Jakarta, CNBC Indonesia - Saat membuka aplikasi saham dan melihat portofolio memerah, detak jantung bisa langsung naik. Angka minus terlihat semakin besar, notifikasi grup saham makin bising, dan pikiran mulai dipenuhi satu pertanyaan klasik: "Ini harus dijual sekarang atau ditahan?"
Jika kamu sebagai investor saham sedang mengalaminya, tenang, kamu tidak sendirian. Panik saat saham turun drastis adalah reaksi yang sangat manusiawi. Masalahnya, keputusan investasi yang diambil dalam kondisi emosi hampir selalu berujung penyesalan. Artikel ini akan membantu kamu mengelola emosi saat saham turun, agar keputusan yang diambil tetap rasional dan sesuai tujuan investasi jangka panjang.
Kenapa Saham Turun Drastis Bisa Bikin Panik?
Secara logika, kita tahu saham bisa naik dan turun. Tapi saat benar-benar terjadi, logika sering kalah oleh emosi. Ada beberapa alasan kenapa penurunan saham terasa sangat menyakitkan:
1. Loss aversion
Kerugian terasa lebih menyakitkan daripada keuntungan yang sama besar. Rugi 10% rasanya jauh lebih menyiksa dibanding untung 10%.
2. Uang terasa benar-benar "hilang"
Walaupun masih floating loss, otak kita menganggap itu sudah kehilangan uang sungguhan.
3. Tekanan sosial
Media sosial penuh cerita "sudah cut loss", "market mau crash", atau "bandar kabur".
4. Takut salah keputusan
Bukan cuma takut rugi, tapi takut menyesal karena salah langkah. Inilah kombinasi sempurna yang membuat investor terutama pemula mudah panik.
Reaksi Emosional Investor yang Sering Terjadi Saat Saham Turun Drastis
Saat market turun tajam, biasanya emosi muncul dalam urutan berikut:
-
Shock → "Loh, kok bisa turun segini?"
-
Denial → "Paling besok naik lagi."
-
Takut → "Kalau makin turun gimana?"
-
Panik → "Jual aja deh sebelum habis."
-
Penyesalan → "Kenapa ya tadi gue jual..."
Mengenali fase ini penting, karena emosi yang disadari lebih mudah dikendalikan.
Kesalahan Fatal Investor Saat Emosi Mengalahkan Logika
Banyak kerugian besar di saham bukan karena salah pilih saham, tapi karena salah mengelola emosi. Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
1. Panic selling tanpa rencana
Menjual saham hanya karena takut, bukan karena alasan fundamental.
2. Terus mengecek portofolio
Melihat grafik tiap 5 menit justru memperparah stres dan mendorong keputusan impulsif.
3. Membandingkan dengan orang lain
Melihat orang lain "katanya" aman, padahal kondisi portofolio dan tujuan berbeda.
4. Mengubah strategi di tengah jalan
Awalnya investasi jangka panjang, tapi saat turun sedikit langsung bertindak seperti trader harian.
Cara Mengelola Emosi Saat Saham Turun Drastis
Inilah bagian paling penting. Bukan teori berat, tapi langkah praktis yang bisa langsung diterapkan.
1. Tahan Sebelum Ambil Keputusan
Aturan sederhana tapi ampuh: jangan ambil keputusan saat emosi sedang tinggi. Tutup aplikasi sekuritas, tarik napas, dan beri jeda waktu. Tunda keputusan minimal 24 jam. Pasar boleh bergerak cepat, tapi keputusanmu tidak harus terburu-buru.
2. Bedakan Koreksi Biasa dan Fundamental Buruk
Tanya pada diri sendiri:
-
Apakah fundamental perusahaan benar-benar memburuk?
-
Atau hanya market yang sedang negatif?
Jika laporan keuangan masih sehat, utang terkendali, dan bisnis tetap relevan, besar kemungkinan yang terjadi hanyalah koreksi pasar, bukan kehancuran perusahaan.
3. Ingat Tujuan Awal Membeli Saham
Coba kembali ke alasan pertama kamu membeli saham tersebut:
-
Untuk jangka panjang?
-
Untuk dana pensiun?
-
Untuk 5-10 tahun ke depan?
Jika jawabannya bukan untuk jangka pendek, fluktuasi harian seharusnya tidak menjadi alasan panik.
4. Batasi Konsumsi Informasi Negatif
Saat market merah, berita buruk terasa datang tanpa henti:
-
Prediksi krisis ekonomi
-
Rumor pelaku pasar besar
-
Komentar pesimis di media sosial
Faktanya, terlalu banyak informasi justru memperburuk emosi. Pilih sumber yang kredibel dan batasi waktu membaca agar pikiran tetap jernih.
5. Gunakan Aturan, Bukan Perasaan
Investor yang bertahan lama biasanya punya aturan jelas, misalnya:
-
Cut loss di level tertentu (misalnya -10%)
-
Tidak menjual saham selama fundamental masih aman
-
Evaluasi hanya saat laporan keuangan rilis
Aturan ini berfungsi sebagai rem pengaman saat emosi ingin mengambil alih keputusan.
Jual, Tahan, atau Beli Saat Saham Turun?
Tidak ada jawaban universal. Tapi kamu bisa pakai kerangka berpikir dibawah ini
Jual jika:
-
Fundamental perusahaan memburuk
-
Alasan beli awal sudah tidak relevan
-
Saham tidak sesuai profil risiko
Tahan jika:
-
Bisnis masih kuat
-
Tujuan investasi jangka panjang
-
Penurunan karena sentimen pasar
Beli (bertahap) jika:
-
Valuasi makin menarik
-
Cash flow pribadi aman
-
Siap dengan risiko
Yang penting: keputusan diambil dengan kepala dingin, bukan karena panik.
Tips Mental Agar Tidak Trauma Saat Pasar Saham Turun
Investasi bukan cuma soal uang, tapi juga ketahanan mental.
Beberapa tips agar lebih kuat secara psikologis:
-
Jangan taruh seluruh dana di saham
-
Sisakan dana darurat
-
Terima bahwa rugi adalah bagian dari proses
-
Fokus pada proses, bukan hasil harian
Investor sukses bukan yang tidak pernah rugi, tapi yang tidak hancur secara mental saat rugi datang.
Saham Turun Itu Normal, Panik Itu Opsional
Market turun adalah bagian alami dari investasi. Tidak ada grafik saham yang naik lurus tanpa koreksi. Yang membedakan investor satu dengan yang lain bukan seberapa sering dia benar, tapi bagaimana dia bersikap saat keadaan tidak sesuai harapan. Tetap Tenang, tarik napas dan evaluasi dengan jernih. Karena di pasar saham, ketenangan sering kali lebih mahal daripada informasi.
(dag/dag)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236758/original/069830300_1748524187-Timnas_Indonesia_-_Ricky_Kambuaya__Egy_Maulana__Rizky_Ridho_copy.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366297/original/013965500_1759222382-Formasi_Timnas_Indonesia_vs_Arab_Saudi.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
