Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah pada awal tahun ini semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat masyarakat mulai menukarkan simpanan dolar AS nya.
Hal ini seperti dilakukan oleh seorang pengunjung di VIP Money Changer Menteng, Jakarta. Wanita yang mengaku dari perusahaan impor alat berat seperti alat konstruksi itu datang ke money changer untuk menukar dolar ke rupiah.
Ia mengatakan, telah membawa cadangan kas dari perusahaannya berbentuk dolar yang ingin ditukar ke rupiah untuk operasional sehari-hari di kantornya.
"Mau menukar dolar untuk keperluan operasional kantor. Jual uang dolar kami (beli kurs)," ucapnya saat ditemui di VIP Money Changer pada Rabu (14/1/2026).
"Karena dolarnya lagi tinggi, kami jual dulu cadangan dolarnya (beli kurs). Kalau sudah rendah, baru kami beli lagi untuk cadangan," lanjutnya.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia kurs jual di VIP Money Changer Menteng adalah Rp16.930/1US$ dan kurs beli berada di posisi Rp16.890/1US$.
Hingga pukul 13.00 WIB, VIP Money Changer Menteng pun masih ramai dikunjungi masyarakat yang memiliki kepentingan menukar mata uang.
Selain di VIP Money Changer, nilai jual dan beli itu tak jauh berbeda dengan yang ditawarkan tempat penukaran uang lainnnya. Money Changer Smart Deal menawarkan kurs beli Rp 16.890/US$ hari ini sedangkan rate jual Rp 16.985/US$.
Sementara itu, di money changer Java Arta Valasindo untuk harga beli mereka terhadap dolar AS malah sudah jauh lebih rendah, yakni Rp 16.750/US$, sedangkan rate jualnya sudah tembus ke level Rp 17.010/US$.
Sebagai informasi, pada perdagangan hari ini, Rabu (14/1/2025) pukul 11.37 WIB, kurs rupiah di pasar spot memang telah ke posisi Rp16.860/US$. Setelah sempat sentuh level tertinggi di Rp16.872 pada 10.06 WIB, berdasarkan data Refinitiv.
Dengan nilai tukar rupiah yang semakin tertekan ini, kalangan pengusaha juga mulai waspada terhadap efeknya ke operasional perusahaan. Tekanan nilai tukar ini bagi mereka membawa konsekuensi langsung terhadap struktur biaya industri, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor.
"Bagi pengusaha ya tentu ini akan menjadi warning ya, terutama bagi pengusaha-pengusaha atau industri-industri yang memang bahan bakunya itu masih berorientasi bahan baku impor, karena kalau bahan baku impor itu kan otomatis pakai dolar," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Risiko terbesar muncul bila penguatan dolar berlangsung lebih lama dari perkiraan. Dalam kondisi seperti itu, dunia usaha tidak punya banyak ruang untuk menyerap kenaikan biaya.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)




