Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali menguat kencang yang didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah gangguan teknis perdagangan berjangka di Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Refinitiv, harga emas dunia ditutup di level US$4.230,37 per troy ons pada perdagangan Jumat (28/11/2025), naik 1,76% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sehari sebelumnya, pada Kamis (27/11/2025), harga emas sempat turun tipis 0,16% ke level US$4.157,27 per troy ons.
Kendati mencatat reli kuat di akhir pekan, secara mingguan harga emas dunia bahkan melonjak hingga 4,06%. Menjadi salah satu pekan dengan performa terbaik sejak Oktober 2025.
Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren kenaikan bulanan emas yang kini berada di jalur empat bulan beruntun di zona hijau.
Kenaikan harga emas terjadi di tengah kembalinya volatilitas pasar global setelah gangguan teknis melanda perdagangan kontrak emas berjangka di Chicago Mercantile Exchange (CME). Gangguan tersebut sempat menghentikan aktivitas transaksi untuk kontrak futures dan opsi emas di Comex, sehingga membuat harga spot bergerak liar akibat tipisnya likuiditas dan melebarnya spread bid-ask.
Beberapa pelaku pasar bahkan mengungkapkan bahwa ketika sistem CME belum sepenuhnya pulih, mereka harus kembali menggunakan metode manual, yaitu menghubungi broker dan dealer melalui telepon untuk melakukan hedging. Kondisi ini membuat harga emas semakin sensitif terhadap pergerakan spot di London, pusat utama perdagangan emas global.
Di saat yang sama, pembelian emas oleh bank sentral dunia serta arus masuk yang kuat ke instrumen berbasis emas seperti exchange-traded funds (ETF) terus menopang reli logam mulia. Secara tahun berjalan (year-to-date/YtD), harga emas masih menguat lebih dari 50%, menempatkannya pada jalur menuju kinerja tahunan terbaik sejak 1979.
Investor Global Ramai Proyeksikan Emas Tembus US$5.000 di 2026
Prospek harga emas ke depan juga semakin bullish setelah survei Goldman Sachs menunjukkan optimisme kuat dari kalangan investor institusi. Dalam survei terhadap lebih dari 900 klien institusi di platform Marquee, sebanyak 36% responden memperkirakan harga emas akan menembus rekor baru di US$5.000 per troy ons pada akhir 2026.
Sementara itu, 33% investor lainnya memprediksi harga emas bergerak di kisaran US$4.500-US$5.000 per troy ons dan secara keseluruhan lebih dari 70% responden memperkirakan harga emas akan terus naik tahun depan. Hanya sekitar 5% yang melihat potensi koreksi ke area US$3.500-US$4.000 dalam 12 bulan mendatang.
Goldman Sachs mencatat bahwa 38% investor menilai pembelian bank sentral merupakan pendorong utama kenaikan harga emas, sementara 27% lainnya menyebut kekhawatiran fiskal global sebagai faktor dominan.
Minat pada emas semakin meningkat di tengah inflasi yang masih bertahan, ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, serta pergeseran portofolio global dari obligasi ke aset alternatif. Tingginya permintaan emas fisik didukung oleh karakteristiknya yang memiliki likuiditas tinggi, minim risiko gagal bayar, dan berstatus aset cadangan netral bagi bank sentral.
Phil Streible, Chief Market Strategist Blue Line Futures, menegaskan bahwa kondisi global masih sangat mendukung reli emas.
"Prospek ekonomi dunia menunjukkan tekanan yang belum mereda. Banyak negara menghadapi pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang masih tinggi. Itu semua menjadi katalis positif bagi emas," ujarnya dikutip dari CNBC International.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319082/original/060228700_1755504247-pspr.jpg)











:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4939096/original/049996300_1725747991-000_36FT7CN.jpg)



