Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Cuma 2 Negara Ini Selamat

3 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

30 March 2026 09:42

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang negara-negara Asia cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Senin (30/3/2026). Seiring dolar AS yang masih berada di level kuat di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.20 WIB, dari sepuluh mata uang Asia yang CNBC Indonesia pantau, delapan mata uang melemah dan hanya dua mata uang yang menguat terhadap greenback.

Pelemahan terdalam terjadi pada baht Thailand yang turun 0,67% ke posisi THB 32,90/US$. Peso Filipina menyusul melemah 0,39% ke level PHP 60,7/US$, sementara won Korea Selatan turun 0,32% ke KRW 1.513/US$.

Adapun, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dengan melemah 0,15% ke level Rp16.985/US$, yang mengindikasikan rupiah semakin mendekati level psikologisnya di Rp17.000/US$.

Ringgit Malaysia turun 0,17% ke MYR 4,01/US$, sedangkan yuan China melemah 0,11% ke CNY 6,91/US$. Dong Vietnam turun 0,03% ke VND 26.327/US$, dan dolar Singapura melemah tipis 0,01% ke SGD 1,28/US$.

Di tengah dominasi pelemahan, hanya dua mata uang yang mampu menguat. Yen Jepang menguat 0,27% ke JPY 159,89/US$, sementara dolar Taiwan naik tipis 0,02% ke TWD 32,01/US$.

Arah pergerakan ini sejalan dengan indeks dolar AS (DXY) yang masih berada di level tinggi. Pada saat yang sama, DXY tercatat naik 0,04% ke level 100,197, menandakan minat investor terhadap dolar AS masih terjaga.

Dari sisi eksternal, dolar AS cenderung stabil dan berada di jalur penguatan bulanan terkuat sejak Juli, seiring investor terus mencermati risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Pasar terguncang setelah konflik membuat Selat Hormuz praktis tertutup, sebuah jalur krusial yang menyalurkan sekitar seperlima aliran minyak dan gas global. Kondisi ini mendorong harga minyak Brent menuju kenaikan bulanan terbesar dan mengganggu ekspektasi suku bunga global.

Perang yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 itu juga meluas ke berbagai titik di Timur Tengah. Kekhawatiran pasar bertambah setelah muncul risiko ofensif darat, serta sinyal keterlibatan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran pada akhir pekan.

Meski ada upaya diplomasi, termasuk rencana Pakistan untuk menjadi tuan rumah pembicaraan dalam beberapa hari ke depan, ketidakpastian masih tinggi. Iran pun menyatakan siap merespons bila AS melancarkan operasi darat.

Dalam situasi ini, pelaku pasar cenderung memilih strategi defensif dan kembali memburu aset aman, sehingga dolar AS tetap berada di jalur penguatan dan menekan mayoritas mata uang Asia pada perdagangan pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |