Ini 10 Mata Uang Terlemah Dunia di 2026: Rial Iran - Rupiah!

3 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

14 January 2026 17:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Rial Iran kini menempati peringkat pertama sebagai mata uang terlemah di dunia, menggeser posisi Pound Lebanon berdasarkan data pasar terbaru. Diikuti kemudian oleh Dong Vietnam dan mata uang negara frontier market lainnya.

Mata uang pada dasarnya berfungsi sebagai alat pembayaran dan sarana utama dalam aktivitas ekonomi di suatu negara. Namun, tidak semua mata uang memiliki bobot yang sama di mata global.

Normalnya, mata uang dunia disandingkan dengan mata uang utama saat ini, yakni Dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun mata uang Greenback tersebut mengalami fluktuasi, dominasinya membuat banyak mata uang negara berkembang terlihat sangat murah atau lemah secara nominal.

Faktor yang mendorong pelemahan ini sangat beragam, mulai dari hiperinflasi, instabilitas politik, rendahnya kepercayaan investor, hingga sanksi geopolitik yang mencekik ekonomi negara tersebut.

Berikut adalah ulasan mata uang terlemah berdasarkan data perdagangan terakhir. Peringkat ini berdasarkan pada besaran US$1 dibandingkan nominalnya.

Rial Iran (IRR)

Merujuk pada data pasar terbaru, Rial Iran (IRR) menempati posisi puncak sebagai mata uang terlemah. Nilai tukarnya tercatat menembus angka fantastis, yakni 1.092.500 per Dolar AS.

Keterpurukan Rial Iran bukan terjadi tanpa sebab. Ini adalah dampak langsung dari kombinasi tensi geopolitik yang memanas dan masalah ekonomi dalam negeri yang kronis.

Secara geopolitik, Iran terus berada di bawah tekanan sanksi ekonomi internasional (terutama dari Barat) terkait program nuklir dan konflik regional di Timur Tengah. Sanksi ini membatasi akses Iran ke sistem keuangan global dan menghambat ekspor minyak, yang merupakan nadi utama ekonomi mereka.

Di sisi dalam negeri (domestik), Iran menghadapi inflasi yang tidak terkendali dan kerusuhan sosial yang terjadi secara berkala. Kebijakan pemerintah dalam mencetak uang untuk menutupi defisit anggaran justru memicu devaluasi lebih lanjut, membuat daya beli masyarakat tergerus drastis.

Pound Lebanon (LBP)

Di posisi kedua, terdapat Pound Lebanon (LBP) yang berada di level 89.782 per Dolar AS.

Keterpurukan Pound Lebanon disebabkan oleh kombinasi kebijakan ekonomi yang salah arah selama beberapa dekade. Bank Dunia bahkan pernah menyebut krisis di Lebanon sebagai salah satu yang terburuk di dunia sejak pertengahan abad ke-19. Sistem perbankan di sana dinilai beroperasi layaknya skema Ponzi yang didukung negara.

Kondisi ini diperparah oleh ledakan besar di Pelabuhan Beirut pada 2020 dan kebuntuan politik yang menghambat reformasi fiskal. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap mata uang lokal hancur, dan ekonomi negara tersebut mengalami "dolarisasi" secara informal.

Ilustrasi foto ini menunjukkan uang kertas dong Vietnam di Hanoi pada tanggal 21 Mei 2019. (Manan VATSYAYANA / AFP/File Foto)Foto: Ilustrasi foto ini menunjukkan uang kertas dong Vietnam di Hanoi pada tanggal 21 Mei 2019. (AFP/MANAN VATSYAYANA/File Foto)

Dong Vietnam (VND): Strategi Dagang, Bukan Krisis

Berbeda dari Iran dan Lebanon, Dong Vietnam (VND) yang menempati posisi ketiga dengan level 26.274 per Dolar AS, tidak sedang mengalami krisis ekonomi.

Nilai rendah Dong justru mencerminkan strategi ekonomi yang terencana. Pemerintah Vietnam sengaja menjaga nilai mata uangnya tetap kompetitif untuk mendorong ekspor. Dengan mata uang yang "murah", barang-barang buatan Vietnam menjadi lebih menarik di pasar global dibandingkan pesaingnya.

Strategi ini berhasil menjadikan Vietnam sebagai salah satu pusat manufaktur dan ekspor terbesar di Asia Tenggara, menarik banyak investasi asing (FDI) masuk ke negara tersebut.

Bagaimana dengan Rupiah?

Berdasarkan data yang sama, mata uang Garuda alias Rupiah (IDR) juga terlihat dalam daftar pantauan ini.

Rupiah tercatat berada di level Rp 16.874 per Dolar AS. Posisi ini menempatkan Rupiah di urutan ke-6 mata uang terlemah dalam daftar tersebut (setelah Iran, Lebanon, Vietnam, Sierra Leone, dan Laos).

Meskipun secara nominal angkanya terlihat besar (belasan ribu), posisi Rupiah tidak mencerminkan kehancuran fundamental seperti yang dialami Iran atau Lebanon. Nilai tukar Rupiah lebih disebabkan oleh perbedaan sejarah struktur nominal (denominasi) dan kebijakan kurs yang dianut Indonesia.

Secara fundamental ekonomi, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang positif dan inflasi yang relatif terjaga dibandingkan negara-negara yang berada di posisi atas daftar mata uang terlemah tersebut.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
| | | |