Investor Full Senyum! Emas Naik Ugal-ugalan, Harga Tembus US$4.500

18 hours ago 8

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

10 January 2026 08:00

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas dunia Jumat (9/1/2026) ditutup di US$4.510,15 per ons menurut Refinitiv. Posisi ini lebih tinggi dibanding awal pekan di US$4.448,19 dan jauh di atas level awal tahun di US$4.329,89 pada 2 Januari. Dalam lima hari perdagangan pertama 2026, emas sudah naik lebih dari 4%.

Pergerakan ini terjadi saat data tenaga kerja Amerika Serikat mulai kehilangan momentum. Nonfarm payrolls Desember hanya bertambah 50.000, lebih rendah dari ekspektasi 60.000.

Tingkat pengangguran turun ke 4,4%. Angka ini menggambarkan pasar kerja yang tidak lagi menciptakan banyak lapangan baru, namun juga belum memasuki fase pemutusan kerja besar-besaran.

Kondisi seperti ini mengubah arah kebijakan moneter. Dengan penciptaan kerja melemah, tekanan upah melandai, dan inflasi lebih mudah dikendalikan. Itu membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga The Fed.

Pasar kini sudah memperkirakan dua kali pemotongan sepanjang 2026. Setiap ekspektasi pelonggaran suku bunga menurunkan daya tarik dolar dan obligasi, lalu mengalihkan aliran dana ke emas.

Itu terlihat dari respons harga. Pada 6 Januari emas sempat naik ke US$4.496,79, turun ke US$4.452,77 sehari setelahnya, lalu kembali ke atas US$4.500 di akhir pekan. Pola ini bukan reaksi terhadap perubahan fundamental, melainkan dampak rebalancing indeks komoditas awal tahun.

Bob Haberkorn dari RJO Futures menyebut tekanan ini bersifat teknikal dan akan mereda setelah penyesuaian portofolio selesai.

Di luar faktor moneter, risiko geopolitik masih menjaga permintaan lindung nilai. Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak yang terkait Venezuela. Ketegangan dengan Iran belum mereda. Konflik Rusia-Ukraina masih berjalan. Lingkungan seperti ini menaikkan premi risiko global, dan emas menjadi tempat parkir dana.

Arus fisik juga bergerak ke arah yang sama. Bank sentral China sudah membeli emas selama 14 bulan berturut-turut. Ini mengurangi pasokan yang tersedia di pasar dan memperkuat harga pada level tinggi. Di saat yang sama, premi emas di China melebar, tanda bahwa permintaan domestik masih menyerap pasokan.

Itu sebabnya lembaga seperti HSBC mulai membuka ruang proyeksi ke US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026.

Untuk pekan ini, selama emas bertahan di atas US$4.500, pasar sedang memberi sinyal bahwa investor belum melihat alasan untuk keluar dari posisi lindung nilai. Data tenaga kerja AS yang mulai retak memberi bahan bakar utamanya.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Read Entire Article
| | | |