Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
04 March 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia- Lonjakan harga energi pekan ini terkonsentrasi di gas alam Eropa.
Pemicu kenaikan berasal dari penghentian produksi LNG di kompleks Ras Laffan dan Mesaieed, Qatar, setelah serangan drone Iran. Fasilitas ini memasok sekitar 20% LNG global. Ketika produksi berhenti, pasar langsung menghitung potensi kekurangan kargo.
Penutupan SelatHormuz juga semakin memperparah pasokan gas danLNG.
Sekitar 20% perdagangan LNG global juga melalui Selat Hormuz dengan volume sekitar 290 juta meter kubik per hari. Qatar memimpin ekspor LNG melalui jalur ini.
Sekitar 80% LNG yang melewati Selat Hormuz menuju Asia dan 20% menuju Eropa.
Eropa berada dalam posisi rapuh karena cadangan gas Uni Eropa berada di kisaran 30%, lebih rendah dari tahun lalu. Jerman bahkan tercatat di bawah 21%. Ruang pasokan yang tipis mempercepat reaksi harga.
Trading Economics per 3 Maret memperlihatkan lima komoditas mencatat kenaikan mingguan paling tajam. Gas alam Eropa mendominasi daftar, disusul produk turunan minyak dan batu bara. Lonjakan terjadi dalam waktu berdekatan, dipicu gangguan pasokan LNG Timur Tengah dan kekhawatiran jalur distribusi energi global.
1. UK Gas (+86,63% weekly)
Gas Inggris mencatat kenaikan mingguan tertinggi, 86,63%, ke 138,42 pence per therm. Inggris memiliki kapasitas penyimpanan terbatas dan bergantung pada impor. Persediaan domestik dilaporkan berada di bawah 30% pada akhir Februari.
Foto: Trading Economics
Pergerakan Harga UK Gas
Ketika suplai global menyempit, pasar Inggris bereaksi lebih agresif dibanding daratan Eropa.
2. German Gas (+77,58% weekly)
Kontrak gas alam Jerman melonjak 77,58% dalam sepekan ke €57,70/MWh. Aksi beli muncul setelah fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar menghentikan produksi. Kompleks tersebut memasok sekitar seperlima LNG dunia.
Foto: Trading Economics
Pergerakan Harga German Gas
Eropa berada dalam posisi sensitif karena level penyimpanan hanya sekitar 30%, sementara Jerman berada di bawah 21%. Pasokan yang menyusut memperketat pasar spot dan mempercepat reli harga.
3. TTF Gas (+75,43% weekly)
Benchmark gas Eropa, TTF Belanda, naik 75,43% menjadi €53,60/MWh. Kenaikan mengikuti kontrak Jerman karena keduanya bergerak dalam ekosistem pasar yang sama. Gangguan ekspor LNG dari Timur Tengah memperbesar risiko kekurangan suplai menjelang musim pengisian kembali cadangan musim dingin.
Arus kapal tanker yang menghindari Selat Hormuz menambah tekanan pada distribusi regional.
4. Heating Oil (+27,53% weekly)
Kontrak heating oil AS naik 27,53% dalam sepekan ke US$3,23 per galon. Produk ini sensitif terhadap gangguan rantai pasok minyak mentah dan kilang.
Ketegangan geopolitik memicu gangguan produksi di beberapa negara produsen. Risiko distribusi melalui kawasan Teluk membuat premi risiko meningkat di pasar energi olahan.
5. Batu Bara (+17,95% weekly)
Harga batu bara melonjak 17,95% ke US$138 per ton, tertinggi sejak Desember 2024. Ketika gas melonjak, pembangkit listrik beralih ke batu bara demi menjaga biaya produksi. Negara-negara Asia yang bergantung pada LNG Qatar mulai mengantisipasi skenario peralihan bahan bakar. Permintaan jangka pendek meningkat cepat, sementara pasokan global tidak berubah signifikan.
Rangkaian kenaikan ini mengubah peta biaya energi global dalam waktu singkat.
Gas menjadi episentrum gejolak, lalu menular ke bahan bakar turunan dan batu bara. Jika gangguan LNG berlanjut dan distribusi Timur Tengah tetap terganggu, tekanan harga energi berpotensi bertahan lebih lama. Dampaknya akan terasa pada inflasi, biaya listrik, dan harga industri berbasis energi dalam beberapa pekan ke depan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351436/original/075591100_1758049411-noqcog0f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403623/original/076212200_1762332363-PSS.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)