Normal Baru Ketidakteraturan Global

2 hours ago 1

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Tahun 2026 menyapa kita dengan kabut tebal yang semakin pekat. Dunia tak lagi berjalan di atas rel aturan yang kokoh. Ia rentan (fragile), retak, dan bergetar di bawah beban polycrisis (krisis berlapis) yang saling bertabrakan.

Laporan Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum menyebutnya "age of competition" (zaman persaingan). Era ketika multilateralisme layu, kepercayaan runtuh, dan tatanan multipolar yang diperebutkan mulai menampakkan masing-masing taringnya.

Geoeconomic confrontation (konfrontasi geoeconomi) kini menjadi ancaman nomor satu. Tarif impor yang melonjak, embargo teknologi, dan perebutan sumber daya telah memecah ekonomi dunia menjadi kubu-kubu yang saling menginjak.

Perang dagang AS-China bukan lagi dingin. Ia panas, mendidih, menyengat rantai pasok global, dan membuat negara-negara berkembang seperti Indonesia terjepit di antara dua raksasa yang tak kenal kompromi.

Di Ukraina, perang yang dimulai dari tahun 2022 kini memasuki tahun kelima. Bukan lagi konflik regional, melainkan ujian bagi seluruh tatanan Eropa. Rusia terus menggerogoti wilayah dengan taktik hibrida. Serangan siber, propaganda, dan artileri bahkan menyentuh infrastruktur NATO di Polandia Timur.

Di belahan yang lain, Gaza tetap menjadi neraka yang tak pernah padam. Setelah gencatan senjata tahun lalu, pertempuran meletus kembali akhir tahun 2025. Krisis kemanusiaan membengkak. Jutaan pengungsi, blokade bantuan, dan risiko perang regional yang melibatkan Arab Saudi dan Qatar.

Dukungan AS yang tak tergoyahkan kepada Israel seolah lupa bahwa impunitas ini hanya memperkuat narasi anti-Barat di seluruh Global South. Dari sisi ini, Gaza bukanlah akhir. Ia adalah katalisator gelombang baru.

Mari bergerak ke Taiwan. Latihan militer China pada Januari 2026 ini, lengkap dengan blokade simulasi, adalah sinyal jelas bahwa reunifikasi paksa bukan lagi sekadar omong kosong semata.

AS merespons dengan pengiriman armada ke Indo-Pasifik, tapi di bawah pemerintahan Trump yang kembali berkuasa, langkah itu terasa seperti bluf. Jika invasi benar-benar terjadi, dampaknya akan seperti gempa bumi global. Rantai pasok teknologi lumpuh, pasar saham ambruk, dan risiko eskalasi nuklir mengintai.

Venezuela menjadi contoh paling telanjang bagaimana hukum rimba Internasional bekerja. AS melancarkan operasi militer yang menggulingkan Presiden Nicholas Maduro. Drone strikes, dukungan oposisi, tuduhan narkotika, dan dalih melindungi demokrasi.

Ini bukan heroik. Ini neo-imperialisme yang menyamarkan minat atas minyak Venezuela. Washington sedang membuka kotak Pandora. Jika berhasil tanpa konsekuensi, Rusia atau China akan merasa berhak melakukan hal serupa di lapak mereka sendiri.

Di panggung internasional, tak ada raja, tak ada polisi, tak ada hakim agung. Hanya anarchy (anarki), ruang kosong yang dingin, di mana setiap negara harus menjaga nyawanya sendiri melalui self-help (penyelamatan diri).

Thucydides sudah meramalkannya ribuan tahun silam: "The strong do what they can and the weak suffer what they must." Yang kuat berlaku semaunya dan yang lemah menderita apa yang harus ia derita.

Vegetius tak kalah tajam: "Si vis pacem, para bellum". Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang. Pun demikian Machiavelli: "It is better to be feared than loved, if you cannot be both." Kalau kamu tidak mampu menjadi yang dicintai sekaligus ditakuti, maka jadilah yang ditakuti.

Politik Internasional adalah law of the jungle (hukum rimba). Negara-negara besar membagi dunia seperti singa membagi bangkai. Amerika Serikat menancapkan kukunya di belahan bumi Barat (western hamisphere).

China mengukir hegemoni di Asia Timur melalui Belt and Road Initiative, jaring laba-laba yang menjerat negara miskin dengan varian kesepakatan. Rusia mempertahankan Eropa Timur dengan segenap asa. Sementara Iran membangun "axis of resistance" di Timur Tengah.

Tahun 2026 adalah normal baru. Dari mimpi rules-based order (tatanan berbasis aturan), kita terjatuh ke dalam realitas persaingan tanpa ampun, fragmentasi tanpa akhir, dan kekuasaan yang tak lagi malu menampakkan wajah paling telanjang.

Realisme tak menawarkan harapan manis. Ia hanya menampilkan watak dunia yang apa adanya. Asumsi dasar Realisme yang mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya jahat (guilty), rakus (greedy), dan tends to conflict, menemukan relevansinya hari ini.


(miq/miq)

Read Entire Article
| | | |