks.
Berikut adalah pembedahan data mengenai distribusi aset dalam pasar ETF AS saat ini.
Dominasi Pasar Saham (Ekuitas)
Data menunjukkan bahwa aset berbasis saham (equities) memegang porsi terbesar dalam struktur pasar ETF. Nilai aset kelolaan di kategori ini mencapai US$ 10,5 triliun, atau setara dengan hampir 80% dari total keseluruhan aset ETF.
Angka ini mengonfirmasi bahwa meskipun terdapat berbagai pilihan instrumen investasi, pasar saham tetap menjadi tujuan utama bagi alokasi modal investor.
Besarnya porsi ini menunjukkan preferensi investor yang masih mengejar pertumbuhan nilai aset jangka panjang (capital appreciation) melalui eksposur di berbagai sektor industri dan perusahaan publik di Amerika Serikat.
Peran Penting Obligasi dan Pendapatan Tetap
Di posisi kedua, aset obligasi (bonds) mencatatkan nilai kelolaan sebesar US$ 2,2 triliun. Meskipun jumlah ini jauh di bawah aset saham, peran ETF obligasi sangat krusial dalam portofolio investasi modern.
ETF obligasi memberikan solusi atas kendala likuiditas yang sering terjadi di pasar obligasi konvensional. Dengan menggunakan ETF, investor dapat memiliki paparan terhadap surat utang pemerintah maupun korporasi dengan cara yang semudah membeli saham, tanpa perlu membeli obligasi fisik secara langsung yang seringkali membutuhkan modal awal yang besar.
Diversifikasi ke Aset Alternatif
Selain dua kelas aset utama di atas, ETF juga digunakan untuk mengakses aset-aset alternatif guna tujuan diversifikasi dan lindung nilai (hedging). Ratusan miliar dolar tercatat dialokasikan ke dalam komoditas, mata uang, dan real estat.
Berikut adalah rincian lengkap dana kelolaan ETF berdasarkan kelas asetnya:
Mekanisme dan Pertumbuhan ETF
Secara definisi, ETF adalah dana investasi yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek sepanjang jam perdagangan berlangsung. Sebagian besar produk ini dikelola secara pasif untuk melacak kinerja indeks tertentu, meskipun ETF yang dikelola secara aktif juga mulai berkembang.
Popularitas instrumen ini didorong oleh struktur biayanya yang kompetitif dibandingkan reksa dana konvensional. Biaya manajemen (expense ratio) yang rendah menjadi daya tarik utama bagi investor yang sadar akan efisiensi modal.
Selain itu, tingkat transparansi ETF dinilai lebih tinggi karena investor dapat memantau komposisi portofolio (kumpulan aset) secara harian.
Faktor pembeda yang paling signifikan adalah likuiditas dan fleksibilitas transaksi. Berbeda dengan reksa dana yang hanya bisa ditransaksikan berdasarkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) di akhir hari, ETF dapat diperjualbelikan secara intraday.
Hal ini memungkinkan investor untuk merespons pergerakan pasar secara real-time, baik untuk mengambil keuntungan jangka pendek maupun mengamankan posisi saat pasar sedang bergejolak.
Pemahaman mendalam mengenai struktur pasar ini penting bagi para pelaku pasar keuangan untuk melihat tren arus dana global dan sentimen risiko yang sedang terjadi.
DI Indonesia juga terdapat ETF namun jarang sekali terdengar akibat kurangnya minat investor terhadap ETF di Indonesia. Terdapat beberapa faktor seperti kurangnya likuditas di pasar ETF dan sangat terbatasnya pilihan ETF yang ada di Indonesia.
Berbeda dengan ETF di Amerika Serikat yang memiliki kombinasi sektor dan juga index yang berbeda-beda, Indonesia hanya memiliki total sebanyak 46 ETF saja yang diperdagangkan hingga hari ini. Berikut adalahnya daftarnya
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5335986/original/018612600_1756812018-Sudi_Abdallah__1_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5012276/original/055492600_1732021216-20241119AA_Indonesia_Vs_Arab_Saudi-15_2.JPG)