Menkes BGS Blak-blakan Kasus Hipertensi dan TBC Warga RI Masih Tinggi

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kasus hipertensi dan tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih tergolong tinggi. Meski temuan penyakit meningkat seiring meluasnya skrining kesehatan, pengobatan hingga tuntas dinilai belum berjalan optimal.

"Masalah kita sekarang bukan hanya menemukan penyakitnya, tapi memastikan pengobatannya berjalan dan terkendali. Hipertensi ini kalau dibiarkan tiga sampai lima tahun bisa berujung stroke atau serangan jantung, padahal kalau diobati rutin, kualitas hidupnya bisa jauh lebih baik dan biayanya jauh lebih murah," kata BGS, sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin, dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Ia menjelaskan, dari jutaan masyarakat yang terdeteksi hipertensi, jumlah pasien yang benar-benar masuk kategori terkendali masih relatif kecil. Padahal, kata BGS, pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol disebut dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 30%-50%.

Sementara untuk tuberkulosis, Budi menegaskan peningkatan jumlah kasus yang ditemukan justru mencerminkan perbaikan skrining. "Ini penyakit menular, obatnya ada dan sangat ampuh. Tapi selama ini banyak yang tidak terdeteksi karena orang malu. Sekarang kita kejar supaya ketahuan lebih banyak dan diobati lebih banyak," ujarnya.

Menurut BGS, sekitar 93 persen pasien TBC yang terdeteksi saat ini sudah menjalani pengobatan. Pemerintah pun terus mendorong skrining agresif melalui puskesmas, termasuk pemeriksaan kontak erat, agar rantai penularan bisa diputus.

Sementara itu Komisi IX DPR RI menilai perlu ada penguatan layanan kesehatan primer agar hasil skrining benar-benar berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Dalam rapat tersebut, salah satu anggota Komisi IX Irma Chaniago dan beberapa anggota lainnya menekankan pentingnya tindak lanjut pengobatan, sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan usia harapan hidup dan usia hidup sehat masyarakat Indonesia.

Pemerintah menargetkan peningkatan usia harapan hidup nasional dari 72 tahun menjadi 76 tahun, serta menaikkan rata-rata usia hidup sehat dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Target tersebut dinilai hanya bisa tercapai jika penyakit kronis seperti hipertensi dan tuberkulosis tidak berhenti pada tahap deteksi, tetapi diikuti pengobatan rutin dan berkelanjutan di layanan primer.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |