Mengapa Yesus Harus Naik ke Surga Setelah Bangkit?

7 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

14 May 2026 10:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam tradisi Kristen-pengikut Yesus Kristus, kebangkitan sering menjadi pusat perhatian Paskah. Kubur kosong, penampakan kepada para murid, hingga kisah Thomas menyentuh luka Yesus Kristus menjadi bagian yang paling sering dibicarakan.

Namun ada satu fase lain yang punya posisi besar dalam kalender gereja mula-mula, kisah kenaikan Yesus Kristus ke surga.

Seringkali pertanyaan sederhana muncul, jika Yesus sudah bangkit dari kematian, mengapa Ia harus pergi lagi?

Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak abad pertama. Injil dan Kisah Para Rasul mencatat, Yesus Kristus beberapa kali berkata Ia akan bangkit pada hari ketiga. Para murid melihat sendiri penampakan-Nya selama 40 hari setelah penyaliban.

Ia makan bersama mereka, berbicara, berjalan, bahkan mengajar tentang Kerajaan Allah.

Namun setelah seluruh rangkaian itu selesai, Kisah Para Rasul menulis bahwa Yesus terangkat ke surga di depan para murid-Nya.

Dalam struktur iman Kristen awal, kebangkitan dan kenaikan bukan dua peristiwa terpisah. Keduanya dipahami sebagai satu rangkaian misi yang utuh.

Kebangkitan berbicara tentang kemenangan atas kematian. Kenaikan berbicara tentang selesainya pelayanan fisik Yesus di dunia.

Injil Lukas dan Kisah Para Rasul memberi detail yang cukup konsisten. Setelah kebangkitan, Yesus tinggal bersama para murid selama 40 hari. Ia menjelaskan kembali Kitab Suci dan mempersiapkan mereka menghadapi fase berikutnya.

Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Yesus berkata para murid akan menerima kuasa ketika Roh Kudus turun atas mereka dan mereka akan menjadi saksi "sampai ke ujung bumi."

Sesudah pesan itu diberikan, Yesus naik ke surga dari Bukit Zaitun.

Peristiwa itu memiliki makna besar bagi gereja mula-mula karena para murid hidup dalam situasi yang penuh tekanan. Penyaliban sebelumnya membuat mereka gundah, tercerai-berai. Banyak yang takut bernasib sama seperti gurunya. Kebangkitan memang memulihkan keyakinan mereka, tetapi kenaikan memberi arah baru: tugas penyebaran ajaran kini berpindah kepada para rasul.

Karena itu, kenaikan sering dipahami sebagai fase transisi kepemimpinan spiritual.

Selama pelayanan-Nya di Galilea dan Yudea, para murid bergantung langsung kepada Yesus. Mereka melihat mukjizat, mendengar pengajaran, lalu mengikuti-Nya dari kota ke kota. Setelah kenaikan, pola itu berakhir. Gereja mula-mula bergerak tanpa kehadiran fisik Yesus.

Dari sisi teologi Kristen, kenaikan juga dipahami sebagai kembalinya Yesus kepada Bapa setelah menyelesaikan tugas penebusan manusia. Injil Yohanes beberapa kali mencatat ucapan Yesus, Ia datang dari Bapa dan akan kembali kepada Bapa.

Karena itu, kenaikan dipandang sebagai penutup dari fase "inkarnasi" di bumi.

Ada pula alasan lain yang penting dalam tradisi gereja perdana kehadiran Roh Kudus.

Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata bahwa kepergian-Nya diperlukan agar "Penolong" datang kepada para murid. Yang dimaksud adalah Roh Kudus, yang kemudian turun pada hari Pentakosta.

Kalender gereja kemudian membentuk satu rangkaian besar:

Rangkaian ini menjadi fondasi penting dalam sejarah Kekristenan awal.

Pentakosta sendiri terjadi 50 hari setelah Paskah. Kisah Para Rasul mencatat para murid berkumpul di Yerusalem ketika terdengar bunyi seperti tiupan angin keras. Lidah-lidah api tampak hinggap di atas mereka. Setelah peristiwa itu, para rasul mulai berkhotbah secara terbuka.

Perubahan para murid terlihat sangat tajam dalam catatan Perjanjian Baru. Sebelum kebangkitan, mereka digambarkan takut dan bersembunyi. Setelah Pentakosta, mereka bergerak keluar Yerusalem dan mulai menyebarkan Injil ke wilayah Romawi dan ke berbagai penjuru wilayah. Karena itulah, dalam catatan-catatan Gereja, khususnya Gereja Katolik, kehidupan Para Rasul pertama hingga akhir hayat tidak berkumpul satu di Yerusalem. Tapi tersebar, bahkan sampai ke Asia. 

Dari peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga, menandai misi Yesus secara fisik di dunia dianggap selesai, sementara karya penyebaran ajaran diteruskan oleh 12 murid-murid Yesus (Kisah Para Rasul 1:24-26, Matias ditunjuk masuk dalam kawanan Para Rasul Pertama, sehingga jumlahnya tetap 12 meski Yudas Iskariot meninggalkan-mengkhianati Yesus).

Dan, setelah Kenaikan Yesus ke surga, dilanjutkan peristiwa turunnya Roh Kudus atas Para Rasul menjadi cikal-bakal lahirnya Gereja, melanjutkan misi ajaran Yesus Kristus. 

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |