Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
20 September 2026 13:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagian besar orang mungkin membenci matematika karena sifat pelajarannya yang tidak mudah untuk dipahami dengan cepat. Matematika juga banyak dianggap membosankan karena cara penyajiannya di kelas sering kali difokuskan pada hafalan rumus, bukan pada pemahaman logika.
Namun, tak sedikit menganggap matematika menyenangkan, jika pendekatannya menggunakan kontekstual, interaktif, dan berbasis permainan.
Kali ini, pembahasan matematika bukan terkait seberapa menyenangkan untuk lebih paham, tetapi membahas beberapa negara yang justru penduduknya sudah mahir dalam matematika.
Pisa (Programme for International Student Assessment/Program untuk Ujian Siswa Internasional), sebuah sistem peringkat dalam standar edukasi 15 tahun yang diperkenalkan Organisasi untuk Pengembangan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD), kembali merilis Kemampuan matematika generasi muda dunia pada 2025.
PISA menilai kemampuan siswa dalam matematika, membaca, dan sains. Penilaian matematikanya melampaui sekadar menghafal rumus atau prosedur, mengukur apakah siswa dapat menerapkan pengetahuan dan penalaran matematika pada masalah dunia nyata.
Lebih dari 760.000 siswa berpartisipasi dalam PISA 2025 di 91 negara dan wilayah ekonomi, yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di seluruh dunia.
China mewakili yurisdiksi yang berpartisipasi yaitu Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang.
Berikut 15 negara dengan penduduk yang sudah mahir dalam matematika, terutama di generasi muda.
China unggul 49 poin dari Singapura, sementara Makau dan Taiwan berada di peringkat ketiga dan keempat dengan skor masing-masing 549 dan 546.
Jepang berada di peringkat kelima dengan 525 poin, sementara Korea Selatan dan Hong Kong sama-sama memperoleh 522 poin.
Estonia memecah dominasi sistem pendidikan Asia Timur di peringkat teratas, menempati peringkat kedelapan secara global dengan skor 508 dan menempati peringkat tertinggi di antara negara-negara Eropa.
PISA juga menemukan hubungan antara penggunaan hiburan digital yang berlebihan dan hasil belajar siswa. Siswa yang menghabiskan lebih dari empat jam sehari untuk aktivitas hiburan digital di luar sekolah cenderung memiliki nilai matematika yang lebih rendah dan rasa kebersamaan yang lebih lemah.
Sebaliknya, penggunaan digital moderat dikaitkan dengan hasil yang lebih baik pada kedua ukuran tersebut dibandingkan dengan tidak menggunakan atau menggunakan secara sangat tinggi.
Dalam ekonomi hari ini, matematika berfungsi seperti bahan baku. Perusahaan teknologi, laboratorium AI, hingga bank investasi membutuhkan pekerja yang nyaman dengan data dan model numerik. Negara yang gagal membangun kemampuan ini sejak sekolah akan menghadapi tembok saat ingin naik kelas ke industri bernilai tambah tinggi.
Tidak munculnya negara dari Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin di papan atas menunjukkan masalah yang sudah lama. Lemahnya numerasi dasar membuat wilayah-wilayah ini tertinggal dalam teknologi dan produktivitas. Ketergantungan pada impor teknologi lalu menjadi sulit dihindari.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)