NASA Buka-Bukaan Tanda Kiamat, Wilayah RI Dalam Bahaya Besar

5 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memberikan peringatan keras terkait ancaman kiamat bagi wilayah pesisir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Fenomena kenaikan permukaan air laut global dilaporkan terus mengalami percepatan yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data satelit terbaru yang dihimpun selama lebih dari 30 tahun, NASA mencatat rata-rata permukaan laut global telah naik sekitar 9,4 sentimeter sejak tahun 1993. Namun, yang menjadi sorotan adalah laju kenaikannya yang kini melonjak dua kali lipat lebih cepat.

Jika pada tahun 1993 air laut hanya naik sekitar 0,18 sentimeter per tahun, saat ini angkanya telah menyentuh 0,42 sentimeter per tahun.

"Laju percepatan ini berarti kita berada pada jalur yang akan menambah ketinggian air laut global sebesar 20 sentimeter lagi pada tahun 2050," ujar Direktur Tim Perubahan Permukaan Laut NASA, Nadya Vinogradova Shiffer, dalam keterangan resminya, dikutip dari situs resmi JPL NASA.

Efek El Nino dan Pemanasan Global

NASA menjelaskan bahwa lonjakan drastis dalam satu tahun terakhir tidak lepas dari fenomena El Nino yang kuat. El Nino menyebabkan curah hujan yang biasanya jatuh di daratan justru beralih ke laut, sehingga menambah volume air laut secara instan.

Namun, faktor utama yang menjadi "mesin" permanen kenaikan ini adalah pemanasan global yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca. Suhu bumi yang memanas menyebabkan es di kutub mencair dan memicu ekspansi termal, di mana air laut memuai saat suhunya meningkat.

Indonesia dalam Bahaya Besar

Kabar ini menjadi alarm bahaya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Sejumlah kota besar di Indonesia yang berada di dataran rendah, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya, diprediksi akan menerima dampak paling parah.

Kenaikan permukaan laut sebesar 20 sentimeter pada 2050 bukan angka yang kecil bagi wilayah pesisir Indonesia yang juga mengalami fenomena penurunan muka tanah (land subsidence). Kombinasi antara naiknya air laut dan amblesnya tanah akan mempercepat hilangnya wilayah daratan, merusak infrastruktur vital, hingga mengancam keberlangsungan ekonomi warga di pesisir.

Para ahli memperingatkan jika tidak ada langkah mitigasi ekstrem untuk menekan laju emisi dan memperbaiki tata kelola air tanah, skenario terburuk mengenai hilangnya sejumlah pulau kecil dan tenggelamnya wilayah pesisir RI bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan semula.

10 Kota Dunia Terancam Tenggelam

Dalam sebuah penelitian, NASA menemukan peningkatan ketinggian air laut pada 2100 mendatang. Setidaknya ada 10 kota besar di dunia yang berisiko tenggelam, termasuk Jakarta.

Peningkatan itu diperkirakan 3-6 kaki (91,4 cm 182,88 cm). Alasannya karena perubahan iklim yang menyebabkan es di kutub meleleh.

Saat ini, risiko itu sudah mulai terlihat. Salah satunya fenomena banjir yang sering terjadi, misalnya pada beberapa Jabodetabek dan Jawa selama beberapa tahun terakhir.

Selain wilayah Jakarta di Indonesia, berikut 10 kota yang dinilai terancam tenggelam, dikutip dari laporan Sciencing

Alexandria, Mesir

Kota terbesar kedua di Mesir ini menjadi tempat perdagangan transbenua, terutama pengapalan minyak. Salah satunya untuk terminal pipa SUMED, antara Laut Merah dan Mediterania yang digunakan untuk mengirim minyak mentah dan gas alam dari Jazirah Arab ke Eropa.

Namun dampak negatif menghantui Alexandria karena penggunaan bahan bakar fosil tersebut. Masyarakat setempat menghadapi mencairnya es gletser, bahkan perkiraan panel iklim PBB, sebanyak 30% kota tersebut dapat terendam air pada tahun 2050 yang membuat 1,5 juta orang mengungsi.

Bahkan banjir juga bisa meluas hingga sebagian besar Delta Nil. Risiko ini dapat menghancurkan salah satu tempat lahirnya peradaban.

Miami, Florida

Lebih dari setengah area Miami-Dade County hanya berada pada ketinggian 6 kaki di atas air laut. Setidaknya 60% wilayah berisiko tenggelam pada 2060 mendatang.

Parahnya, banyak dibangun sejumlah gedung mewah di area pesisir. Bahkan dalam skenario terburuknya, Miami yang tenggelam bisa menjadi bencana alam terburuk sepanjang sejarah dari segi kerusakan ekonomi.

Lagos, Nigeria

Kota terbesar di Afrika juga kerap dilanda banjir pada musim panas. Level tenggelam Lagos mencapai lebih dari 3 inci per tahun.

Dhaka, Bangladesh

PBB telah memasukkan Bangladesh sebagai salah satu dari 10 negara yang terdampak bencana alam. Bahkan Dhaka dinyatakan telah tenggelam setengah inci per tahun.

Kondisi negara itu terus parah karena adanya perubahan iklim, frekuensi dan intensitas banjir yang terus mengkhawatirkan.

Yangon, Myanmar

Yangon juga sering dilanda banjir. Wilayah itu juga terancam karena letaknya dekat dengan Sesar Sagaing, yang bisa membuat sumur air tanah runtuh dan menenggelamkan sebagian besar kota saat adanya gempa bumi besar.

Bangkok, Thailand

Peningkatan air laut terus menerus membuat Bangkok telah kehilangan wilayahnya. Bahkan garis pantainya terus menanjak lebih dalam, sekitar lebih dari 1 km per tahun.

Diperkirakan mayoritas kota akan lenyap dalam satu abad mendatang.

Kolkata, India

Kolkata juga terancam tenggelam karena peningkatan air laut. Masalah lainnya adalah adanya ekstraksi air yanah berlebihan.

Setidaknya lebih dari 10 juta orang terancam mengungsi jika Kolkata terus menerus dilanda banjir.

Manila, Filipina

Manila tercatat terus 'tenggelam' sekitar 4 inci per tahun atau lebih tinggi dari kenaikan level air laut global per tahun. Kota itu juga menghadapi masalah kerusakan hutan mangrove yang harusnya menjadi penghadang erosi di sepanjang Manila Bay.

Tercatat 130 ribu hektar hutan mangrove di wilayah itu telah ditebang sejak memasuki abad ke-20.

Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau

Wilayah ini terkonsentrasi di antara Pearl River Data dan Laut China Selatan. Diperkirakan Pearl River Delta memiliki kenaikan air laut setinggi 5 kaki pada 100 tahun mendatang.

Dengan level tersebut, area ini sangat berisiko tinggi tenggelam di masa depan.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |