Pelaku Pasar Harus Tahu, Bos OJK Kasih Wanti-Wanti Jangka Menengah

15 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar keuangan tengah mencermati tensi geopolitik yang kembali meningkat. Hal ini seiring dengan ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan bahwa dalam jangka pendek belum terlihat hal tersebut akan mengganggu pasar keuangan Indonesia. 

Sebagaimana diketahui eskalasi konflik antara AS dengan Venezuela memengaruhi produksi dan harga minyak hingga komoditas utama. Kendati demikian hal tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap ekspor utama Indonesia. 

"Singkatnya dalam jangka pendek belum terlihat dan terasa secara langsung dalam jangka menegah harus kita waspadai terus," katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Desember 2025, Jumat (9/1/2026).

Mahendra melanjutkan bahwa risiko geopolitik menyebabkan ketidakpastian tinggi pada proses pertumbuhan dan stabilitas ekonomi global. Hal ini kemudian dipersulit oleh fakta bahwa pelanggaran kedaulatan wilayah suatu negara oleh negara tidak mendapatkan sanksi yang setimpal. "Setelah Ukraina oleh Rusia, Palestina atau Gaza oleh Israel, kini Venezuela oleh AS. Tentu preseden-preseden ini menimbulkan kekhawatiran ke depan akan hal-hal serupa," katanya.

Terkait hal tersebut, lanjut Mahendra, pelaku pasar perlu mencermati ketidakpastian stabilitas global. "Dan ini kami tentu meminta semua lembaga jasa keuangan untuk mencermati dan melakukan pemantauan intensif terhadap risiko-risiko ini," katanya. 

Mahendra menambahkan tanpa ada eskalasi geopolitik, lembaga-lembaga dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 tidak mencapai 3%. "Yang adalah berarti tingkat pertumbuhan terendah pasca pandemi covid," katanya.

Sementara itu, peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan saat acara Media Briefing: "Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik" mengatakan bahwa serangan AS ke Venezuela menciptakan instabilitas geopolitik dunia.

Ketegangan geopolitik yang baru ini semakin memperbanyak katalis negatif untuk pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026. Katalis lain diungkap Deni seperti tekanan public debt besar Amerika Serikat, tarif resiprokal yang diterapkan Trump, larangan ekspor rare earth oleh China, larangan ekspor chip maker di Eropa, dan Inggris serta Jerman yang menghadapi tekanan fiskal.

"Jadi, semua itu berimplikasi bahwa perekonomian dunia, pertumbuhan di tahun 2026 akan sangat gloomy, akan lebih slowdown," tegas Deni.

Dalam proyeksi terbaru, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026 di edisi Oktober. Sementara Bank Dunia dan OECD memperkirakan pertumbuhan ekonmi dunia akan di bawah ramalan IMF, yakni 2,4% dan 2,9%.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |