India Tenggelamkan Harga Batu Bara, Untung Ada China

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menguat setelah jatuh. Kenaikan harga ini ditopang mulai melemahnya pasokan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 107,4 per troy ons atau menguat 0,28% pada perdagangan Senin (12/1/2026).

Penguatan ini terjadi setelah harganya melemah 0,42% pada akhir pekan lalu.

Harga batu bara menguat setelah kabar baik dari China. Pasar batu bara kokas China mulai bergerak positif di awal minggu ini setelah beberapa minggu mengalami tekanan.

Aktivitas perdagangan dilaporkan meningkat dan harga batu bara kokas sedikit naik karena sentimen pasar yang lebih optimistis setelah periode pembalikan harga yang stagnan dan jual-beli yang pelan.

Pasar batu bara termal domestik China tetap mengalami kenaikan harga di pelabuhan utara dan daerah produksi selama pekan terakhir. Hal ini terjadi seiring penurunan inventori (stok) di pelabuhan-pelabuhan utama setelah masa libur Tahun Baru, yang mendukung tren kenaikan harga.

China meningkatkan produksi batu bara untuk memastikan pasokan, tetapi kebijakan itu mulai berubah karena oversupply dan harga yang terus melemah sepanjang 2025. Oversupply ini menyebabkan harga batu bara turun dan mendorong regulator untuk lebih ketat menegakkan batasan produksi resmi.

Pemerintah setempat juga mengintensifkan pemeriksaan terhadap produksi berlebihan di provinsi-provinsi besar seperti Shanxi dan Inner Mongolia; fasilitas yang melebihi kapasitas yang disetujui diperintahkan berhenti operasi atau ditindak.
Untuk 2026, China juga menetapkan aturan lebih ketat terkait kontrak batubara termal domestik, termasuk pengawasan pemenuhan dan volume kontrak minimum 80% dari permintaan estimasi guna mencegah lagi oversupply.

Data SxCoal menunjukkan bahwa stok gabungan batu bara di pelabuhan utama seperti Qinhuangdao, Caofeidian, Jingtang, dan Huanghua turun signifikan secara mingguan, mencapai level terendah sejak akhir November. Penurunan stok ini mendorong sentimen pasar yang lebih kuat dan memberikan ruang bagi pembeli serta penjual untuk menyesuaikan harga ke atas.

Berbanding terbalik dengan China, India sebagai konsumen terbesar batu bara kedua di dunia setelah Tiongkok memberi kabar buruk.

Porsi penyerapan (offtake) batu bara oleh sektor ketenagalistrikan India anjlok ke 77% pada Desember 2025, level terendah dalam dua tahun. Pelemahan ini dipicu penurunan permintaan akibat musim monsun atau hujan yang lebih panjang.

Pelemahan ini menandai penurunan bulanan ketiga berturut-turut. Dampaknya, proyeksi pertumbuhan permintaan listrik keseluruhan untuk tahun fiskal 2026 (FY26) direvisi turun tajam menjadi 1,5-2% dari sebelumnya 4-4,5%, yang turut menekan harga di Indian Energy Exchange.

Titik terendah 77% pada Desember ini berbanding terbalik dengan Maret 2025, saat porsi sektor listrik mencapai puncak 83%. Secara keseluruhan, pengiriman batu bara nasional turun untuk bulan keempat berturut-turut, dengan total offtake Desember sebesar 90,17 juta ton, turun lebih dari 2,50% secara tahunan. Untuk periode April-Desember 2025, offtake kumulatif mencapai 742 juta ton, turun 1,25% dibandingkan tahun sebelumnya.

menurut International Energy Agency, Produksi batu bara India diperkirakan datar pada 2025 sekitar 1.089 juta ton. Sementara perusahaan sektor publik seperti Coal India Limited (CIL) dan Singareni Collieries Company Limited (SCCL) berpotensi mengalami penurunan output, produksi dari blok komersial dan captive diproyeksikan meningkat. Ini menyusul rekor produksi batu bara 1.082 juta ton pada 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
| | | |