IHSG Paling Murah Se-Asia, Saatnya Serok atau Tunggu Lagi?

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah terjun hampir 25% dari puncaknya tahun ini. Berkat itu, valuasnya jadi paling murah di Asia. Apakah ini jadi momen menarik untuk akumulasi?

Dari data berikut terlihat bahwa IHSG alias bursa saham Indonesia sedang dinilai terlalu murah di mata dunia, setidaknya di kawasan Asia Pasifik.

Saat beberapa negara seperti Taiwan mulai terlihat mahal, valuasi IHSG justru berada di level yang jarang terjadi dalam sejarahnya.

Secara sederhana, valuasi IHSG saat ini berada di kisaran 10,2 kali untuk proyeksi laba 12 bulan ke depan. Angka ini sebenarnya bukan yang paling mencolok. Namun, yang menjadi perhatian adalah posisinya terhadap rata-rata historis.

Dengan Z-Score di sekitar -2,2, artinya valuasi pasar saham Indonesia saat ini berada jauh di bawah rata-rata 10 tahun terakhir. Dalam bahasa sederhana, IHSG sedang diperdagangkan dengan diskon yang cukup dalam dibandingkan biasanya.

Keterangan:

  • P/E (Price to Earnings Ratio): Perbandingan harga saham terhadap laba perusahaan
  • P/B (Price to Book Value): Perbandingan harga saham terhadap nilai buku
  • f12m (forward 12 months): Proyeksi kinerja 12 bulan ke depan
  • f24m (forward 24 months): Proyeksi kinerja 24 bulan ke depan
  • LTM (Last Twelve Months): Data historis 12 bulan terakhir
  • Z-Score: Ukuran seberapa jauh valuasi saat ini dibanding rata-rata historis (dalam satuan standar deviasi)

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan kondisi ini seperti sebuah apartemen di lokasi strategis.

Selama bertahun-tahun, harga rata-ratanya berada di kisaran Rp1 miliar. Namun sekarang, unit yang sama ditawarkan hanya sekitar Rp700 juta.

Bukan karena kualitasnya menurun, melainkan karena situasi pasar sedang kurang kondusif, misalnya tekanan global, suku bunga tinggi, atau aliran dana asing yang keluar.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang mungkin memilih menunggu. Namun bagi investor yang melihat dari sisi valuasi, situasi ini justru terlihat sebagai peluang.

Fenomena inilah yang sedang dilihat oleh investor global saat ini. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia, Indonesia bukan hanya murah, tetapi juga menjadi salah satu yang paling terdiskon terhadap rata-rata historisnya sendiri.

Sebaliknya, pasar seperti Taiwan justru berada di posisi yang berbeda. Valuasinya saat ini sudah berada di atas rata-rata historis, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi serta sentimen yang lebih positif dari investor.

Perbedaan ini menciptakan kontras yang cukup tajam. Di satu sisi, ada pasar yang sudah dihargai premium. Di sisi lain, ada pasar seperti Indonesia yang justru sedang berada di fase "kurang diminati", sehingga valuasinya turun cukup dalam.

Kesimpulannya, IHSG saat ini tidak hanya terlihat murah dibandingkan pasar lain di Asia, tetapi juga sedang diperdagangkan jauh di bawah nilai wajarnya dalam konteks historis.

Pertanyaannya sekarang, apakah kondisi ini merupakan peluang bagi investor, atau justru mencerminkan risiko yang masih perlu diwaspadai?

Dalam jangka pendek, mungkin tekanan jual masih bisa saja terjadi, mengingat sampai Mei 2026 masih ada persoalan teknis, terutama soal transparansi kepemilikan dan free float yang akan dibahas lebih lanjut oleh regulator, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama MSCI akan bertemu mulai bulan depan.

Hasil pertemuan itu nantinya akan menjadi bahan pertimbangan MSCI untuk memutuskan apakah Indonesia tetap dipertahankan sebagai emerging market, atau turun kasta ke frontier market.

Oleh karena itu, pelaku pasar masih waspada jika ada tekanan jual yang berlanjut.

Meski begitu, justru momen sekarang juga menjadi momentum untuk kita bisa melirik saham value, terutama yang punya rekam jejak dividen konsisten dan fundamental yang sehat.

Kisruh soal transparansi hingga tekanan risiko geopolitik seharusnya menyadarkan kita bahwa pasar itu tidak selalu rasional dalam jangka pendek. Sentimen bisa berubah cepat, harga bisa jatuh lebih dalam dari yang seharusnya, dan keputusan investor sering kali dipengaruhi rasa takut, bukan sekadar data.

Di fase seperti ini, saham-saham dengan fundamental kuat biasanya ikut terseret turun, meskipun kinerjanya tidak banyak berubah. Inilah yang sering disebut sebagai kondisi "salah harga" (mispricing), ketika harga pasar tidak sepenuhnya mencerminkan nilai sebenarnya.

Bagi investor yang lebih sabar, kondisi ini justru membuka ruang untuk mulai mengakumulasi secara bertahap. Fokusnya bukan lagi sekadar mengejar momentum, tetapi mencari perusahaan yang punya arus kas stabil, utang terjaga, dan kemampuan membagikan dividen secara konsisten.

Selain itu, dividen juga bisa menjadi "penyangga" di tengah volatilitas. Saat harga saham belum bergerak naik, investor tetap mendapatkan imbal hasil dari pembagian laba. Ini membuat strategi value investing terasa lebih defensif dibandingkan sekadar berburu saham yang sedang naik.

Pada akhirnya, fase pasar seperti sekarang sering kali menjadi ujian sekaligus peluang. Ujian untuk tetap disiplin dan tidak terbawa emosi, sekaligus peluang bagi mereka yang berani melihat lebih jauh dari sekadar sentimen jangka pendek.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |