Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan baru-baru ini meluncurkan platform yang khusus menayangkan film pendek, drama, dan variety show. Platform yang diberi nama Sero ini mengemas ulang film panjang, serial drama, dan variety show menjadi episode berformat vertikal dengan durasi sekitar 30 menit.
Serobonneung selaku perusahaan yang mengoperasikan Sero menyebut setiap judul disusun ulang agar dapat berdiri sendiri, bukan berfungsi sebagai cuplikan sorotan atau ringkasan. Musik, tempo, dan narasi juga dibangun ulang oleh produser veteran untuk mempertahankan alur dramatis yang lengkap.
Perusahaan tersebut mengatakan, Sero yang merupakan platform pertama di dunia menargetkan audiens penonton berusia 20-an dan 30-an.
"Idenya bukanlah untuk memberikan ilusi telah menonton sesuatu. Ini untuk benar-benar mengalami cerita tersebut, hanya dalam format yang berbeda," kata manajemen Serobonneung dalam sebuah pernyataan dikutip dari The Korea Herald, Sabtu (7/2/2026).
Untuk mendukung kecepatan produksi, perusahaan membangun jalur produksi terintegrasi dari awal hingga akhir yang mencakup pengembangan hingga distribusi. Enam serial drama orisinal dijadwalkan untuk diproduksi tahun ini.
Menurut perusahaan, Sero diluncurkan dengan mempertimbangkan distribusi internasional. Perusahaan menjalin perjanjian platform-in-platform dengan berbagai pemain regional, termasuk Dish TV dari India, Catchplay dari Taiwan, dan Ivi dari Rusia.
"Alih-alih bergantung pada satu platform dominan seperti Netflix atau YouTube, strategi ini berfokus pada kemitraan simultan dengan platform lokal yang sudah mapan untuk mempercepat masuk pasar sekaligus menyebar risiko," kata manajemen Serobonneung.
Di Korea, kerja sama dengan KT Genie TV dan KT Studio Genie memungkinkan konten didistribusikan di luar aplikasi perusahaan.
Ke depannya, Serobonneung berencana untuk berekspansi lebih jauh dengan mengembangkan konten orisinal berdurasi pendek eksklusif, mengadaptasi webtoon populer, dan memformat ulang video musik K-pop dan pertunjukan langsung untuk penonton internasional.
Saat ini, konten-konten pendek telah menjamur dan dapat dinikmati lewat berbagai platform serupa. Di antaranya ada Dramabox, FlickReels, ReelShort, juga GoodShort.
Menurut Research and Markets, pasar konten berdurasi pendek global diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 25,6% berkembang dari sekitar ₩60 triliun (US$40 miliar) pada 2021 menjadi ₩187 triliun pada 2026.
Namun, para analis memperingatkan, pertumbuhan saja tidak menjamin kesuksesan.
"Permintaan konten pendek jelas kuat, tetapi diferensiasi adalah tantangan sebenarnya. Ruang ini sudah didominasi oleh YouTube, TikTok, Instagram, dan platform regional seperti Naver Chzzk. Banyak versi ringkasan atau suntingan film sudah ada secara online, terutama di YouTube," kata
Director Institute of Digital Industry and Policy yang berbasis di Seoul Noh Chang-hee.
Noh menambahkan, hak eksklusif dan konten yang dilisensikan secara legal serta dikurasi dengan baik akan penting bagi pendatang baru. Menurut dia kekhawatiran bahwa versi ringkas film dan drama dapat mengurangi kualitas artistik mungkin terlalu berlebihan.
"Sebagian besar konten saat ini sudah diproduksi dengan mempertimbangkan sirkulasi format pendek. Klip sering kali mengarahkan perhatian kembali ke karya aslinya. Saya tidak melihat format ini sebagai sesuatu yang secara inheren merusak nilai artistik, melainkan lebih sebagai perluasan dari cara audiens mengonsumsi media," pungkas dia.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)


