OPEC+ Siap Kerek Produksi Minyak, Harga Bakal Turun?

6 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya atau OPEC+ disebut telah menyepakati secara prinsip untuk kembali menaikkan target produksi minyak pada Juni. Namun, langkah ini diperkirakan belum berdampak nyata selama konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran masih mengganggu pasokan dari kawasan Teluk.

Mengutip laporan Reuters, dua sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebutkan, tujuh negara anggota OPEC+ sepakat menaikkan produksi sekitar 188.000 barel per hari. Ini menjadi kenaikan bulanan ketiga secara berturut-turut.

"Tujuh negara telah menyetujui secara prinsip untuk menaikkan target produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari pada bulan Juni," kata sumber tersebut, dikutip Minggu (3/5/2026).

Adapun tujuh negara yang terlibat dalam keputusan ini adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) resmi keluar dari kelompok pada awal Mei, membuat OPEC+ kini beranggotakan 21 negara.

Meski ada tambahan kuota, realisasi peningkatan produksi ini diperkirakan masih terbatas. Hal ini lantaran jalur vital Selat Hormuz, yang sebelumnya menangani hampir 20% pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global, masih terdampak konflik.

Sumber tersebut menegaskan, kenaikan produksi saat ini lebih bersifat simbolis hingga distribusi energi kembali normal. "Peningkatan ini akan tetap di atas kertas sampai Selat Hormuz dibuka kembali dan pasokan dari Teluk kembali lancar," ujarnya.

Sejumlah pelaku industri energi juga memperkirakan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum arus pengiriman minyak benar-benar pulih, bahkan setelah jalur tersebut kembali dibuka.

Di tengah gangguan pasokan ini, harga minyak dunia melonjak tajam. Pekan ini, harga sempat menembus US$125 per barel atau sekitar Rp2,12 juta (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS), level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Lonjakan harga ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis energi, termasuk kekurangan bahan bakar jet dalam satu hingga dua bulan ke depan serta tekanan inflasi global.

Kendati demikian, keputusan OPEC+ untuk tetap menaikkan target produksi menunjukkan pendekatan "business as usual" di tengah ketidakpastian geopolitik.

"Keputusan ini menandakan bahwa OPEC+ siap meningkatkan pasokan setelah perang berakhir," kata sumber lainnya.

Sebagai gambaran, produksi minyak mentah OPEC+ tercatat rata-rata 35,06 juta barel per hari pada Maret. Angka ini turun 7,70 juta barel per hari dibandingkan Februari, terutama akibat penurunan produksi di Irak dan Arab Saudi karena terbatasnya ekspor.

Di luar kawasan Teluk, Rusia juga mengalami penurunan produksi setelah infrastruktur energinya terdampak serangan pesawat tak berawak Ukraina.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |