Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Iran kembali meningkat. Ini menyusul gelombang protes akibat krisis ekonomi yang memburuk.
Aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi di Teheran. Sementara pimpinan militer Iran memperingatkan akan merespons keras tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat (AS) serta Israel.
Dikutip Kamis (8/1/2025), media Iran melaporkan, gas air mata yang ditembakkan aparat saat bentrokan antara demonstran dan polisi di pusat Teheran Selasa malam sempat melayang ke arah Rumah Sakit Sina. Namun, otoritas menegaskan rumah sakit tersebut tidak menjadi sasaran langsung.
"Untuk membubarkan kerumunan, gas air mata digunakan di gang yang berdekatan dengan Rumah Sakit Sina," ujar Universitas Ilmu Kedokteran Teheran dalam pernyataan yang dikutip kantor berita ISNA.
Universitas tersebut menambahkan bahwa "reaksi alami para demonstran adalah menjauhkan gas dari lokasi berkumpul". Sehingga, sebagian zat itu secara tidak sengaja melayang ke arah rumah sakit.
Pernyataan itu juga membantah tudingan bahwa gas air mata sengaja ditembakkan ke fasilitas kesehatan tersebut. Rumah Sakit Sina diketahui berjarak sekitar dua kilometer dari Grand Bazaar Teheran, pusat aktivitas ekonomi yang menjadi salah satu titik bentrokan pada hari yang sama.
Protes terbaru ini dipicu kemarahan publik atas melonjaknya biaya hidup, di tengah melemahnya nilai tukar rial Iran yang kembali menyentuh titik terendah terhadap mata uang asing. Aksi unjuk rasa bermula pada 28 Desember dengan penutupan toko oleh para pedagang di Teheran, lalu meluas ke wilayah lain, terutama kawasan barat yang banyak dihuni minoritas Kurdi dan Lor.
Meski belum mencapai skala demonstrasi nasional 2022-2023 yang dipicu kematian Mahsa Amini, atau gelombang protes besar pasca pemilu 2009, situasi ini dinilai menjadi tantangan baru bagi kepemimpinan Iran. Tekanan kian berat karena krisis ekonomi yang berkepanjangan dan dampak konflik 12 hari dengan Israel pada Juni lalu.
Di sisi lain, tensi politik eksternal turut memanas. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Amir Hatami, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman dari luar negeri.
"Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa menanggapi," kata Hatami, dikutip kantor berita Fars.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan campur tangan jika demonstran di Iran terbunuh, serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap protes anti-pemerintah.
(sef/luc)
[Gambas:Video CNBC]




























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











