Fenomena Warga China Ramai-Ramai Masuk Islam, Ini Alasannya

5 hours ago 3
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah mencatat Islam bukanlah hal baru di daratan China. Agama ini telah menapakkan kakinya di Negeri Tirai Bambu sejak abad ke-7 Masehi. Namun, ada satu fase krusial dalam lini masa sejarah di mana warga China secara masif dan ramai-ramai memeluk agama Islam.

Fenomena gelombang mualaf yang masif ini terjadi pada masa kekuasaan Dinasti Ming (1368-1398 M), khususnya di bawah kepemimpinan sang kaisar pendiri, Zhu Yuanzhang.

Bagaimana peristiwa besar ini bisa terjadi?

Berdasarkan riset bertajuk "Islam in Imperial China" (2019), era kekuasaan Kaisar Zhu Yuanzhang dikenal sebagai salah satu fase paling kondusif bagi perkembangan Islam di China. Bahkan, era ini kerap disebut-sebut sebagai era keemasan (golden age) bagi komunitas Muslim di sana. Pada masa ini, Islam tidak lagi dipandang sekadar agama minoritas yang terasing, melainkan melebur ke dalam struktur sosial, politik, hingga administratif kekaisaran.

Penyebab utama dari fenomena warga China yang ramai-ramai masuk Islam ini tidak lepas dari kebijakan politik sang kaisar yang sangat toleran dan protektif terhadap umat Muslim.

Kaisar Zhu Yuanzhang secara terbuka menaruh kekaguman yang luar biasa terhadap ajaran Islam dan sosok Nabi Muhammad SAW. Sebagai bentuk penghormatan, sang kaisar bahkan memerintahkan pembangunan beberapa masjid di wilayah kekuasaannya, termasuk Masjid Jinjue di Nanjing yang megah.

Dukungan penuh dari sang penguasa tertinggi inilah yang menjadi katalis utama. Dengan adanya jaminan keamanan dan ruang gerak yang luas dari kekaisaran, dakwah Islam berkembang pesat secara sistemik. Penyebaran agama dilakukan melalui pendekatan kultural yang cair-mulai dari tingkat individu, komunitas, kampung, klan, hingga jaringan sosial perdagangan.

Menariknya, masifnya warga lokal China yang memeluk Islam juga didorong oleh proses asimilasi budaya yang dikenal dengan istilah sinasisasi.

"Bersamaan dengan dukungan tersebut, terjadi proses sinasisasi terhadap komunitas Muslim Hui atau asimilasi budaya yang secara perlahan membuat sebagian identitas kultural Islam mereka melebur ke dalam budaya Tionghoa," ungkap laporan riset "Islam in Imperial China: Sinicization of Minority Muslims and Synthesis of Thought".

Peleburan budaya ini membuat ajaran Islam menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat lokal China kala itu karena tidak dianggap menghapus identitas kebudayaan leluhur mereka.

Bukti paling historis dan monumental dari kekaguman sang kaisar tercermin dalam sebuah teks pujian puitis yang ia tulis sendiri, yang dikenal sebagai "Pujian 100 Kata" (The Hundred-word Eulogy).

Dalam bait puisi tersebut, Kaisar Zhu Yuanzhang memuji sosok Nabi Muhammad SAW sebagai figur universal, bijak, dan paling mulia di dunia yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Melalui puisi ini, para sejarawan menilai bahwa sang kaisar memiliki pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai Islam, meskipun ia sendiri tidak memeluknya.

Berkat kombinasi antara perlindungan politik dari kekaisaran, metode dakwah yang inklusif, serta asimilasi budaya yang harmonis, warga China pada era tersebut berbondong-bondong memeluk Islam, yang pada akhirnya membentuk fondasi kuat bagi komunitas Muslim Tionghoa (seperti suku Hui) hingga hari ini.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |