Gempuran Barang Murah China Bawa Petaka di RI, Pemerintah Bertindak

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Barang impor dari China masih menghantui pasar Indonesia. Harga yang murah membuat pasar domestik menjadi tidak kompetitif Pasalnya yang menjadi korban adalah UMKM.

"Nah, ini kan isunya kalau udah bicara market domestik, kan ada satu hal, yaitu maraknya barang-barang impor yang masuk ini. Yang akhirnya itu membuat produk kita menjadi tidak begitu kompetitif," ujar Menteri UMKM Maman Abdurrahman di Kantor Bank Indonesia, Jumat (28/11/2025).

"Kenapa tidak kompetitif? Ya, karena barang-barang... Contoh, salah satunya barang-barang dari China. Itu kan masuk dengan jumlah kuantiti yang besar, dengan harga yang murah. Nah, ini kan mengkanibalisasi produk-produk lokal kita," sambungnya.

Maman mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan Menteri Perdagangan dalam mencari solusi dari pasar domestik, utamanya UMKM yang tergerus oleh barang impor murah.

"Tadi pembicaraan saya dengan Pak Mendag, langkah awalnya kita akan menentukan HPP. Jadi, HPP beberapa produk-produk. Nanti kita tentukan dulu list nya dulu," terangnya.

Lebih lanjut, Maman menerangkan ada 10 produk prioritas yang disiapkan untuk diproduksi oleh UMKM dalam melawan produk impor murah dan menciptakan pasar yang lebih sehat.

"Ada 10 item produk misalnya. Yang ini memang diproduksi oleh UMKM kita. Dan kita bisa menyiapkan, bisa memproduksinya," tutur Maman.

Selanjutnya, dari list tersebut, nantinya pemerintah menetapkan HPP yang berlaku bagi produk impor tersebut.

"Nah, itu nanti kita akan list. Lalu mungkin solusi langkah ininya adalah kita tentukan HPP. Jadi, untuk produk-produk yang dari luar, dari Cina, HPP-nya kita batasin. Jadi, dia tidak bisa menjual di bawah itu," kata Maman.

Namun, dirinya masih belum bisa mengungkapkan 10 daftar list produk yang akan kena HPP tersebut.

"Sedang kita list. Saya belum bisa sampaikan sekarang. Karena pasti nanti kita lihat dulu beberapa faktor, indikator-indikator,"

"Tapi tentunya yang mempengaruhi kondisi serta memberikan penyerapan tenaga kerja, mendorong perekonomian di daerah dan lain sebagainya. Pasti pendekatan kurang lebih seperti itu," pungkasnya.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |