Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penemuan arkeologis mengungkapkan jejak sejarah peradaban minuman tertua di China. Para peneliti menemukan lebih dari 6 pint (sekitar 3,4 liter) bir yang telah berusia 2.300 tahun, tersegel rapat dan terawetkan dengan sangat baik di dalam sebuah makam kuno. Temuan ini menjadi salah satu bukti tertua tentang keberadaan minuman beralkohol.
Benda berisi cairan kuno ini disimpan dalam sebuah wadah keramik berukuran besar yang ditemukan selama penggalian arkeologis. Wadah tersebut tertutup rapat, sehingga udara dan unsur luar tidak dapat masuk ke dalamnya selama berabad-abad. Kondisi penyimpanan yang stabil di dalam makam juga berperan besar menjaga integritas cairan di dalamnya, sehingga sifat-sifat dasarnya masih dapat dianalisis hingga hari ini.
Berdasarkan analisis awal yang dilakukan oleh tim peneliti, bir kuno ini ternyata memiliki komposisi bahan yang cukup canggih untuk zamannya. Berbeda dengan bir modern yang umumnya menggunakan gandum atau jelai sebagai bahan utama, bir berusia ribuan tahun ini dibuat dari campuran beras, tanaman legum, serta akar tanaman yang berfungsi sebagai pemanis alami dan sumber enzim untuk proses fermentasi.
Para ahli juga menemukan jejak tanaman rempah tertentu, yang kemungkinan besar ditambahkan untuk memberikan aroma dan rasa khas, mirip dengan cara kita menggunakan hop pada bir masa kini.
Lalu, apa rasanya bir yang sudah ada sejak zaman purba ini? Meskipun belum ada yang berani mencicipinya secara langsung, para peneliti dapat memperkirakan profil rasanya melalui hasil analisis kimia.
Cairan ini diduga memiliki rasa yang agak asam, sedikit manis, dengan aroma yang kaya akan unsur tanaman dan sedikit bau khas hasil fermentasi. Tidak seperti bir modern yang rasanya cenderung konsisten dan terkontrol, bir kuno ini kemungkinan memiliki rasa yang lebih kompleks dan beragam, mencerminkan teknik pembuatan yang masih berkembang pada masa itu.
Penemuan ini tidak hanya sekadar soal menemukan minuman tua, tetapi juga membuka wawasan baru tentang budaya, kehidupan sosial, dan teknologi pengolahan makanan di China kuno. Keberadaan bir yang disimpan di dalam makam menunjukkan bahwa minuman ini memiliki peran penting dalam upacara keagamaan, ritual pemakaman, atau sebagai bagian dari persiapan kehidupan setelah mati bagi orang yang dimakamkan.
Hal ini menegaskan bahwa budaya minum-minum sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur sosial masyarakat ribuan tahun lalu.
Selain itu, temuan ini juga menjadi bukti bahwa teknik fermentasi dan pembuatan minuman beralkohol sudah dikembangkan dengan cukup matang sejak zaman dahulu. Para leluhur kita ternyata sudah mengerti cara memanfaatkan bahan-bahan alam dan proses kimia alami untuk menciptakan minuman yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber cairan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sosial yang tinggi.
Kini, sampel bir kuno ini sedang dipelajari lebih lanjut untuk mengungkap rahasia lain yang tersimpan di dalamnya. Mulai dari proses pembuatannya secara terperinci, hingga alasan mengapa jenis bahan tertentu dipilih.
Bagi dunia arkeologi dan sejarah makanan, penemuan ini adalah harta karun yang memberikan pandangan lebih dalam tentang bagaimana manusia purba menciptakan, menikmati, dan memberikan makna pada secangkir minuman. Siapa sangka, di balik sisa-sisa makam kuno, tersimpan kisah rasa yang telah menunggu selama 2.300 tahun untuk diceritakan kembali.
(dem/dem)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)










