Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia terbang ke level tertinggi tiga tahun. Dunia tetap khawatir terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump beralih ke jalur negosiasi dengan Iran.
Merujuk Refinitiv, harga minyak brent yang menjadi acuan global pada perdagangan Jumat (27/3/2026) di US$ 112,57 per barel atau naik 4,2%. Harga ini adalah yang tertinggi sejak 4 Juli 2022 (US$ 113,5 per barel) atau hampir empat tahun.
Dalam sepekan, harganya naik 0,38%. Harga minyak WTI sudah menguat selama enam pekan beruntun. Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 atau sebulan terakhir, harganya melesat 55,3%.
Sepanjang Maret ini, harganya juga sudah terbang 55,31%. Harga minyak bulanan brent kemungkinan akan mengakhiri Maret dengan menguat lebih dari 50% atau yang tertinggi sejak 1990an.
Penguatan terbesar dalam sebulan sebelumnya dicatat pada September 1990 (46,2%) saat perang Teluk meledak.
Sementara itu, harga minyak WTI pada Jumat kemarin ditutup di US$ 99,64 per bare atau naik 5,5%.
Harga ini juga menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022.
Dalam sepekan, harganya naik 1,34% pada pekan ini setelah melemah 0,40% pada pekan lalu.
Harga minyak pada Jumat ditutup di level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, karena langkah Trump untuk bernegosiasi dengan Iran gagal meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan besar pasokan di Timur Tengah.
Harga minyak naik karena langkah Trump yang memberikan perpanjangan 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz gagal menenangkan kekhawatiran pasokan.
Trump menyatakan di media sosial bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan sangat baik, meskipun ada pernyataan keliru dari media berita palsu dan pihak lain.
Sebagai bagian dari pengumuman tersebut, Trump mengatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April. Iran sendiri belum memberikan komentar atas pernyataan terbaru ini.
Sementara itu, dua kapal kontainer milik China Ocean Shipping Company mencoba melintasi selat namun dipaksa berbalik, menurut perusahaan pelacak kapal MarineTraffic. China adalah sekutu Iran, dan sebelumnya Iran menyatakan kapal-kapal bersahabat dapat melintas.
Ini merupakan upaya pertama oleh perusahaan pelayaran besar untuk melintasi jalur laut tersebut sejak perang dimulai. COSCO sendiri merupakan perusahaan pelayaran terbesar keempat di dunia berdasarkan kapasitas.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil.
Dalam pertemuan kabinet pada Kamis, Trump juga menyatakan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas minggu ini sebagai "hadiah" bagi AS.
Pasar terus memantau perkembangan di Selat Hormuz untuk melihat tanda-tanda gangguan atau de-eskalasi, karena ketegangan antara Washington dan Teheran terus memicu volatilitas harga energi.
Pernyataan Trump menunjukkan bahwa setidaknya sebagian pengiriman minyak masih dapat melintas, yang berpotensi meredakan kekhawatiran jangka pendek terhadap pasokan.
Namun, para analis memperingatkan bahwa pasar minyak global tetap rapuh, bahkan jika sebagian pengiriman kembali berjalan.
"Pasar minyak tidak meremehkan gangguan di Selat Hormuz; pasar justru menyerapnya," kata Paola Rodriguez-Masiu, kepala analis minyak di Rystad Energy, kepada CNBC International.
"Selama hampir empat minggu, pasar menunjukkan ketahanan yang luar biasa... didukung oleh surplus sebelum perang, minyak yang sudah berada di laut, serta cadangan kebijakan yang menjadi penyangga sementara. Namun fase itu kini mulai berakhir." Imbuhnya.
Menurut Rystad, sistem global telah bergeser dari kondisi terlindungi menjadi rapuh setelah berminggu-minggu kehilangan pasokan dan penurunan inventori, sehingga ruang untuk menyerap guncangan semakin terbatas.
Diperkirakan sekitar 17,8 juta barel per hari aliran minyak dan bahan bakar yang melewati Selat Hormuz telah terganggu, dengan total kehilangan hampir 500 juta barel hingga saat ini.
Pelaku pasar (trader) bersikap hati-hati terhadap pernyataan Presiden Trump terkait pembicaraan dengan Iran. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa proposal AS yang disampaikan ke Teheran melalui Pakistan bersifat "sepihak dan tidak adil".
"Investor tetap fokus pada durasi perang, bukan sekadar headline. Setiap penutupan berkepanjangan Selat Hormuz atau kerusakan infrastruktur akan mempertahankan premi risiko yang signifikan dalam harga," kata analis StoneX, Alex Hodes.
Meski Trump memperpanjang tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi penghancuran infrastruktur energinya, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah. Trump bahkan mempertimbangkan penggunaan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
"Kami melihat pasar minyak mulai kebal terhadap komentar Trump yang bersifat menenangkan dan nada optimistis soal kesepakatan, terutama mengingat adanya rencana pengiriman tambahan 10.000 pasukan ke Iran," tulis Ritterbusch & Associates dalam catatan kepada klien.
Perang Iran telah menghilangkan sekitar 11 juta barel per hari dari pasokan minyak global, dengan International Energy Agency menyebut krisis ini lebih buruk dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an jika digabungkan.
"Setiap hari aliran melalui Selat Hormuz tetap terbatas, lebih dari 10 juta barel minyak hilang... sehingga pasar minyak semakin ketat," kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
Analis Macquarie Group mengatakan bahwa harga minyak bisa turun cepat jika perang segera mereda, namun tetap akan berada di atas level sebelum konflik. Sebaliknya, harga bisa melonjak hingga $200 per barel jika perang berlanjut hingga akhir Juni.
Di sisi lain, produsen minyak Rusia memperingatkan pembeli bahwa mereka dapat menyatakan force majeure atas pasokan dari pelabuhan utama di Laut Baltik, menyusul serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)


