Guru Besar UGM Wanti-Wanti Penularan Kusta Terus Terjadi di Masyarakat

13 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Guru Besar Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. dr. Hardyanto Soebono, Sp.KK(K) mengatakan, kusta merupakan penyakit menular kronis yang bila tidak ditangani sejak dini dapat menyebabkan cacat permanen pada stadium lanjut. Hal ini merujuk pada tingginya angka penyakit kusta atau lepra di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, pada tahun 2023 terdapat hampir 15.000 kasus baru kusta di Tanah Air. Dengan prevalensi 0,63 kasus per 10.000 penduduk, Indonesia kini berada di peringkat ketiga dunia dengan jumlah penderita kusta terbanyak, setelah India dan Brasil.

Ironisnya, penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae ini justru kerap dianggap sebagai penyakit kuno dan tidak lagi berbahaya. Akibat stigma sosial yang kuat, banyak penderita memilih menyembunyikan kondisi mereka sehingga terlambat mendapat pengobatan.

"Angka prevalensi di beberapa daerah masih tinggi seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Di Yogyakarta memang paling rendah, tapi kasus tetap ada. Setiap bulan saya masih mendapat pasien baru. Artinya penularan itu terus terjadi di masyarakat," ujar Hardyanto dalam keterangannya dikutip dari website resmi UGM, Selasa (13/1/2026).

Ia menekankan, kusta 100 persen dapat disembuhkan apabila ditangani sebelum terjadi kecacatan. Tantangan utama saat ini, kata ia, bukan hanya medis, tetapi juga sosial.

"Stigma membuat penderita takut berobat. Padahal kusta adalah penyakit menular yang termasuk paling lemah penularannya dan bisa diobati," tegasnya.

Hardyanto mengungkapkan, gejala kusta sering menyerupai penyakit kulit lain. Namun, ciri khas utamanya adalah kulit yang mati rasa. Ia menyebut masyarakat bisa melakukan skrining awal dengan cara yang sangat sederhana.

"Tes paling gampang pakai kapas yang dipilin. Sentuhkan ke bercak dan area sekitarnya. Kalau tidak terasa, itu bisa jadi indikasi," jelasnya.

Ia mendorong masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan setiap menemukan kelainan kulit. Menurutnya, deteksi dini, edukasi berkelanjutan terutama di daerah dengan indeks kasus tinggi, ketersediaan obat yang merata, serta penghapusan stigma sosial menjadi kunci utama memutus rantai penularan.

Hardyanto juga meminta pemerintah memperkuat kembali sistem pengawasan kusta di lapangan.

"Pemerintah perlu menghidupkan kembali peran wakil supervisor (wasor) untuk pemeriksaan pasien agar penanganan lebih terstruktur," ungkapnya.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |