Jakarta, CNBC Indonesia - Greenland, wilayah Denmark yang luas dan berpenduduk jarang serta memiliki pemerintahan sendiri, kini menjadi sorotan geopolitik. Hal ini terjadi usai Presiden Donald Trump menegaskan menginginkannya menjadi bagian Amerika Serikat (AS).
"Ini sangat strategis," kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One, Minggu.
"Saat ini, Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana. Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional," tegasnya.
Komentar ini muncul setelah AS melakukan operasi militer di Venezuela dan "menculik" Nicolas Maduro, sekaligus menggulingkannya dari posisi presiden. Pernyataannya pun membunyikan alarm di seluruh Eropa.
Denmark, si empunya wilayah juga memperingatkan. Bahwa, ujar negeri itu, pengambilalihan Greenland oleh Amerika akan menandai berakhirnya aliansi militer NATO.
Namun, Trump sepertinya belum goyah. Bahkan dua hari setelahnya Gedung Putih semakin meningkatkan ketegangan trans-Atlantik, dengan mengatakan bahwa Trump dan timnya sedang mempertimbangkan "berbagai opsi" untuk menjadikan wilayah Denmark yang berpemerintahan sendiri itu bagian dari AS, termasuk "menggunakan Militer AS".
Apa yang dimiliki Greenland yang membuat Trump ingin mencaploknya bahkan dengan ancaman NATO bubar?
Terletak di antara AS dan Rusia, Greenland telah lama dipandang sebagai wilayah yang sangat penting secara strategis, terutama dalam hal keamanan Arktik. Wilayah dengan hampir 57.000 penduduk ini berada di dekat jalur pelayaran Arktik yang sedang berkembang.
Pencairan es yang cepat menciptakan peluang substansial mengurangi waktu perjalanan Asia-Eropa dibandingkan dengan Terusan Suez. Greenland juga terletak di atas apa yang disebut Celah GIUK, titik sempit angkatan laut antara Greenland, Islandia, dan Inggris yang menghubungkan Arktik ke Samudra Atlantik.
Selain posisi geopolitiknya yang strategis, Greenland dikenal karena melimpahnya bahan baku yang belum dimanfaatkan. Mulai dari cadangan minyak dan gas hingga deposit mineral penting dan harta karun unsur tanah jarang.
Mineral-mineral penting dan unsur-unsur tanah jarang ini merupakan komponen vital dalam teknologi yang sedang berkembang. Seperti turbin angin, kendaraan listrik, teknologi penyimpanan energi, dan aplikasi keamanan nasional.
China berulang kali berupaya memanfaatkannya. Bahkan hampir monopolinya atas unsur-unsur tanah jarang untuk memberikan tekanan pada AS tahun lalu.
"Trump adalah seorang ahli properti," kata kepala praktik di Eurasia Group, Clayton Allen, sebuah konsultan risiko politik, dikutip CNBC International, Kamis (8/1/2026).
"Greenland memiliki beberapa lahan paling berharga dalam hal keuntungan ekonomi dan pertahanan strategis untuk tiga hingga lima dekade mendatang," tambahnya.
Pangkalan AS
Tentu saja, AS sudah memiliki kehadiran di Greenland. Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya bernama Pangkalan Udara Thule, terletak di barat laut Greenland, tepat di seberang Teluk Baffin dari Nunavut, Kanada.
Diperkirakan sekitar 150 anggota militer AS ditempatkan secara permanen di sana. Angka ini turun dari sekitar 6.000 selama era Perang Dingin.
"Untuk alasan yang baik, AS memiliki pangkalan udara peringatan dini di Greenland barat laut karena rute terpendek bagi rudal balistik Rusia untuk mencapai daratan Amerika Serikat adalah melalui Greenland dan Kutub Utara," kata rekan peneliti di Program Eropa, Rusia, dan Eurasia di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Otto Svendsen.
"Pangkalan tersebut, yang juga memiliki lapangan terbang aktif dan merupakan rumah bagi pelabuhan air dalam paling utara di dunia, secara tradisional sangat penting untuk memantau kapal selam Rusia yang melintasi Celah GIUK," katanya.
"Ancaman atau faktor yang lebih baru dan muncul adalah fakta bahwa Greenland berada di dua jalur pelayaran potensial melalui Arktik, Jalur Barat Laut dan Jalur Laut Transpolar," tambahnya.
"Dan seiring perubahan iklim terus membuat rute-rute tersebut semakin layak, ada juga kepentingan komersial di sana yang menambah nilai keamanan nasional pulau tersebut."
Golden Dome
Para analis mengatakan Greenland dapat terbukti bermanfaat bagi AS sebagai tempat persiapan untuk kehadiran "pertahanan yang lebih besar dan sebagai lokasi untuk pencegat rudal AS". Ini khususnya dalam konteks salah satu kebijakan utama pemerintahan Trump yakni pembuatan sistem pertahanan rudal "Golden Dome".
Inisiatif bernilai miliaran dolar ini, yang diluncurkan pada Mei tahun lalu dan sering dibandingkan dengan sistem "Iron Dome" Israel. Golden Dome adalah rencana visioner yang dirancang untuk melindungi AS dari semua serangan rudal.
"AS membutuhkan akses ke Arktik dan saat ini tidak memiliki akses langsung yang begitu banyak," kata Allen dari Eurasia Group.
"Greenland memiliki akses yang sangat besar. AS membutuhkan pertahanan udara yang ditempatkan semakin dekat dengan Rusia untuk melawan senjata generasi berikutnya yang saat ini tidak dapat dipertahankan dengan apa yang kita miliki. Greenland menyediakan itu," jelasnya.
"Trump ingin membangun Golden Dome di atas AS... Sebagian dari itu harus bergantung pada Greenland."
Keamanan Nasional atau Ekonomi?
Bagi sebagian orang, pernyataan Trump bahwa mencaplok Greenland adalah bagian inti dari keamanan nasional AS telah menimbulkan pertanyaan. Deklarasi tersebut menandai perubahan nada yang signifikan dibandingkan hampir setahun yang lalu, ketika presiden terpilih saat itu menyebut "keamanan ekonomi" sebagai faktor utama untuk mencaplok pulau tersebut.
Direktur Program Keamanan Internasional di lembaga think tank Chatham House London, Marion Messmer, mengakui bahwa memang benar bahwa Rusia dan China telah meningkatkan aktivitas militer mereka di Arktik dalam beberapa tahun terakhir. Dan, jika Moskow meluncurkan rudal ke AS, kemungkinan besar rudal tersebut akan terbang di atas Greenland.
"Namun, yang tidak jelas adalah mengapa Washington membutuhkan kendali penuh atas Greenland untuk mempertahankan diri," kata Messmer dalam analisis tertulisnya.
"Selama Perang Dingin, AS menempatkan hingga 6.000 tentara di berbagai kamp di seluruh pulau," tambahnya.
"Mereka mungkin dapat meningkatkan kehadiran pasukan lagi jika merasa membutuhkan kehadiran yang lebih besar di wilayah tersebut - tanpa mempertanyakan kedaulatan Denmark."
Sebenarnya dalam sebuah jajak pendapat sebagian besar penduduk Greenland menentang kendali AS. Namun mayoritas besar mendukung kemerdekaan dari Denmark.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











