Harita Nickel Menata Tambang, Menjaga Masa Depan RI yang Berkelanjutan

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pertambangan nikel kerap menjadi sorotan karena kebutuhan energinya besar, seiring skala operasinya yang masif. Ketika dunia bergerak menuju transisi energi dan permintaan bahan baku kendaraan listrik meningkat, tuntutan agar proses penambangan dan pemurnian berjalan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan pun ikut menguat.

Dalam situasi tersebut, perusahaan tambang nikel perlu menempatkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG sebagai bagian dari operasi bisnis. Salah satu perusahaan yang cukup menonjol dalam penerapan ESG adalah Harita Nickel. Perusahaan ini telah memasukkan prinsip ESG ke dalam cara kerja, mulai dari perencanaan hingga eksekusi di lapangan.

Tata kelola Harita Nickel disusun secara terintegrasi, mencakup kegiatan tambang, smelter, pengolahan limbah, hingga reklamasi, agar seluruh rantai operasi berjalan dalam satu sistem yang berkelanjutan.

Atas upayanya dalam mengembangkan praktek ESG di pertambangan melalui tata kelola terintegrasi yang menyatukan kegiatan tambang, smelter, pengolahan limbah, dan reklamasi dalam satu sistem berkelanjutan, CNBC Indonesia menganugerahkan ESG Award kepada
Harita Nickel.
Penghargaan ini juga ditujukan bagi korporasi yang terus berinovasi dalam menekan emisi karbon, menghadirkan produk dan layanan ramah lingkungan, serta berkontribusi aktif dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

Acara penghargaan sudah digelar dalam ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Harita Nikel meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)Foto: Harita Nikel meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)
Harita Nikel meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)

Harita juga menjadi pionir pengoperasian fasilitas High Pressure Acid Leach atau HPAL pertama di Indonesia, yang memungkinkan bijih limonit berkadar rendah diolah menjadi bahan strategis bagi rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Di Pulau Obi, pendekatan tersebut diterjemahkan ke langkah yang lebih konkret, mulai dari peningkatan efisiensi energi dan penguatan ekonomi sirkular, perbaikan pengelolaan tailing, percepatan reklamasi, hingga program sosial serta penguatan tata kelola perusahaan.

Dari Energi Bersih ke Ekonomi Sirkular

Harita Nickel menjalankan strategi komprehensif dengan menyeimbangkan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.

Salah satu pencapaiannya adalah meningkatnya penggunaan energi terbarukan hingga 6.861.946 GJ pada 2024, tumbuh 29,8% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan energi bersih ini berasal dari pemanfaatan sumber rendah karbon seperti other renewables dan Biosolar 35%.

Di saat yang sama, Harita Nickel juga mengembangkan pendekatan pemanfaatan kembali limbah untuk menciptakan nilai tambah. Dari proses smelting RKEF, dihasilkan slag nikel yang dimanfaatkan menjadi batako, beton, kubus berongga, serta material pengeras jalan. Material berbasis slag tersebut digunakan untuk pembangunan area kerja lebih dari 409.000 m², yang sekaligus menekan kebutuhan material konstruksi baru.

Area Tambang, Smelter Feronikel dan HPAL Harita Nikel di Obi, Halmahera Selatan, Jumat (13/6/2025). (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)Foto: Area Tambang, Smelter Feronikel dan HPAL Harita Nikel di Obi, Halmahera Selatan, Jumat (13/6/2025). (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)
Area Tambang, Smelter Feronikel dan HPAL Harita Nikel di Obi, Halmahera Selatan, Jumat (13/6/2025). (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)

Untuk tailing HPAL, Harita Nickel menerapkan teknologi dry stack yang mencakup netralisasi, pemadatan menggunakan filter press, hingga pengolahan air lanjutan. Dengan kapasitas mencapai 49 juta ton atau sekitar 25 juta meter kubik, fasilitas dry stack perusahaan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Pendekatan ini dinilai lebih aman secara geoteknik dan meminimalkan risiko pencemaran, sekaligus mendorong praktik pengelolaan tailing yang lebih maju.

Reklamasi Progresif untuk Memulihkan Lahan Tambang

Harita Nickel mengadopsi pendekatan progressive reclamation, yakni melakukan reklamasi segera setelah blok tambang selesai ditambang tanpa menunggu masa IUP berakhir.

Pendekatan ini mempercepat pemulihan area tambang dan mengurangi risiko degradasi lingkungan.

Sejak 2017 hingga kuartal I-2025, perusahaan telah mereklamasi 105 hektare area tambang, dan menargetkan tambahan 66 hektare.

Investasi reklamasi sekitar Rp 250 juta per hektare mencakup penataan kembali lahan, penanaman vegetasi, dan pengendalian erosi.

Nurseri dan Reklamasi pasca tambang Harita Nikel, di Obi, Halmahera Selatan. (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)Foto: Nurseri dan Reklamasi pasca tambang Harita Nikel, di Obi, Halmahera Selatan. (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)
Nurseri dan Reklamasi pasca tambang Harita Nikel, di Obi, Halmahera Selatan. (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)

Di Pulau Obi, salah satu tantangan reklamasi adalah topografi curam yang rentan sedimentasi. Untuk mengatasinya, Harita membangun kolam endapan berkapasitas 2 juta meter kubik di atas lahan 43 hektare. Lumpur hasil endapan diolah ulang dan dimanfaatkan sebagai media tanam pada area reklamasi.

Perusahaan juga mengoperasikan Loji Central Nursery, pusat pembibitan yang dilengkapi shade house, greenhouse hidroponik, laboratorium lingkungan, dan fasilitas pemupukan.

Spesies yang ditanam antara lain cemara laut, kayu putih, ketapang, kayu nani, hingga gofasa, dipilih berdasarkan kesesuaian ekologis dan efektivitas pemulihan lahan.

Loji Central NurseryFoto: Harita Nickel
Loji Central Nursery

Program Sosial

Keberlanjutan bagi Harita Nickel tidak hanya terkait lingkungan, tetapi juga masyarakat di sekitar wilayah operasi. Perusahaan menjalankan program sosial yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan, membuka lapangan kerja, serta memperluas akses pendidikan dan ekonomi bagi masyarakat Pulau Obi.

Program yang dijalankan antara lain pelatihan kerja, dukungan bagi UMKM lokal, pengembangan pertanian, serta pembangunan infrastruktur sosial.

Pendidikan dan peningkatan kapasitas menjadi salah satu fokus, termasuk pelatihan teknis dan peningkatan literasi, serta kolaborasi dengan lembaga pendidikan untuk menyiapkan tenaga lokal memasuki dunia kerja modern.

Tata Kelola dan Standar Pertambangan Bertanggung Jawab

Dari sisi tata kelola, Harita Nickel menempatkan transparansi, kepatuhan, dan manajemen risiko sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Pada 2024, perusahaan mengikuti proses IRMA assessment (Initiative for Responsible Mining Assurance), sebuah standar global komprehensif yang menilai praktik pertambangan bertanggung jawab, mencakup perlindungan lingkungan, keselamatan dan kesejahteraan pekerja, keterlibatan masyarakat, transparansi, serta manajemen risiko.

Karyawan Harita Nickel melakukan penanaman mangrove dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. (Dok. Harita Nickel atau PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)Foto: Karyawan Harita Nickel melakukan penanaman mangrove dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. (Dok. Harita Nickel atau PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
Karyawan Harita Nickel melakukan penanaman mangrove dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. (Dok. Harita Nickel atau PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)

Melalui proses tersebut, perusahaan mengevaluasi kesesuaian operasional dengan standar internasional sekaligus mengidentifikasi ruang perbaikan untuk penguatan tata kelola di seluruh rantai nilai. Penguatan governance juga tercermin pada penerapan sistem manajemen risiko, peningkatan kepatuhan, dan penyusunan laporan keberlanjutan yang komprehensif dan transparan.

Rangkaian inisiatif ESG tersebut berjalan beriringan dengan strategi bisnis Harita Nickel. Penguatan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan operasi, efisiensi proses, dan penerimaan pasar, terutama ketika rantai pasok global semakin menuntut standar keberlanjutan.

HPAL Membuka Nilai Tambah dari Bijih Limonit

Salah satu tonggak penting Harita Nickel adalah keberhasilan mengoperasikan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) pertama di Indonesia melalui kerja sama Harita-Lygend di Pulau Obi.

Teknologi HPAL memungkinkan pengolahan bijih nikel kadar rendah atau limonit (1-1,5%) yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis, sekaligus menghubungkan Indonesia langsung dengan rantai pasok baterai global.

Harita Group Pulau Obi Maluku Utara. (Dok. Harita Group)Foto: Harita Group Pulau Obi Maluku Utara. (Dok. Harita Group)
Harita Group Pulau Obi Maluku Utara. (Dok. Harita Group)

Berbeda dari smelter berbasis pyrometallurgy atau RKEF yang hanya dapat mengolah bijih saprolit, HPAL mengubah limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku nikel dan kobalt untuk baterai EV.

Dampaknya terlihat jelas dari peningkatan volume penjualan HPAL yang naik dari 42.251 ton pada 2022 menjadi 60.271 ton pada 2023, dan melonjak ke 102.053 ton pada 2024. Dalam dua tahun, pertumbuhan tersebut mencatat CAGR 55,4%, menandai ekspansi kapasitas pemurnian yang pesat setelah beroperasinya fasilitas baru.

Pertumbuhan kapasitas HPAL dan konsistensi produksi MHP juga menjadi motor kinerja finansial. Pada 2024, Harita Nickel membukukan pendapatan Rp 26,96 triliun, meningkat dari Rp 23,86 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bersih terjaga di Rp 7,71 triliun, mencerminkan efisiensi operasional, optimalisasi proses produksi, dan kontribusi ekosistem nikel terintegrasi di Pulau Obi.

Menyambung Hilirisasi dengan Rantai Pasok Baterai Global

Hilirisasi Harita Nickel dirancang tidak berjalan terpisah. Seluruh proses mulai dari penambangan, pengolahan RKEF, pemurnian HPAL, pemanfaatan limbah, sistem logistik, hingga infrastruktur pendukung berada dalam satu kawasan industri terintegrasi.

Model terintegrasi ini memperkuat daya saing melalui efisiensi operasional dan energi, kepastian pasokan bahan baku bagi smelter, serta kualitas dan konsistensi produk yang terukur untuk pasar global.

Dari sisi lingkungan, integrasi proses juga membantu pengendalian yang lebih baik karena limbah, air, dan sumber daya dipantau dari satu sistem terpadu.

Harita Group Pulau Obi Maluku Utara. (Dok. Harita Group)Foto: Harita Group Pulau Obi Maluku Utara. (Dok. Harita Group)
Harita Group Pulau Obi Maluku Utara. (Dok. Harita Group)

Model terintegrasi HPAL dan RKEF memungkinkan Harita Nickel menghasilkan produk bernilai tinggi yang dibutuhkan industri baterai global. Hilirisasi ini berdampak pada penciptaan nilai tambah mineral, penyerapan tenaga kerja, peningkatan devisa, serta kontribusi bagi pembangunan kawasan timur Indonesia.

Dalam konteks transisi menuju kendaraan listrik, ekosistem terintegrasi yang dibangun di Pulau Obi menempatkanHarita Nickel pada posisi strategis untuk berkontribusi terhadap ambisi Indonesia menjadi pusat rantai pasok baterai dunia, dengan keberlanjutan sebagai salah satu penopang utama daya saing jangka panjang.

Proses PenambanganFoto: Harita Nickel
Proses Penambangan

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |