Kabar Baik! Harga Minyak Mentah Turun, Sudah Sentuh US$60-an per Barel

5 hours ago 3

Review Sepekan

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia

27 June 2026 08:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah membawa kabar baik ke seluruh dunia. Usai dalam beberapa bulan mencapai US$100 per barel, kini 'ibu komoditas' itu berangsur mendingin dan berada di level US$60-an per barel.

Mengutip data Refinitiv, harga minyak mentah kedua acuan dunia mengalami penurunan dalam sesi terakhir perdagangan pekan ini. 

Minyak mentah acuan brent tercatat ambles 4,34% menjadi US$71,99 per barel pada Jumat (26/6/2026). Senada, harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) pun anjlok 3,74% ke US$69,23 per barel.

Adapun dalam sepekan, harga minyak brent telah turun 10,65% dan WTI telah merosot 9,62%.

Harga minyak mentah mendingin setelah pasar semakin yakin gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak akan separah yang sempat dikhawatirkan.

Apalagi arus kapal tanker yang kembali melintasi Selat Hormuz mengurangi persepsi terhadap risiko geopolitik, walaupun insiden keamanan di sekitar Oman masih membayangi.

Pelaku pasar kini lebih banyak memperhatikan perkembangan lalu lintas pengiriman minyak dibanding eskalasi konflik itu sendiri.

Data perdagangan memperlihatkan volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz minggu ini meningkat ke level tertinggi sejak pecahnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada Februari lalu.
Kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur pelayaran yang sebelumnya sempat terganggu sehingga kekhawatiran mengenai terhambatnya pasokan global mulai mereda.

Meski demikian, situasi belum sepenuhnya normal. Jumlah kapal yang melintas masih jauh di bawah rata-rata sekitar 125 kapal per hari sebelum konflik berlangsung. Artinya, pelayaran memang mulai pulih, tetapi aktivitas distribusi minyak global belum kembali ke kondisi sebelum krisis.

Di sisi lain, risiko geopolitik masih terus membayangi pasar. Pada Kamis (25/6/2026), sebuah kapal kargo dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat perairan Oman.

Insiden tersebut sempat mendorong harga minyak melonjak lebih dari 2% karena Organisasi Maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan sementara skema evakuasi sukarela bagi kapal-kapal di kawasan itu.

Dua pejabat Amerika Serikat menyebut Iran melepaskan tembakan ke kapal yang sedang melintasi Selat Hormuz, sementara otoritas Iran menyatakan keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi Hormuz tidak dapat dijamin.

Kondisi tersebut membuat pasar berada dalam tarik-menarik dua sentimen besar. Di satu sisi, jalur ekspor minyak semakin terbuka sehingga kekhawatiran pasokan berkurang.

Di sisi lain, setiap insiden keamanan baru di sekitar Hormuz masih berpotensi menghidupkan kembali premi risiko geopolitik apabila menghambat lalu lintas tanker atau memaksa produsen meninjau kembali rencana peningkatan produksinya.

Sentimen lain datang dari Venezuela. Gempa bumi yang terjadi pada Kamis memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan produksi minyak negara tersebut.
Penilaian awal memperlihatkan fasilitas minyak, gas, kilang, jaringan pipa, hingga terminal ekspor tidak mengalami kerusakan berarti karena sebagian besar berada jauh dari pusat gempa.

Namun, gangguan pasokan listrik memunculkan ketidakpastian apakah produksi sekitar 1,2 juta barel per hari dapat dipertahankan dalam beberapa waktu ke depan.

Fokus pasar kini bergeser dari ancaman penutupan Selat Hormuz menuju seberapa cepat aktivitas pengiriman minyak dapat kembali normal.

Selama arus tanker terus membaik dan tidak muncul gangguan besar baru terhadap pasokan global, tekanan terhadap harga minyak berpeluang masih berlanjut, meski volatilitas tetap tinggi karena kawasan Timur Tengah masih menyimpan risiko keamanan yang sulit diprediksi.

Harga minyak mentah dunia yang turun juga memberikan harapan untuk ekonomi dunia berakselerasi. Hal ini terjadi karena harga minyak mentah dunia memengaruhi harga energi yang ujung-ujungnya terkait inflasi serta daya beli masyarakat.

Saat harga energi turun, daya beli masyarakat akan terjaga lebih solid sehingga mampu mendorong ekonomi yang akibat perang i Timur Tengah diproyeksi melambat pada 2026 ini.

(ras/ras)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |