LQ45 Minggir! Ini Bukti Saham Mini Makin Jadi Favorit

1 day ago 4

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

07 January 2026 09:17

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham mini alias lapis dua lapis tiga makin mencuri perhatian pelaku pasar. Terbukti dari pergerakan harga-nya yang melejit melampaui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), apalagi indeks LQ45.

Saham-saham mini banyak mengisi konstituen indeks small-mid cap (IDXSMC), rata-rata kapitalisasi-nya dari rentang Rp1 triliun sampai Rp50 triliun.

IDXSMC saat ini menunjukkan momentum teknikal yang sangat kuat, membuat saham lapis dua dan tiga terlihat jauh lebih atraktif dibanding saham-saham big cap.

Buktinya, dalam sebulan terakhir, indeks ini berhasil melesat lebih dari 10%, jauh melampaui IHSG yang hanya naik 2,56%, sementara LQ45 bahkan menguat tipis 1,17%.

idx

Tak hanya jangka pendek, dalam tiga bulan terakhir IDXSMC sudah naik sekitar 30%, kembali mengungguli IHSG maupun LQ45. Kondisi ini menegaskan bahwa minat investor sedang mengalir deras ke saham-saham small dan mid-cap.

Dengan volatilitas yang lebih aktif dan momentum trading yang sedang "menarik", saham small cap kini menjadi ladang peluang bagi trader yang jeli membaca pergerakan pasar.

Sementara itu, saham-saham di LQ45 umumnya sudah berkapitalisasi besar dan cukup mature. Pergerakannya cenderung lebih defensif, apalagi ketika masih dibayangi faktor global seperti suku bunga tinggi, nilai tukar, hingga aksi wait and see investor asing. Alhasil, kenaikannya jadi lebih terbatas dan tidak seagresif saham-saham kecil.

Saham small dan mid-cap saat ini cenderung lebih responsif terhadap sentimen pasar, memiliki ruang kenaikan harga yang relatif lebih luas, serta kerap didorong oleh aktivitas trading investor domestik. Karakter ini membuat pergerakannya lebih dinamis dan peluang trading jangka pendek hingga menengah terasa lebih menarik.

Selain faktor teknikal dan likuiditas, penguatan saham-saham lapis dua dan tiga juga diperkuat oleh sentimen aksi korporasi. Mulai dari right issue, private placement, akuisisi, hingga restrukturisasi bisnis, yang lebih sering muncul di emiten-emiten small dan mid-cap.

Di sisi lain, kebijakan regulator juga ikut berperan, khususnya sejumlah aturan Otoritas jasa Keuangan (OJK) di sektor perbankan dan asuransi yang mendorong perusahaan untuk menaikkan modal inti. Tekanan pemenuhan regulasi ini membuat banyak emiten melakukan langkah strategis korporasi, yang pada akhirnya menjadi katalis pergerakan harga saham.

Kombinasi momentum teknikal, derasnya aktivitas investor domestik, sentimen aksi korporasi, serta dorongan regulasi inilah yang membuat saham small dan mid-cap saat ini tampil lebih atraktif dibanding saham-saham big cap yang pergerakannya cenderung lebih terbatas.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
| | | |