IHSG Ambruk! Bos Bursa: Ada Panic Selling Gegara Pengumuman MSCI

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk sampai 8% pada awal perdagangan sesi 2 hari ini, Rabu (28/1/2026). 

Sebanyak 804 saham turun, 124 tidak bergerak, dan hanya 30 saham yang naik. Nilai transaksi mencapai Rp 31,86 triliun dengan dominasi aksi jual para investor. 

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman mengatakan bahwa kondisi saat ini adalah panic selling investor setelah pengumuman dari MSCI. 

Pengumuman MSCI tersebut merupakan hasil diskusi antara Bursa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang berlangsung sejak tahun lalu hingga pekan lalu. 

"Diskusi itu berlangsung terus dengan MSCI sampai minggu lalu dan baru kita terima hasilnya, jadi hasil hari ini adalah ada panic selling," katanya saat di Gedung Bursa efek Indonesia, Rabu (28/1/2026).

Iman mengatakan dalam diskusi tersebut, BEI telah menyampaikan keberatan mengenai persyaratan free float yang diberlakukan di Indonesia. Pasalnya hal tersebut tidak berlaku di negara lain. 

"Pengenaan proposal mereka tak berlaku di bursa lain. Jadi kami minta equal treatment sebagai indeks konstituen," katanya.

Sebagai informasi, IHSG ambruk hari ini merespons pengumuman MSCI terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari BEI.

MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.

Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.

"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.

Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.

Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan pengumuman MSCI tersebut berdampak kepada risiko volatilitas meningkat dan potensi outflow asing bisa muncul, khususnya pada saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks.

Sebagaimana diketahui, sejumlah saham di Indonesia bergerak naik dengan narasi hendak masuk ke dalam indeks MSCI.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |