Trump Susun Pasukan Darat Lawan Iran, Kelompok Kurdi Jadi Ujung Tombak

8 hours ago 6
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok oposisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak utara sedang mempersiapkan operasi militer lintas batas ke Iran. Ini dilakukan setelah munculnya laporan Amerika Serikat yang dilaporkan telah meminta etnis Kurdi Irak untuk memberikan dukungan terhadap aksi tersebut.

Kelompok-kelompok Kurdi ini dikenal sebagai segmen oposisi Iran yang paling terorganisir dengan ribuan pejuang terlatih, di mana keterlibatan mereka dapat menjadi tantangan besar bagi otoritas Teheran dan berisiko menyeret Irak lebih dalam ke dalam konflik.

Khalil Nadiri, seorang pejabat dari Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) yang berbasis di wilayah otonom Kurdi Irak utara, menyatakan pada Rabu bahwa sebagian dari kekuatan militer mereka telah dimobilisasi ke area dekat perbatasan Iran di provinsi Sulaymaniyah. Pasukan tersebut kini dalam posisi siaga untuk menunggu instruksi selanjutnya.

"Beberapa pasukan kami telah bergerak ke daerah-daerah dekat perbatasan Iran di provinsi Sulaymaniyah dan sedang dalam posisi siaga," kata Khalil Nadiri, dilansir The Associated Press, Kamis (5/3/2026).

Nadiri menambahkan bahwa para pemimpin kelompok oposisi Kurdi telah menjalin komunikasi dengan pejabat Amerika Serikat mengenai rencana operasi tersebut. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai detail teknis dari pembicaraan yang dilakukan.

"Para pemimpin kelompok oposisi Kurdi telah dihubungi oleh pejabat AS mengenai potensi operasi tersebut," tutur Nadiri.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan tanggapan terkait laporan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mempersenjatai kelompok Kurdi Iran. Hegseth menyatakan bahwa tujuan AS tidak serta-merta bertumpu pada dukungan terhadap kekuatan militer tertentu.

"Tidak ada satu pun tujuan kami yang didasarkan pada dukungan atau mempersenjatai kekuatan tertentu. Jadi, apa yang mungkin dilakukan entitas lain, kami menyadarinya, tetapi tujuan kami tidak berpusat pada hal itu," ujar Pete Hegseth kepada wartawan pada Rabu.

Persiapan Invasi Darat

Jika kelompok Kurdi Iran dan Irak benar-benar terjun ke dalam peperangan, hal ini akan menjadi masuknya kekuatan darat besar pertama ke dalam medan tempur. Kelompok Kurdi ini memiliki pengalaman tempur yang luas, termasuk saat melawan kelompok ekstremis ISIS di masa lalu.

Seorang pejabat dari Komala, kelompok oposisi Kurdi Iran lainnya, menyatakan bahwa pasukan mereka siap untuk menyeberangi perbatasan dalam waktu dekat. Mereka hanya menunggu kondisi di lapangan dianggap sudah memadai untuk memulai pergerakan.

"Pasukan kami siap menyeberangi perbatasan dalam waktu seminggu hingga 10 hari ke depan dan kami sedang menunggu keadaan menjadi sesuai," kata pejabat Komala tersebut yang berbicara dengan syarat anonim.

Meskipun memiliki tujuan yang sama untuk menggulingkan otoritas Teheran, kelompok-kelompok Kurdi ini sering berselisih dengan faksi oposisi lain, terutama kelompok yang dipimpin oleh putra mantan Shah Iran, Reza Pahlavi. Pahlavi menuduh kelompok Kurdi sebagai separatis yang bertujuan memecah belah wilayah Iran.

Tekanan Trump kepada Pemimpin Kurdi Irak

Rencana operasi ini menempatkan pemimpin wilayah Kurdi Irak dalam posisi sulit. Tiga pejabat Kurdi Irak mengungkapkan bahwa telah terjadi pembicaraan telepon pada Minggu malam antara Presiden AS Donald Trump dengan Masoud Barzani dan Bafel Talabani, pemimpin dua partai utama Kurdi di Irak, untuk membahas situasi di Iran.

Salah satu pejabat mengungkapkan bahwa dalam pembicaraan tersebut, Trump meminta agar Kurdi Irak memberikan dukungan militer kepada kelompok Kurdi Iran dan membuka akses perbatasan agar mereka dapat bergerak bebas secara lintas batas.

"Trump meminta orang-orang Kurdi Irak untuk mendukung secara militer kelompok-kelompok Kurdi Iran dalam operasi di Iran dan membuka perbatasan untuk memungkinkan kelompok Kurdi Iran bergerak bebas bolak-balik," ungkap pejabat tersebut.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membenarkan bahwa Trump telah berbicara dengan para pemimpin Kurdi. Namun, ia membantah bahwa Trump telah menyetujui rencana militer yang spesifik dalam pembicaraan tersebut.

"Dia memang berbicara dengan para pemimpin Kurdi sehubungan dengan pangkalan yang kita miliki di Irak utara," ujar Karoline Leavitt.

Sementara itu, pihak PUK mengonfirmasi pembicaraan antara Talabani dan Trump melalui sebuah pernyataan resmi. PUK menyatakan bahwa Trump memberikan visi mengenai tujuan AS, namun PUK tetap mendorong solusi melalui negosiasi.

"Presiden Trump memberikan klarifikasi dan visi mengenai tujuan AS dalam perang tersebut. PUK percaya bahwa solusi terbaik adalah kembali ke meja perundingan," tulis pernyataan resmi PUK.

Respons Keamanan Irak dan Iran

Kehadiran kelompok bersenjata Kurdi Iran di Irak utara telah lama menjadi titik gesekan antara Baghdad dan Teheran. Pada tahun 2023, Irak dan Iran mencapai kesepakatan untuk melucuti senjata kelompok-kelompok tersebut dan memindahkan mereka ke kamp-kamp khusus yang jauh dari perbatasan.

Penasihat Keamanan Nasional Irak, Qassim Al Araji, menyatakan melalui media sosial X bahwa pihak Iran telah meminta Irak untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna membendung infiltrasi kelompok oposisi di perbatasan kedua negara.

"Ali Bagheri meminta agar Irak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kelompok oposisi menyusup ke perbatasan antara kedua negara," kata Qassim Al Araji.

Al Araji menegaskan komitmen Irak untuk menjaga keamanan wilayah perbatasan dari segala bentuk tindakan teroris atau penyusupan lintas batas. Ia juga mencatat bahwa penguatan keamanan telah dikirim ke wilayah perbatasan tersebut.

"Irak berkomitmen untuk mencegah kelompok mana pun menyusup atau melintasi perbatasan Iran atau melakukan tindakan teroris dari wilayah Irak," tegas Qassim Al Araji.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |