Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak ambruk lebih dari 2%. Per pukul 14.33 WIB, indeks turun 194,24 poin atau 2,17% ke level 8.742,51. Meski demikian, beberapa menit setelahnya IHSG memangkas koreksi signifikan hingga kurang dari 1%.
Sejumlah analis pun buka suara terkait ambruknya IHSG secara tiba-tiba dan mengaitkan dengan kondisi geopolitik global yang semakin memanas.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengungkapkan ada dua kemungkinan yang ditanggapi oleh pelaku pasar dan investor yang bermuara ke sektor komoditas.
Maximilianus menyebut kemungkinan tensi geopolitik semakin bertambah luas dengan adanya gelombang protes di Iran dimana Amerika berpotensi untuk terlibat.
Lebih lanjut, Maximilianus mengungkapkan kondisi dari dalam negeri AS sendiri ikut menjadi perhatian pelaku pasar. Diketahui Gubernur The Fed Jerome Powell sedang menjalani penyelidikan kriminal federal terkait renovasi senilai US$ 2.5 miliar. Powell merasa bahwa penyelidikan ini merupakan hasil dari rasa frustasi yang telah lama dirasakan oleh Trump atas pemangkasan tingkat suku bunga Fed Rate. Powell mengatakan bahwa dalam menjalankan tugasnya, Powell tidak mengenal rasa takut atau pilih kasih politik, hanya fokus pada mandat inflasi dan tenaga kerja. Hal ini akan mengganggu independensi The Fed kedepannya.
"Harga emas dan perak naik ke rekor tertinggi akibat dua hal tersebut," ungkapnya.
Harga logam mulia (emas) dan ekuitas (saham) secara historis cenderung memiliki korelasi rendah hingga negatif, yang berarti saat ekuitas turun, emas sering naik (dan sebaliknya), dengan emas berfungsi sebagai pelindung nilai (hedge) portofolio, terutama saat krisis. Namun, korelasi ini tidak selalu sama, dengan emas kadang bergerak searah dengan ekuitas dalam kondisi pasar tertentu, meski seringkali tetap menjadi aset safe haven saat ketidakpastian ekonomi meningkat.
Ekonom sekaligus Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga mengaitkan koreksi dalam IHSG hari ini dengan gejolak geopolitik global.
"Hemat saya berkaitan dengan dinamika geopolitik. Terus, terdapat aksi profit taking saham energi turut merupakan indikasi sebagai salah satu penyebab terkoreksinya IHSG," terang Nafan.
Adapun, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat koreksi dalam hari ini terjadi karena adanya aksi profit taking di saham-saham energi.
"Kami mencermati koreksi dari IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2%, dimana kami perkirakan adanya kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan. Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif," ungkap Herditya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/1/2025).
Meski sempat terkoreksi dalam, analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan bahwa ini adalah koreksi wajar bagi IHSG.
"Saya melihat hanya koreksi yang wajar, aksi profit taking dari kenaikan yang cukup besar belakangan ini. Adapun terpantau sentimen risk off terbatas dari kekuatiran perkembangan di Iran dan langkah investigasi terhadap Powell oleh Kemenkum AS," jelas Lukman.
Sebagai informasi, pasar keuangan Indonesia hanya akan dibuka selama empat hari pada pekan ini. Pasalnya ada libur Isra Mi'raj pada Jumat sehingga pasar tutup.
Mengingat perdagangan yang relatif pendek, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan.
Pelaku pasar kini beralih fokus ke penantian inflasi AS yang akan rilis pekan depan sampai memantau sejumlah harga komoditas yang terus bergerak naik.
Saat ini, pasar berangkat dari perkiraan sementara bahwa inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya di atas 3%.
Angka tersebut bukan merupakan rilis resmi CPI Desember, melainkan estimasi berbasis data terakhir yang tersedia, mengingat Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) tidak mengumpulkan data pada Oktober 2025 akibat government shutdown dan tidak merilis data bulanan November.
Baca artikel CNBC Indonesia "IHSG Tiba-Tiba Anjlok 2%, Analis Ungkap Alasannya" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260112144811-17-701632/ihsg-tiba-tiba-anjlok-2-analis-ungkap-alasannya
Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)